Arkeolog Temukan Vila Mewah Berusia 2.700 Tahun dengan 127 Kamar, Besarnya Dua Kali Gedung Putih
Arkeolog menemukan vila ini menggunakan magnetometer, yang bisa mendeteksi struktur kuno di bawah tanah.
Para arkeolog di Irak utara menemukan vila mewah berusia 2.700 tahun saat melakukan survei magnetik ekstensif di Khorsabad, yang pernah menjadi ibu kota kuno Asyur. Vila ini disebut dua kali lebih besar dari Gedung Putih Amerika Serikat.
Dikutip dari Arkeonews, Kamis (26/12), vila ini memiliki 127 kamar, taman kerajaan, pintu air kota dan lima bangunan besar yang mungkin digunakan untuk berbagai keperluan.
Situs ini awalnya didirikan sebagai Dur-Sharrukin, atau “Benteng Sargon,” oleh Kaisar Neo-Asyur Sargon II pada tahun 713 SM. Kaisar Neo-Asyur Sargon II mulai membangun ibu kota baru, yang dinamai sesuai namanya sendiri, di gurun yang sekarang disebut Irak.
Sargon II meninggal beberapa tahun setelah proyek pembangunan dimulai di Dur-Sharrukin, yang sekarang disebut Khorsabad. Putranya dengan cepat mendirikan ibu kotanya sendiri di kota Niniwe, dan selama 2.500 tahun berikutnya, proyek pembangunan Sargon II sebagian besar terlupakan. Pada tahun 1800-an, para arkeolog Perancis menemukan kembali situs tersebut.
Penggalian istana Sargon menemukan harta karun seni dan budaya Neo-Asyur, namun tim yang menggali di tempat lain di kota itu tidak mendapatkan hasil. Para arkeolog menyimpulkan bahwa istana tersebut adalah satu-satunya bangunan yang dibangun di dalam tembok kota Khorsabad, yang mencakup area seluas lebih dari 1,7 x 1,7 kilometer persegi.
Pada 2017, Misi Arkeologi Prancis di Khorasabad memutuskan untuk meluncurkan proyek baru untuk mengevaluasi kerusakan di atas tanah dan melakukan survei geofisika pertama terhadap sisa-sisa yang terkubur di situs tersebut setelah pendudukan teroris ISIS di Khorasabad resmi berakhir. Survei ini diharapkan dapat mengungkap infrastruktur air kota, memberikan wawasan baru mengenai tembok benteng, dan bahkan mungkin mengungkap tanda-tanda baru adanya pemukiman di luar istana.
Terkubur di Bawah Tanah
Para arkeolog melakukan survei ini dalam kondisi yang sangat sulit, karena situs ini terkubur jauh di bawah tanah. Menurut siaran pers American Geophysical Union (AGU), para arkeolog menggunakan magnetometer, perangkat yang mendeteksi struktur terkubur dengan memetakan perubahan halus di medan magnet bumi. Alat ini biasanya digunakan para arkeolog untuk menemukan struktur tersembunyi yang pernah ada dan hilang selama berabad-abad.
Jörg Fassbinder, ahli geofisika dari Universitas Ludwig-Maximilians di Munich dan penulis utama studi tersebut, mempresentasikan hasil penelitian ini pada Pertemuan Tahunan AGU 2024.
“Setiap hari kami menemukan sesuatu yang baru… semua ini ditemukan tanpa penggalian. Penggalian sangat mahal, sehingga para arkeolog ingin mengetahui secara detail apa yang dapat mereka capai dengan menggali. Survei ini menghemat waktu dan uang. Ini adalah alat yang diperlukan sebelum memulai penggalian apa pun,” papar Fassbinder.
Ketika data divisualisasikan sebagai gambar skala abu-abu, garis-garis halus muncul dari struktur sedalam 2-3 meter di bawah tanah. Data tersebut mengungkapkan lokasi gerbang air kota, kemungkinan taman istana, dan lima bangunan besar, termasuk vila dengan 127 kamar yang berukuran dua kali Gedung Putih AS. Penemuan-penemuan ini dan lainnya merupakan bukti bahwa, setidaknya untuk beberapa waktu, Khorsabad adalah kota yang hidup.
Penemuan Fassbinder mengungkap lanskap perkotaan yang ramai yang membentang di luar tembok istana, menunjukkan ibu kota yang dinamis dan penuh dengan aktivitas.