Arkeolog menemuan sebuah kota bawah tanah yang luar biasa di bawah lima rumah bersejarah di Kota Kuno Abarkuh, Provinsi Yazd, Iran.
Abarkuh terleteak sekitar 140 kilometer di barat daya Yazd. Kota ini memiliki posisi historis dan budaya yang signifikan, terletak di dalam “segitiga emas” yang dibentuk oleh kota Shiraz, Yazd, dan Isfahan. Lokasi strategis ini menjadikan Abarkuh sebagai pemukiman penting sepanjang sejarah.
Dilansir Arkeonews, penyelidikan terhadap kota ini terus berlangsung, dengan potensi untuk menemukan lebih banyak struktur bawah tanah di seluruh wilayah bersejarah Abarkuh, termasuk saluran air baru yang terbuat dari batu ukir.
Struktur bawah tanah ini memberikan wawasan berharga tentang teknik konstruksi kuno, pengelolaan air, dan praktik kehidupan sehari-hari. Selain itu, temuan ini menekankan pentingnya penelitian lebih lanjut dan pelestarian warisan sejarah Abarkuh.
Hossein Hatami, gubernur Abarkuh, mengumumkan penemuan ini dalam sebuah wawancara, dengan menyebutkan "kota bawah tanah" ini kemungkinan dirancang untuk memudahkan akses, meningkatkan keamanan, memindahkan air, dan mendukung kehidupan sehari-hari. Berdasarkan foto udara lama dari Abarkuh dan investigasi selanjutnya, terlihat pada masa lalu, penduduk membangun rumah dan tempat-tempat penting mereka di atas fondasi batu.
Dalam wawancara eksklusif dengan IRNA, Hatami menjelaskan ruang-ruang di antara fondasi batu ini diubah menjadi taman oleh para leluhur. Mereka merancang jalur di bawah batu-batu ini untuk kemudahan akses, keamanan, transfer air, dan aktivitas kehidupan sehari-hari.
Hatami menekankan keberadaan ruang-ruang kecil dari batu di bawah rumah-rumah bersejarah Abarkuh menunjukkan pentingnya fungsi ini di masa lalu. Hal ini memotivasi penelitian dan penyelidikan yang akhirnya menghasilkan penemuan pemukiman bawah tanah.
Selain itu, sebuah saluran air batu yang dirancang dengan indah juga ditemukan. Saluran ini diyakini berperan penting dalam pengelolaan pasokan air kota. Hatami mencatat batu-batu yang digunakan untuk membangun saluran air ini mirip dengan yang ditemukan pada bangunan era Qajar di wilayah tersebut.
Hatami menambahkan, penduduk kuno Abarkuh membangun tangga di rumah-rumah mereka di sepanjang jalur terowongan ini untuk memfasilitasi akses ke jalur transfer air, memungkinkan mereka mengelola aliran air sekaligus memanfaatkan air qanat (sistem air bawah tanah tradisional).
Ia juga menjelaskan bagaimana air yang mengalir melalui lorong-lorong ini mendinginkan ruang bawah tanah, menciptakan tempat perlindungan yang sejuk selama bulan-bulan musim panas yang terik.
Seiring waktu, ruang-ruang yang lebih besar dengan ceruk-ceruk ditambahkan, yang kemungkinan digunakan sebagai tempat istirahat atau bahkan tempat tinggal musim panas bagi penduduk kota.
Advertisement
Lebih jauh, dikatakan kompleks bawah tanah ini juga berfungsi sebagai tempat persembunyian atau perlindungan selama masa perang atau invasi asing.
Hatami menuturkan, penyelidikan mengungkapkan sekitar 60 hektar dari total 170 hektar wilayah bersejarah Abarkuh didedikasikan untuk jalur-jalur ini.
Hingga saat ini, 400 situs bersejarah telah diidentifikasi di wilayah Abarkuh, di mana 147 di antaranya telah terdaftar sebagai situs warisan nasional. Di antara situs-situs tersebut, terdapat 129 situs budaya tak bergerak dan 12 situs warisan budaya takbenda.
Abarkuh, yang terkenal karena signifikansi sejarahnya dan keajaiban arsitekturnya—termasuk pohon cemara berusia 4.000 tahun yang ikonik—semakin memperkuat statusnya sebagai harta karun warisan Iran.
Penemuan kota bawah tanah ini tidak hanya memperkaya narasi budaya kota, tetapi juga menyoroti pentingnya Abarkuh dalam konteks sejarah Iran yang lebih luas.