Wow, Misi Dagang Jatim-Sulteng Tembus Rp1,54 Triliun! Ini Komoditas Unggulan yang Laris Manis
Misi Dagang Jatim-Sulteng sukses mencetak transaksi fantastis senilai Rp1,54 triliun, jauh melampaui target. Penasaran komoditas apa saja yang menjadi primadona dalam kerja sama antarprovinsi ini?
Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Jatim) dan Sulawesi Tengah (Sulteng) baru saja menorehkan capaian gemilang dalam misi dagang dan investasi. Total transaksi final yang berhasil dibukukan mencapai angka fantastis Rp1,54 triliun. Angka ini menunjukkan potensi ekonomi yang besar antara kedua wilayah.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengumumkan hasil membanggakan ini dalam keterangan resminya. Ia menyatakan bahwa pencapaian tersebut melampaui ekspektasi. Misi dagang ini menjadi bukti nyata tingginya minat pelaku usaha dari kedua provinsi untuk berkolaborasi.
Kegiatan ini merupakan pelaksanaan misi dagang kesembilan oleh Pemprov Jatim tahun ini, sekaligus yang ke-45 selama kepemimpinan Gubernur Khofifah. Inisiatif ini bertujuan untuk memperkuat sektor ekonomi dan perdagangan antarwilayah. Kerja sama ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah.
Capaian Transaksi Fantastis dan Komoditas Unggulan
Dari total transaksi Rp1,54 triliun, tercatat bahwa Jawa Timur berhasil menjual produk senilai Rp1,297 triliun. Sementara itu, Jatim melakukan pembelian dari Sulawesi Tengah senilai Rp245,09 miliar. Gubernur Khofifah menegaskan bahwa capaian ini merupakan titik awal untuk membangun penguatan bersama di semua sektor.
Berbagai komoditas unggulan dari Jawa Timur sangat diminati oleh pelaku usaha dari Sulawesi Tengah. Komoditas tersebut meliputi bahan bangunan, benih hortikultura, susu dan olahan daging, pakan ikan dan udang. Selain itu, mesin pengurai sabut kelapa, buah apel dan jeruk, serta tepung mocaf juga menjadi primadona.
Tidak hanya menjual, pelaku usaha Jatim juga aktif membeli komoditas unggulan dari Sulteng. Beberapa di antaranya adalah kopi arabika natura, kelapa bulat, ikan kembung, tuna, dan bandeng. Komoditas lain yang dibeli adalah kemiri dan rotan asalan, menunjukkan keragaman produk dari Sulawesi Tengah.
Data Perdagangan Antarwilayah 2022 menunjukkan total nilai perdagangan Jatim-Sulteng mencapai Rp4,693 triliun. Nilai ini terdiri atas nilai bongkar (beli dari Sulteng) Rp1,357 triliun dan nilai muat (jual ke Sulteng) Rp3,336 triliun. Jawa Timur mencatat surplus sebesar Rp1,978 triliun dalam perdagangan ini.
Membuka Peluang Kerja Sama dan Potensi Baru
Gubernur Khofifah menilai potensi kerja sama lanjutan antara kedua provinsi terbuka sangat luas. Hal ini terutama dapat diwujudkan melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS) antar perangkat daerah. Peluang ini akan memperkuat sinergi pembangunan di berbagai bidang.
Sebagai contoh, terdapat peluang besar dalam pengembangan Desa Devisa di Sulawesi Tengah. Selain itu, penguatan Perhutanan Sosial di Sulteng juga menjadi fokus kerja sama. Inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.
Potensi baru lainnya yang menonjol adalah pengembangan Durian Musang King asal Sulteng. Durian jenis ini telah berhasil menembus pasar ekspor, menunjukkan kualitas dan daya saingnya. Gubernur Khofifah menyatakan, "Sehingga sangat dimungkinkan bahwa melalui pertemuan ini kemudian membuka pintu perdagangan baru, dimana durian jenis Musang King dari Sulteng sangat potensial.”
Gubernur Khofifah juga berharap agar Sulawesi Tengah dapat melakukan misi dagang balasan ke Jawa Timur. Ia menekankan bahwa banyak potensi yang ditemukan dalam misi dagang ini. "Sehingga kerja sama antar dinas dan antar gubernur menjadi bagian penting untuk bisa kita tindak lanjuti bersama,” ujarnya.
Komitmen dan Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama
Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, menyampaikan optimisme tinggi atas kerja sama yang terjalin. Ia mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Khofifah atas inisiasi yang telah dilakukan. "Terima kasih kepada Ibu Gubernur Khofifah yang telah menginisiasi kerja sama ini sehingga disamping punya potensi, kita juga bisa berkembang lebih baik lagi,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, dilakukan penandatanganan PKS antara Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Jatim dan OPD Sulteng. Penandatanganan juga melibatkan antarlembaga seperti Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda), Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi), dan Forum Komunikasi Asosiasi Pengusaha (Forkas).
Beberapa transaksi terbesar tercatat dari kerja sama ini. Salah satunya antara Asosiasi Pelaku Usaha Peternakan Jatim dan Sulteng senilai Rp919 miliar per tahun. Transaksi ini meliputi komoditas susu, daging ayam, daging sapi, dan olahan daging.
Selain itu, kerja sama antara CV RUM Seafood dengan CV Andi Fitri Rezkiana mencatat transaksi Rp96,3 miliar per tahun. Transaksi ini berfokus pada komoditas ikan kembung, tuna, dan bandeng. Ini menunjukkan diversifikasi produk yang diperdagangkan.
Sumber: AntaraNews