Wamenko Pangan Dorong Percepatan Roadmap Kemandirian Susu Nasional, Targetkan Kurangi Impor
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq mendesak percepatan roadmap Kemandirian Susu Nasional. Upaya ini penting untuk mengurangi ketergantungan impor dan perkuat ketahanan pangan.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq mendorong percepatan penyusunan dan pelaksanaan roadmap kemandirian susu nasional. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat ketahanan pangan berbasis protein hewani di Indonesia.
Ditemui dalam Peringatan Hari Susu Nusantara 2026 di Jakarta, Minggu, Hanif menegaskan pentingnya integrasi roadmap dari hulu hingga hilir. Ia menekankan bahwa upaya kolektif ini wajib segera dilakukan untuk mencapai swasembada susu.
Hanif menjelaskan bahwa kebutuhan susu masyarakat Indonesia saat ini masih sangat didominasi oleh pasokan dari luar negeri. Oleh karena itu, langkah percepatan peningkatan produksi domestik sangat diperlukan demi menjaga stabilitas pangan nasional.
Tantangan Ketergantungan Impor Susu Nasional
Indonesia saat ini hanya mampu memproduksi susu di dalam negeri sekitar 1 juta ton per tahun, sementara kebutuhan nasional mencapai sekitar 4 juta ton per tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa hampir 80 persen kebutuhan susu nasional masih dipenuhi melalui impor.
Dominasi pasokan impor ini menimbulkan kekhawatiran terhadap ketahanan pangan nasional, khususnya di sektor persusuan. Penguatan produksi susu dalam negeri menjadi krusial tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga untuk menciptakan nilai tambah ekonomi bagi peternak lokal.
Ketergantungan yang tinggi pada impor juga berpotensi mengancam stabilitas harga dan ketersediaan susu di pasar domestik. Oleh karena itu, percepatan roadmap kemandirian susu nasional adalah langkah strategis untuk memitigasi risiko tersebut.
Strategi Percepatan Roadmap Kemandirian Susu Nasional
Pengembangan industri susu nasional membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, pelaku usaha, lembaga riset, dan masyarakat. Hanif Faisol Nurofiq menekankan pentingnya pendekatan terpadu ini untuk mencapai tujuan kemandirian.
Peran riset menjadi sangat penting untuk menghasilkan jenis sapi perah yang lebih adaptif terhadap kondisi iklim tropis Indonesia. Dengan demikian, produktivitas sapi perah dapat meningkat secara signifikan, mendukung target produksi susu nasional.
Pendekatan berbasis ilmu pengetahuan akan membantu menciptakan sistem peternakan yang lebih efisien dan berkelanjutan dalam jangka panjang. Inovasi dalam pakan, manajemen ternak, dan kesehatan hewan menjadi kunci utama.
Hilirisasi dan Ekosistem Persusuan Berkelanjutan
Selain penguatan produksi di sektor hulu, pemerintah juga mendorong hilirisasi industri susu guna meningkatkan daya saing produk dan memperbesar manfaat ekonomi. Hilirisasi ini mencakup pengolahan susu menjadi berbagai produk turunan yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Integrasi sektor hulu dan hilir dinilai sebagai kunci dalam membangun ekosistem persusuan nasional yang kuat dan mampu memenuhi kebutuhan domestik secara mandiri. Hal ini akan menciptakan rantai nilai yang lebih efisien dan menguntungkan bagi semua pihak.
Hanif optimistis bahwa percepatan roadmap kemandirian susu akan memperkuat ketahanan pangan nasional dan mendukung peningkatan kualitas gizi masyarakat Indonesia. Upaya ini diharapkan dapat menciptakan industri susu yang tangguh dan berdaya saing global.
Sumber: AntaraNews