BRIN Genjot Riset Sapi Unggul dan Pakan Ternak, Tekan Ketergantungan Impor Nasional
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) fokus pada riset sapi unggul dan pakan ternak untuk mengurangi ketergantungan impor hasil ternak dan susu, sekaligus mendorong peternakan berkelanjutan di Indonesia.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara aktif mengembangkan riset di bidang peternakan, khususnya untuk sapi unggul dan pakan ternak. Upaya ini bertujuan utama mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor hasil ternak dan produk susu dari luar negeri. Kegiatan riset strategis ini dilaksanakan di Kantor BRIN, Jakarta, pada Jumat lalu, menegaskan komitmen lembaga dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
Kepala BRIN, Arif Satria, menjelaskan bahwa fokus riset mencakup pengembangan sapi-sapi unggul melalui program breeding serta nutrisi optimal untuk pakan ternak. Inisiatif ini merupakan bagian dari program unggulan BRIN di sektor pangan, yang secara langsung menyentuh aspek peternakan. Langkah-langkah ini diharapkan mampu meningkatkan produksi dan produktivitas dalam negeri secara signifikan.
Dalam pelaksanaannya, BRIN tidak bekerja sendiri, melainkan menjalin kolaborasi erat dengan berbagai pihak. Kemitraan ini melibatkan perguruan tinggi, Kementerian Pertanian, serta mitra swasta, yang bersinergi untuk menghasilkan inovasi-inovasi yang relevan. Kolaborasi ini krusial untuk mencapai tujuan menekan ketergantungan impor dan menciptakan sistem peternakan yang tangguh dan berkelanjutan di masa depan.
Mendorong Peningkatan Produksi Susu dan Daging
Riset yang dilakukan BRIN saat ini berfokus pada tahap awal untuk menghasilkan sapi-sapi unggul yang mampu meningkatkan produksi susu secara signifikan. Program breeding menjadi kunci dalam upaya ini, memastikan bibit ternak yang dihasilkan memiliki kualitas genetik superior. Peningkatan produksi susu dalam negeri diharapkan dapat secara langsung mengurangi volume impor yang selama ini menjadi beban.
Selain itu, pengembangan nutrisi pakan ternak juga menjadi prioritas untuk mendukung pertumbuhan dan produktivitas sapi. Pakan yang berkualitas akan memastikan kesehatan ternak terjaga dan hasil produksi optimal. Dengan demikian, upaya komprehensif ini tidak hanya menyasar kuantitas, tetapi juga kualitas produk ternak yang dihasilkan di Indonesia.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, turut menegaskan pentingnya penguatan penelitian dan pengembangan dalam sektor peternakan. Menurutnya, peran BRIN sangat strategis dalam membangun fondasi peningkatan produktivitas, mulai dari subsektor unggas hingga hewan ternak seperti sapi potong dan sapi perah. Bibit unggul dianggap sebagai sumber kemajuan utama dalam peningkatan produksi dan produktivitas.
Mewujudkan Peternakan Berkelanjutan dan Adaptif Iklim
Langkah kedua yang menjadi perhatian BRIN adalah menciptakan riset dan inovasi yang mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim. Tujuannya adalah untuk mewujudkan sistem peternakan yang tangguh dan berkelanjutan (sustainable livestock). Adaptasi ini penting mengingat tantangan iklim global yang dapat mempengaruhi ketersediaan pakan dan kesehatan ternak.
Riset adaptasi iklim ini mencakup pengembangan varietas pakan yang lebih tahan terhadap kondisi ekstrem serta manajemen ternak yang efisien dalam menghadapi perubahan cuaca. Dengan demikian, peternakan di Indonesia dapat terus berproduksi secara stabil meskipun terjadi fluktuasi iklim. Ini merupakan bagian integral dari visi BRIN untuk menciptakan ketahanan pangan jangka panjang.
Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Pertanian dan sektor swasta, menjadi elemen penting dalam mewujudkan peternakan berkelanjutan ini. Sinergi ini memastikan bahwa hasil riset dapat diimplementasikan secara luas dan memberikan dampak nyata bagi para peternak. Inovasi yang dihasilkan diharapkan tidak hanya bermanfaat secara ekonomi, tetapi juga ramah lingkungan.
Sumber: AntaraNews