BRIN Dorong Inovasi Riset Peternakan Strategis Dukung Program MBG Nasional
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan pentingnya inovasi riset peternakan sebagai langkah strategis mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah, demi ketahanan pangan dan swasembada susu nasional.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan inovasi dan riset di sektor peternakan menjadi langkah strategis lembaga tersebut. Hal ini dilakukan untuk mendukung kesuksesan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah. Pernyataan ini disampaikan oleh Kepala BRIN Arif Satria di Jakarta.
Arif Satria menyampaikan hal tersebut dalam kegiatan "International Strategic Meeting on Scientific Pathways for Sustainable Livestock Industry Transformation". Pertemuan penting ini berlangsung di Kantor BRIN pada Jumat, 27 Maret. Inisiatif BRIN ini bertujuan memperkuat ketahanan pangan nasional secara menyeluruh.
Program pemenuhan gizi tersebut merupakan keputusan strategis Presiden RI Prabowo Subianto yang sudah sepantasnya didukung. Dukungan inovasi serta riset nyata di lapangan sangat diperlukan untuk mewujudkan tujuan tersebut. BRIN berkomitmen penuh dalam mengimplementasikan dukungan ini.
Peningkatan Swasembada Susu dan Tantangan Ketergantungan Impor
Indonesia selama ini masih bergantung pada pihak luar untuk memenuhi kebutuhan konsumsi susu nasional. Situasi ini menyoroti urgensi peningkatan swasembada susu yang mendesak untuk direalisasikan. BRIN melihat ini sebagai prioritas utama dalam agenda inovasi riset peternakan.
Saat ini, kontribusi produksi susu nasional baru mencapai 21 persen dari total kebutuhan. BRIN menargetkan peningkatan signifikan hingga 96 persen pada tahun 2029. Pencapaian target ambisius ini memerlukan riset dan inovasi yang intensif.
Guna mencapai target tersebut, BRIN fokus pada peningkatan kemampuan pembiakan (breeding) sapi perah. Tujuannya adalah mendongkrak produksi dan produktivitas susu yang sangat diperlukan oleh generasi mendatang. Ini merupakan bagian krusial dari inovasi riset peternakan BRIN.
Dalam jangka pendek, BRIN menjadikan kolaborasi internasional sebagai wadah berbagi inovasi teknologi peternakan. Kegiatan ini melibatkan praktisi industri swasta dari Eropa dan negara-negara lain. Kolaborasi ini diharapkan mempercepat transfer pengetahuan dan teknologi.
Adaptasi Perubahan Iklim dan Dampak Ekonomi Program MBG
Untuk target jangka panjang, langkah yang diambil tidak hanya sebatas riset dan inovasi produksi. BRIN juga berkolaborasi dalam meningkatkan kemampuan adaptasi sektor peternakan terhadap perubahan iklim. Sektor peternakan sering dituduh sebagai penyebab perubahan iklim karena emisi gas metan yang dihasilkan.
Kepala BRIN Arif Satria meyakini bahwa melalui pendekatan sains, dampak perubahan iklim dapat diantisipasi. Pada saat yang sama, target ketahanan pangan nasional juga dapat dicapai secara bersamaan. Ini menunjukkan komitmen BRIN terhadap keberlanjutan dan inovasi riset peternakan.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menegaskan Program MBG menjadi game changer. Program ini tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi juga memperkuat transformasi sektor pangan dan peternakan Indonesia. Program MBG menciptakan permintaan pasar yang besar dan stabil.
Rachmat mengungkapkan kebutuhan tambahan dari Program MBG diproyeksikan mencapai 1,5 juta liter susu dan 47.000 ton daging sapi hingga tahun 2029. Angka ini menjadi sinyal positif bagi investor untuk berinvestasi di sektor peternakan. "The market is ready, stable, and growing," tutur Rachmat Pambudy.
Sumber: AntaraNews