BRIN Dorong Transformasi Peternakan Berkelanjutan Berbasis Sains untuk Ketahanan Pangan Global

Kepala BRIN Arif Satria menegaskan pentingnya Transformasi Peternakan Berkelanjutan berbasis sains untuk menjawab tantangan global dan mewujudkan ketahanan gizi serta pertumbuhan ekonomi.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
BRIN Dorong Transformasi Peternakan Berkelanjutan Berbasis Sains untuk Ketahanan Pangan Global
Kepala BRIN Arif Satria menegaskan pentingnya Transformasi Peternakan Berkelanjutan berbasis sains untuk menjawab tantangan global dan mewujudkan ketahanan gizi serta pertumbuhan ekonomi. (AntaraNews)

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara aktif mendorong upaya Transformasi Peternakan Berkelanjutan yang mengedepankan pendekatan sains. Inisiatif strategis ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan gizi dan mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia.

Dorongan tersebut disampaikan langsung oleh Kepala BRIN, Arif Satria, dalam acara "International Strategic Meeting on Scientific Pathways for Sustainable Livestock Industry Transformation" yang berlangsung di Kantor BRIN, Jakarta, pada hari Jumat. Pertemuan penting ini turut dihadiri oleh delegasi dari berbagai negara, menandai komitmen global terhadap isu ini.

Arif Satria menekankan bahwa sektor peternakan memiliki peran yang sangat strategis dalam rantai nilai agrifood yang terintegrasi. Oleh karena itu, transformasi mendalam yang bertanggung jawab terhadap lingkungan menjadi suatu keharusan untuk mengatasi berbagai tantangan kompleks yang dihadapi masyarakat global saat ini.

Masyarakat dunia saat ini menghadapi serangkaian tantangan yang saling terkait dan semakin kompleks, mulai dari peningkatan permintaan pangan hingga kesenjangan gizi yang persisten. Selain itu, tekanan perubahan iklim dan keterbatasan sumber daya alam turut menambah kompleksitas permasalahan yang ada.

Dalam konteks ini, sektor peternakan memegang posisi krusial dalam sistem pangan global. Peranannya tidak hanya sebatas penyedia protein hewani, tetapi juga sebagai bagian integral dari rantai nilai agrifood yang lebih luas.

Oleh karena itu, transformasi di sektor ini tidak bisa ditunda. Transformasi yang dimaksud haruslah mendalam, bertanggung jawab terhadap lingkungan, dan mampu menjawab kebutuhan masa depan.

BRIN sangat meyakini bahwa ilmu pengetahuan harus menjadi inti dari setiap upaya transformasi ini. Pendekatan berbasis sains akan memastikan bahwa solusi yang diterapkan efektif dan berkelanjutan dalam jangka panjang.

Langkah ilmiah yang didorong BRIN mencakup pemajuan Life Cycle Assessment (LCA) sebagai landasan kebijakan yang kuat. Selain itu, sistem peternakan digital yang digerakkan oleh data juga menjadi fokus, bersama dengan pengembangan rantai pasok yang efisien dari hulu ke hilir.

Meskipun demikian, Arif Satria mengingatkan bahwa sains saja tidak cukup. Diperlukan penyelarasan yang erat antara hasil penelitian ilmiah dengan kebijakan yang mendukung serta investasi yang memadai guna menjembatani kesenjangan antara hasil penelitian dan dampak di dunia nyata.

Sinergi ini penting untuk menjembatani kesenjangan antara penemuan ilmiah di laboratorium dan dampak nyata yang dapat dirasakan di lapangan. Tanpa dukungan kebijakan dan investasi, potensi sains tidak akan terealisasi sepenuhnya.

Sebagai bentuk komitmen terhadap kolaborasi, BRIN bekerja sama erat dengan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO). FAO berperan sentral dalam memajukan jaringan ilmiah global dan menyediakan metodologi untuk menilai kinerja lingkungan sistem peternakan, memperkuat upaya Transformasi Peternakan Berkelanjutan.

Kepala BRIN menyoroti tiga arah strategis yang diharapkan muncul dari pertemuan internasional tersebut. Pertama, memperkuat inovasi peternakan yang berbasis data kuat untuk pengambilan keputusan yang lebih baik. Kedua, mempercepat integrasi sistem agrifood agar keberlanjutan tidak terfragmentasi dan menjadi bagian dari keseluruhan.

Ketiga, mendorong investasi bersama antar pemangku kepentingan, baik dari pemerintah, swasta, maupun lembaga penelitian. Kolaborasi investasi ini krusial untuk mendukung implementasi solusi ilmiah.

Sebagai tindak lanjut konkret dari pertemuan strategis internasional ini, BRIN akan segera membentuk gugus tugas khusus. Gugus tugas ini akan berada di bawah Deputi Kebijakan Pembangunan, menunjukkan keseriusan BRIN dalam mewujudkan rencana ini.

Arif Satria menutup pernyataannya dengan ajakan untuk menyelaraskan ilmu pengetahuan, kebijakan, dan investasi. Tujuannya adalah mengubah sektor peternakan menjadi pendorong utama ketahanan gizi global dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi