Bukan Hanya Daging Beku: Pemerintah Dorong Pembiakan Sapi Hidup di Dalam Negeri untuk Ekonomi Rakyat

Pemerintah serius dorong pembiakan sapi hidup di dalam negeri, bukan sekadar impor daging beku. Langkah ini diharapkan mampu menggerakkan ekonomi lokal dan menciptakan lapangan kerja baru.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Bukan Hanya Daging Beku: Pemerintah Dorong Pembiakan Sapi Hidup di Dalam Negeri untuk Ekonomi Rakyat
Pemerintah serius dorong pembiakan sapi hidup di dalam negeri, bukan sekadar impor daging beku. Langkah ini diharapkan mampu menggerakkan ekonomi lokal dan menciptakan lapangan kerja baru. (AntaraNews)

Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) secara serius mendorong program pembiakan dan penggemukan sapi hidup di dalam negeri. Langkah strategis ini bertujuan untuk meningkatkan ketersediaan ternak lokal dan memperkuat sektor peternakan nasional. Kebijakan ini diharapkan membawa dampak ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat luas.

Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi, menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Fokus utama adalah mengurangi ketergantungan pada impor daging beku yang memiliki dampak ekonomi terbatas. Dengan demikian, pemerintah ingin menggeser prioritas ke arah pengembangan peternakan lokal.

Arief menjelaskan, program ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan daging, tetapi juga untuk menghidupkan ekonomi pedesaan. Pengadaan sapi hidup akan membuka peluang kerja baru dan memberikan keuntungan langsung kepada peternak. Hal ini disampaikan Arief di Jakarta pada Jumat (03/10) lalu.

Pemerintah tidak lagi hanya mengandalkan pemenuhan kebutuhan daging ruminansia dari pengadaan daging beku dari luar negeri. Kebijakan ini diambil karena dampak ekonomi lanjutan dari impor daging beku dinilai tidak luas bagi masyarakat. Presiden Prabowo Subianto secara khusus mengarahkan pengembangan sapi hidup.

Arahan Presiden tersebut bertujuan agar ekonomi di pedesaan dapat hidup dan berkembang melalui pembiakan serta penggemukan sapi. "Jadi bukan daging langsung yang diimpor, tetapi sapi hidupnya," kata Arief Prasetyo Adi. Ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk memberdayakan sektor peternakan lokal.

Dengan mengutamakan pengadaan sapi hidup, pemerintah berharap dapat menciptakan rantai nilai ekonomi yang lebih panjang. Mulai dari penyediaan pakan, perawatan, hingga proses penggemukan, semuanya akan melibatkan tenaga kerja lokal. Kebijakan ini diharapkan mampu mendongkrak kesejahteraan petani dan peternak.

Kebutuhan pasokan dari luar negeri masih diperlukan berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan untuk daging sapi/kerbau. Produksi daging sapi/kerbau dalam negeri pada tahun 2025 diperkirakan mencapai 555,1 ribu ton. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan sekitar 17,8 persen dibandingkan tahun 2024 yang tercatat 471,2 ribu ton.

Meskipun ada peningkatan produksi, proyeksi kebutuhan setahun di tahun 2025 diperkirakan mencapai 766,9 ribu ton. Hal ini menunjukkan adanya defisit antara produksi dalam negeri dan konsumsi nasional. Oleh karena itu, strategi pengadaan sapi hidup menjadi krusial untuk menyeimbangkan neraca pangan.

Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi memberikan apresiasi kepada Kementerian Pertanian atas upaya peningkatan produksi daging ruminansia. "Produksi dalam negeri tetap harus diutamakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat," ujarnya. Peningkatan pembiakan sapi hidup diharapkan dapat secara bertahap mengurangi defisit ini.

Berdasarkan Panel Harga Pangan Bapanas pada Oktober, harga daging ruminansia terpantau cukup stabil. Rata-rata harga daging sapi secara nasional berada di Rp134.900 per kilogram, sedikit menurun 0,17 persen dari bulan sebelumnya yang mencapai Rp135.133 per kg. Sementara itu, harga daging kerbau lokal juga menurun 0,20 persen menjadi Rp141.080 per kg.

Arief Prasetyo Adi menekankan bahwa penggalakan pembiakan dan penggemukan sapi hidup di dalam negeri akan menciptakan dampak ekonomi lanjutan yang luas. "Kalau ada pembiakan dan penggemukan kan ada yang ngarit, ada yang ngasih hijauan, ada yang ngasih pakan. Itu kan ada tenaga kerja untuk membiakkan dan menggemukkan. Jadi bukan hanya beli daging, habis itu keuntungannya di pedagang dan importir saja," jelasnya.

Keuntungan dari kebijakan ini tidak hanya dinikmati oleh pedagang dan importir, melainkan juga oleh masyarakat lokal yang terlibat langsung dalam proses peternakan. Pemerintah berencana membudidayakan sapi hidup melalui jaringan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Skema ini diharapkan dapat memberikan keuntungan ekonomi langsung bagi rakyat dan memperkuat sektor peternakan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi