BRIN Ungkap Spesies Baru Terong Berduri Kalimantan, Potensi Pangan dan Obat Tradisional
Tim peneliti BRIN berhasil mengidentifikasi spesies baru terong berduri Kalimantan, Solanum kalimantanense, yang memiliki karakteristik unik serta potensi besar sebagai bahan pangan dan obat tradisional. Penemuan ini memperkaya keanekaragaman hayati Indon
Tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah sukses mengidentifikasi sebuah spesies baru terong berduri dari genus Solanum. Spesies unik ini ditemukan di wilayah Kalimantan, Indonesia, menambah daftar panjang kekayaan flora nusantara yang belum sepenuhnya terungkap secara ilmiah. Penemuan ini menegaskan kembali potensi biodiversitas Indonesia yang sangat besar dan penting untuk terus didokumentasikan.
Spesies baru tersebut secara resmi diberi nama Solanum kalimantanense T.Djarwaningsih, E.L.Agustiani & M.R.Hariri. Penamaan ini merupakan bentuk penghargaan kepada para anggota tim peneliti BRIN yang berkontribusi dalam studi ini, termasuk Esthi L. Agustiani, Tutie Djarwaningsih, Muhammad Rifqi Hariri dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, serta Siti Susiarti dari Pusat Riset Ekologi BRIN.
Penemuan Solanum kalimantanense ini tidak hanya signifikan secara ilmiah, tetapi juga menyoroti peran penting penelitian dalam memahami dan melestarikan keanekaragaman hayati. Analisis mendalam, baik dari segi morfologi maupun genetik, menjadi kunci dalam membedakan spesies ini dari kerabat terdekatnya. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Taprobanica Volume 15 Nomor 1 tahun 2026.
Karakteristik Unik dan Penamaan Solanum kalimantanense
Muhammad Rifqi Hariri, salah satu peneliti BRIN, menjelaskan bahwa Solanum kalimantanense memiliki beberapa karakter morfologi khas yang membedakannya dari spesies lain. Perbedaan tersebut meliputi ukuran daun yang hampir sama panjang dan lebarnya, serta lekukan daun yang sangat dangkal. Selain itu, permukaan buah matang spesies ini berbulu halus dan jarang, dengan ukuran buah yang lebih besar dibandingkan Solanum lasiocarpum.
Analisis DNA menggunakan penanda ITS juga menunjukkan adanya perbedaan genetik yang cukup signifikan. Hal ini semakin memperkuat status Solanum kalimantanense sebagai spesies baru yang berbeda dari kerabat terdekatnya. Temuan ini membuktikan bahwa Indonesia masih menyimpan banyak potensi biodiversitas yang belum tercatat secara ilmiah, bahkan dari kelompok tumbuhan yang sudah dikenal luas oleh masyarakat.
Penamaan spesies ini diambil dari nama-nama peneliti yang terlibat, yakni Tutie Djarwaningsih, Esthi L. Agustiani, dan Muhammad Rifqi Hariri. Penamaan ini merupakan praktik umum dalam taksonomi untuk menghargai kontribusi para ilmuwan dalam penemuan dan deskripsi spesies baru.
Pemanfaatan Lokal Terong Berduri Kalimantan
Menurut Tutie Djarwaningsih, peneliti BRIN lainnya, masyarakat lokal di Kalimantan mengenal tanaman ini dengan sebutan terong asam atau terong dayak. Tanaman ini telah lama dimanfaatkan sebagai bahan pangan oleh komunitas setempat. Buahnya sering dijumpai di pasar terapung Banjarmasin dan umum diolah menjadi sayuran.
Selain sebagai bahan pangan, masyarakat di Kecamatan Kenohan, Kalimantan Timur, juga memanfaatkan daun dan kuncup buah tanaman ini sebagai obat tradisional. Mereka mengenalnya dengan istilah wikat, yang dipercaya dapat membantu dalam pengobatan kanker. Pemanfaatan tradisional ini menunjukkan nilai penting Solanum kalimantanense bagi kearifan lokal dan kesehatan masyarakat.
Potensi gizi dan medis dari terong berduri Kalimantan ini membuka peluang penelitian lebih lanjut untuk menguji khasiatnya secara ilmiah. Hal ini sejalan dengan upaya BRIN untuk mendukung pengungkapan potensi flora Indonesia serta pemanfaatannya secara berkelanjutan.
Persebaran dan Status Konservasi Solanum kalimantanense
Esthi L. Agustiani, peneliti BRIN, mengungkapkan bahwa Solanum kalimantanense ditemukan tumbuh pada berbagai tipe tanah. Spesies ini dapat ditemukan di tanah lempung berpasir hingga tanah hitam asam, dengan rentang ketinggian 9 hingga 1700 meter di atas permukaan laut. Persebarannya meliputi beberapa wilayah di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.
Berdasarkan kajian awal, populasi spesies ini diduga terbatas, sehingga berpotensi masuk dalam kategori rentan (vulnerable) menurut kriteria The International Union for Conservation of Nature (IUCN). Status ini menunjukkan perlunya upaya konservasi untuk melindungi terong berduri Kalimantan dari ancaman kepunahan.
Pendekatan integratif melalui pengamatan morfologi dan DNA barcoding sangat membantu peneliti dalam membedakan spesies ini dari kerabat dekatnya secara lebih akurat. Metode ini penting untuk identifikasi yang tepat dan menjadi dasar bagi strategi konservasi yang efektif.
Sumber: AntaraNews