Viral Restoran Jual Tusuk Sate Bambu Pedas, 50 Tusuk Dibanderol Rp22.700
Menu ini tidak hanya memikat dengan harganya yang terjangkau, tetapi juga dengan konsep inovatif yang ditawarkan.
Sebuah restoran barbekyu di China Selatan mendadak viral dan menarik perhatian banyak pengunjung wanita setelah memperkenalkan menu unik 50 tusuk sate bambu pedas hanya seharga 10 yuan atau Rp22.700 (kurs Rp2.279). Menu ini tidak hanya memikat dengan harganya yang terjangkau, tetapi juga dengan konsep inovatif yang ditawarkan.
Melansir dari South China Morning Post, ketenaran restoran ini meroket setelah sebuah video makanan yang diunggah pada 21 Maret mendapatkan lebih dari 600.000 suka di media sosial.
Dalam video tersebut, seorang koki dari Provinsi Hunan terlihat memanggang tusuk sate bambu yang ditaburi daun bawang dan bubuk cabai, menciptakan aroma menggoda yang langsung menarik perhatian netizen.
Pencipta hidangan unik ini, seorang pria bernama Ma, menjelaskan ide di balik tusuk sate bambu pedas ini adalah untuk memberikan pengalaman menikmati rasa tanpa perlu mengonsumsi daging atau makanan berat.
Ma secara khusus merancang menu ini bagi wanita yang mencari camilan larut malam yang rendah kalori.
"Tusuk-tusuk ini memungkinkan pengunjung wanita menikmati camilan tanpa menambah berat badan," ujarnya.
Respons Pasar
Sejak peluncuran hidangan ini, respons pasar sangat positif. Penjualannya melonjak drastis dengan lebih dari 100 porsi terjual setiap harinya. Bahkan, jumlah pelanggan restoran meningkat hingga 30 persen.
Dari setiap porsi yang terjual, Ma memperoleh laba bersih sebesar empat hingga lima yuan setelah dikurangi biaya produksi, membuktikan bahwa konsep ini tidak hanya menarik dari segi kreativitas tetapi juga menguntungkan secara bisnis.
Salah seorang pelanggan yang tengah menjalani program diet mengungkapkan bahwa dia sangat menikmati tusuk sate bambu ini. Bahkan, dia menambahkan mustard sebagai pelengkap untuk menambah cita rasa.
Namun, tidak semua orang antusias dengan ide ini. Beberapa netizen mengungkapkan kekhawatiran mereka mengenai kemungkinan tusuk sate bambu yang dapat digunakan kembali.
Menanggapi hal ini, Ma dengan tegas meyakinkan semua tusuk sate hanya digunakan sekali pakai. Dia juga mengungkapkan rencananya untuk terus menciptakan hidangan inovatif demi menarik lebih banyak pelanggan.
Di tengah perdebatan, ada juga netizen yang menganggap konsep ini sebagai sesuatu yang "aneh" atau "membosankan". Beberapa bahkan bercanda bahwa pelanggan sebaiknya menjilati bumbu mi instan di rumah untuk pengalaman serupa tanpa mengeluarkan uang.
Sementara itu, ada pula yang menyarankan agar restoran lebih fokus pada peningkatan rasa dan kualitas makanan daripada sekadar mengandalkan gimmick unik semata.
Persaingan Kuliner Unik di China
Menariknya, tren hidangan unik seperti ini bukanlah hal baru di China. Restoran Ma harus bersaing dengan kreasi kuliner nyeleneh lainnya yang telah lebih dulu populer di berbagai wilayah.
Pada Juni 2023, seorang pedagang dari Hunan memperkenalkan "kerikil pedas", sebuah hidangan yang terdiri dari batu sungai kecil yang ditumis bersama cabai, bawang putih, perilla, dan rosemary.
Hidangan ini dijual seharga 16 yuan atau Rp36.400 per porsi dan memiliki sejarah panjang. Dikenal dengan nama lokal suo diu, yang berarti "hisap dan buang", hidangan ini berasal dari kebiasaan tukang perahu di sepanjang Sungai Yangtze yang menikmati makanan ringan dari batu-batu yang diberi bumbu pedas.
Selama Perang China-Jepang (1937-1945), hidangan ini menjadi lebih populer dan akhirnya berkembang menjadi makanan khas tradisional di Provinsi Yunnan, Cina barat daya.
Tidak berhenti di situ, pedagang makanan di Provinsi Jiangxi, Tiongkok tenggara, juga menawarkan pengalaman kuliner yang tidak kalah unik: es balok panggang. Hidangan ini terdiri dari es balok besar yang dibumbui dengan jinten, cabai, dan bubuk merica, menciptakan kombinasi rasa "es dan api" yang unik bagi para pencicipnya.