UMKM Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi Asia Tenggara, Ini Tantangannya
UMKM harus menjadi prioritas untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Ekonomi akar rumput, khususnya sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dinilai memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan Asia, terutama Asia Tenggara. Meski demikian, sektor ini masih menghadapi tantangan signifikan seperti keterbatasan akses pembiayaan, koneksi pasar yang lemah, serta literasi keuangan yang rendah, khususnya di daerah pedesaan.
CEO Standard Chartered Indonesia, Donny Donosepoetro OBE, menegaskan bahwa pemberdayaan UMKM harus menjadi prioritas untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Menurutnya, membuka akses keuangan yang lebih luas kepada pelaku usaha mikro merupakan langkah strategis yang dapat mendorong penguatan ekonomi regional.
“Kolaborasi menjadi kunci. Melalui kerja sama kami dengan Amartha dan PT Mitra Bisnis Keluarga Ventura (MBK), kami menghadirkan solusi pembiayaan inovatif bagi pelaku UMKM,” ujar Donny dalam Asia Grassroots Forum (AGF) 2025 yang digelar di Nusa Dua, Bali, Kamis (22/5).
Donny juga menyampaikan bahwa lembaga keuangan global menghadapi tantangan dalam menjangkau sektor mikro secara langsung karena keterbatasan infrastruktur dan distribusi. Oleh karena itu, kolaborasi dengan mitra lokal menjadi solusi efektif.
Sementara itu, Founder & CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, menekankan pentingnya membangun ekosistem pendukung yang kuat bagi ekonomi akar rumput. Ia menyebut forum AGF 2025 sebagai platform untuk memperkenalkan potensi besar segmen ultra-mikro kepada investor global.
“Segmen ini memiliki daya tahan tinggi jika didukung oleh teknologi keuangan inklusif dan ekosistem yang tepat,” ujar Taufan.
Ia mengungkapkan bahwa Amartha telah menjalin kerja sama pembiayaan dengan berbagai institusi global berkat kredibilitas dan tata kelola yang baik. Beberapa lembaga yang terlibat dalam forum ini antara lain Accion, Women’s World Banking, dan Maj Invest.
Asia Grassroots Forum 2025 diselenggarakan pada 21–23 Mei 2025 di Nusa Dua, Bali, dan dihadiri lebih dari 700 peserta dari 15 negara. Forum ini mempertemukan investor global, regulator, sektor swasta, akademisi, serta komunitas wirausaha ultra-mikro. Acara ini menjadi wadah strategis untuk memperluas kolaborasi lintas sektor dan membuka peluang investasi langsung ke sektor ekonomi akar rumput, termasuk dari lembaga seperti sovereign wealth fund.