Terus Bergulir! Beras SPHP Tetap Jadi Penjaga Stabilitas Harga Saat Panen Raya, Ini Strategi Bapanas
Kepala Bapanas pastikan program Beras SPHP terus berlanjut meski panen raya demi stabilitas harga. Penasaran bagaimana strategi pemerintah menjaga pasokan pangan nasional?
Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk beras akan terus berjalan. Kebijakan ini berlaku meskipun Indonesia memasuki masa panen raya. Tujuannya adalah menjaga stabilitas harga komoditas pokok tersebut di seluruh wilayah.
Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa SPHP menjadi langkah strategis pemerintah. Ini dilakukan untuk menyeimbangkan pasokan dan harga beras, terutama di daerah non-sentra produksi padi. Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah terhadap ketahanan pangan.
Distribusi beras subsidi akan difokuskan ke wilayah pegunungan dan daerah yang bukan produsen padi utama. Hal ini bertujuan agar masyarakat di sana tetap dapat mengakses beras dengan harga terjangkau. Program ini adalah wujud keadilan pangan nasional.
Kelanjutan Program Beras SPHP di Tengah Panen Raya
Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa program beras SPHP tidak akan terhenti. "Terus (berlanjut). Nggak pernah terhenti, terus bergulir," kata Amran saat dikonfirmasi di sela-sela kunjungan di Tangerang, Banten. Pernyataan ini memperkuat komitmen pemerintah.
Kebijakan SPHP ini merupakan upaya strategis untuk memastikan ketersediaan dan keterjangkauan beras bagi seluruh lapisan masyarakat. Meskipun panen raya, pemerintah tetap memandang pentingnya intervensi pasar. Ini untuk mencegah fluktuasi harga yang merugikan konsumen.
Program beras SPHP ini dinilai menjadi bentuk komitmen pemerintah dalam memastikan keadilan pangan nasional. Baik produsen maupun konsumen diharapkan dapat merasakan manfaat distribusi beras SPHP. Hal ini sejalan dengan upaya mewujudkan kedaulatan pangan.
Strategi Distribusi dan Dampak Positif Beras SPHP
Amran menjelaskan bahwa saat musim panen raya, distribusi beras subsidi SPHP akan dialihkan. Fokusnya adalah ke daerah-daerah pegunungan dan wilayah yang bukan produsen padi. Strategi ini dirancang untuk mencapai pemerataan akses pangan.
"SPHP nanti, strategi saya tadi, kami kalau nanti musim panen, bulan 3, 4, 5 (Maret-April-Mei), itu SPHP disalurkan ke daerah-daerah pegunungan yang bukan produsen padi. Cantik kan?," imbuh Amran. Pendekatan ini memastikan daerah terpencil tidak kekurangan pasokan.
Program SPHP yang disalurkan Perum Bulog telah terbukti efektif menekan gejolak harga. Ini juga menjaga ketersediaan beras di pasaran, terutama saat permintaan meningkat. Faktor cuaca atau logistik seringkali menjadi penyebab gangguan distribusi.
Dengan strategi ini, Bapanas optimistis pasokan beras nasional akan tetap terkendali. Harga beras diharapkan stabil, dan kesejahteraan masyarakat terus meningkat. Ini adalah langkah penting menuju ketahanan pangan Indonesia yang lebih baik.
Target Penyaluran dan Harga Eceran Tertinggi Beras SPHP
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, melaporkan bahwa penyaluran beras SPHP telah mencapai lebih dari 560 ribu ton hingga awal November. Angka ini menunjukkan tingginya minat dan kepercayaan masyarakat terhadap beras pemerintah. Distribusi terus dioptimalkan.
Target distribusi beras SPHP hingga Desember 2025 adalah sebanyak 1,5 juta ton. Bulog berkomitmen untuk memastikan stok beras SPHP tersedia di titik-titik yang mengalami disparitas harga. Penyaluran dilakukan secara cepat dan merata ke seluruh wilayah.
Beras SPHP dijual sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan. Untuk zona 1 (Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, NTB, Sulawesi), HET-nya adalah Rp12.500 per kilogram. Zona 2 (Sumatera selain Lampung dan Sumsel, NTT, Kalimantan) seharga Rp13.100 per kilogram.
Sementara itu, untuk zona 3 yang mencakup Maluku dan Papua, HET beras SPHP ditetapkan sebesar Rp13.500 per kilogram. Penetapan HET ini bertujuan untuk menjaga keterjangkauan harga bagi konsumen. Ini juga sekaligus memastikan stabilitas di pasar.
Sumber: AntaraNews