Ekonomi Tumbuh tapi Penduduk Miskin Malah Bertambah, Luhut Beri Penjelasan
Luhut optimistis ekonomi bisa tetap tumbuh tanpa meninggalkan masyarakat di level terbawah.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan sudah membuat kajian terkait fenomena populasi penduduk miskin Indonesia yang bertambah di tengah tren pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen. Menurut penghitungan yang dilakukan tim DEN, Luhut menduga angka kemiskinan naik akibat adanya kenaikan harga. Sayangnya, ia belum bisa merinci data yang dimilikinya.
"Jadi bisa mungkin karena kenaikan harga. Dewan Ekonomi sudah menghitung mengenai itu. Ada datanya saya enggak ingat," ujar dia saat ditemui di kantornya, Jakarta, Rabu (24/6).
Luhut optimistis ekonomi bisa tetap tumbuh tanpa meninggalkan masyarakat di level terbawah. Dengan syarat pemerintah perlu memastikan segala program bisa berjalan lebih efisien, dan bisa memanfaatkan bonus demografi secara lebih maksimal.
"Kita kan harus perhatikan efisiensi. Efisiensi juga target yang kita kerjakan. Kemudian kita juga harus betul-betul menyadari semua bersama bahwa bonus demografi itu akan habis 10 tahun dari sekarang," tuturnya.
"Jadi kalau kita tidak bekerja dengan baik, maka 2045 itu nanti sulit tercapai. Tapi kalau kita semua kompak, itu saya kira enggak ada masalah," kata Luhut.
Ekonomi Belum Dinikmati Secara Merata
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyoroti pertumbuhan ekonomi 5 persen yang belum mampu dinikmati secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
Prabowo menjelaskan, secara teori pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen setiap tahun selama tujuh tahun seharusnya menghasilkan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang signifikan.
"Selama tujuh tahun belakangan ini dikatakan bahwa ekonomi kita tumbuh 5 persen tiap tahun. Tujuh tahun kali lima, berarti 35 persen pertumbuhannya. Logikanya selama tujuh tahun Indonesia tambah kaya 35 persen," kata Prabowo saat penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama Nahdlatul Ulama 2026 di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, dikutip dari Antara beberapa waktu lalu.
Data Berbalik dengan Realita
Namun, Prabowo menambahkan, data yang diterima menunjukkan kondisi yang berbeda. Pertumbuhan ekonomi yang terjadi belum mampu dinikmati secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
"Kenyataan bahwa setelah tujuh tahun tumbuh 5 persen, masa penduduk miskin tambah. Negara tambah kaya, rakyat miskin tambah. Ini sesuatu yang aneh, yang anomali. Yang kelas menengah yang sudah tadinya lepas dari kemiskinan, turun," jelasnya..
Menurut Prabowo, kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa hasil pertumbuhan ekonomi lebih banyak dinikmati oleh kelompok tertentu.
PR Wajib Dibenahi
Prabowo menambahkan, fenomena itu menunjukkan adanya persoalan dalam sistem ekonomi yang perlu segera dibenahi.
Prabowo menegaskan pembangunan ekonomi harus mampu menciptakan pemerataan kesejahteraan dan memperluas manfaat pertumbuhan bagi seluruh rakyat Indonesia.
"Kita lihat bahwa ini berarti sistem kita keliru. Sistem ini keliru karena apa, kalau orang miskin tambah, yang menengah juga berkurang, berarti yang menikmati pertumbuhan ini hanya segelintir orang," kata dia.