Luhut Dorong Ekosistem Genomik Terintegrasi Demi Daya Saing Global Indonesia
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mendesak percepatan pembangunan ekosistem genomik terintegrasi di Indonesia, melihat potensi besar bioekonomi global dan peluang negara untuk mandiri serta berdaya saing.
Luhut Binsar Pandjaitan, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), menyerukan pengembangan ekosistem genomik terintegrasi di Indonesia. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing bangsa di kancah global. Inisiatif ini diharapkan mampu menjadikan Indonesia tidak lagi bergantung pada negara lain di sektor vital.
Pernyataan tersebut disampaikan Luhut dalam acara BGSI Ecosystem Roadshow: "Introducing BGSI to the Indonesian Academia and Medical Research Ecosystem" di Jakarta, Kamis lalu. Acara ini menjadi platform penting untuk menggalang dukungan dan kolaborasi.
Pengembangan genomik dinilai krusial mengingat potensi pasar bioekonomi global yang sangat besar, mencapai 4-5 triliun dolar AS. Indonesia memiliki peluang besar untuk mengambil bagian dari potensi ekonomi ini melalui penguatan riset dan infrastruktur teknologi.
Potensi Bioekonomi Global dan Kemandirian Nasional
Luhut Binsar Pandjaitan menekankan bahwa Indonesia harus membangun ekosistem genomik yang satu dan terintegrasi. Integrasi ini akan memastikan kemandirian dan mengurangi ketergantungan terhadap negara lain dalam berbagai aspek. Dengan demikian, Indonesia dapat bersaing secara global.
Potensi bioekonomi global yang mencapai kisaran 4-5 triliun dolar AS menjadi daya tarik utama. Indonesia diharapkan mampu memanfaatkan peluang ini dengan memperkuat riset serta infrastruktur teknologi yang ada. Hal ini membuka jalan bagi inovasi dan pertumbuhan ekonomi.
Luhut optimis bahwa Indonesia memiliki kapasitas memadai, termasuk periset yang kompeten, untuk mewujudkan ambisi ini. Keberadaan sumber daya manusia berkualitas menjadi modal penting dalam pengembangan genomik.
Genomik untuk Ketahanan Pangan dan Pengurangan Impor
Salah satu contoh konkret pemanfaatan genomik adalah pengembangan genome sequencing di Humbang Hasundutan. Inisiatif ini berpotensi menekan impor bawang putih yang saat ini mencapai 770 juta dolar AS per tahun.
Melalui pemanfaatan teknologi genome sequencing dan riset, Indonesia diyakini dapat mengurangi impor bawang putih secara signifikan. Targetnya adalah dalam tiga tahun ke depan melalui pengembangan varietas berbasis riset.
Luhut meyakini bahwa dalam lima tahun mendatang, pengembangan genomik dapat menjadi "game changer" bagi Indonesia. Namun, keberhasilan ini sangat bergantung pada kekompakan dan kesediaan berbagi pengetahuan antarpihak.
Kolaborasi Riset dan Inovasi Kesehatan Melalui BGSI
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menambahkan bahwa pemerintah aktif menggandeng perguruan tinggi dan periset di bidang kesehatan. Kolaborasi ini bertujuan memperkuat pengobatan presisi melalui Biomedical and Genome Science Initiative (BGSI) melalui inovasi dan riset.
Pengembangan pengobatan presisi dengan teknologi genome sequencing memerlukan kolaborasi erat dengan perguruan tinggi. Hal ini disebabkan kebutuhan akan kekuatan komputasi dan kecerdasan buatan (AI) yang luar biasa untuk memproses data genomik.
BGSI sendiri dibangun di Bogor, berdekatan dengan Institut Pertanian Bogor (IPB). Lokasi strategis ini dipilih untuk mempermudah replikasi pengetahuan dan memperdalam pemahaman tentang manusia, mengingat DNA tumbuhan, binatang, dan manusia memiliki kesamaan fundamental.
Sumber: AntaraNews