Ekosistem Beras Biofortifikasi Berskala Industri Pertama di Indonesia, Jadi Solusi Tangani Kekurangan Gizi
Kabupaten Banyuwangi di Jawa Timur telah meluncurkan ekosistem beras biofortifikasi berskala industri yang pertama di Indonesia.
Di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, telah diluncurkan ekosistem beras biofortifikasi berskala industri yang pertama di Indonesia. Inisiatif ini merupakan hasil dari kemitraan strategis pentahelix yang melibatkan Pandawa Agri Indonesia, Danone-AQUA, IPB University, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Perum Bulog, serta Bank Indonesia.
Peluncuran program ini dilakukan pada acara Panen Raya yang berlangsung beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan ini, juga dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman untuk Pengembangan Ekosistem Skala Industri Beras Biofortifikasi, yang merupakan langkah strategis untuk menunjukkan komitmen bersama dalam meningkatkan gizi masyarakat dan menjaga stabilitas harga pangan.
Program ini secara langsung mendukung tujuan nasional dalam ketahanan gizi, transformasi sistem pangan, dan ketahanan terhadap perubahan iklim. Fokus pada pengembangan beras biofortifikasi menjadi komponen penting dalam strategi nasional untuk menurunkan angka stunting serta meningkatkan kesehatan masyarakat secara keseluruhan.
"Beras biofortifikasi merupakan solusi strategis untuk mengatasi 'Hidden Hunger' dalam skala besar. Kita tidak lagi hanya menangani kekurangan gizi, tetapi mulai mencegahnya langsung dari sumber pangan utama," jelas Guru Besar Ilmu Gizi dan Pangan di IPB University, Evy Damayanthi.
Inisiatif ini berfokus pada budidaya varietas padi biofortifikasi yang diperkaya dengan zat besi (Fe) dan zinc (Zn), dua mikronutrien yang sangat penting untuk pertumbuhan anak dan kesehatan ibu. Pada tahap awal, ekosistem ini diuji di lahan seluas 5 hektar dengan menggunakan varietas Nutrizinc, yang memiliki kandungan zat besi dan zinc 25 hingga 50 persen lebih tinggi dibandingkan padi biasa.
Meskipun Nutrizinc telah menunjukkan hasil gizi yang baik, pada tahap berikutnya, ekosistem ini juga akan memperkenalkan varietas benih yang lebih baik seperti IPB 9G dan IPB 15S, serta menjajaki varietas padi biofortifikasi lainnya yang memiliki kandungan gizi tinggi. Varietas-varietas ini tidak hanya mengandung mikronutrien yang tinggi tetapi juga menghasilkan panen yang lebih baik, sehingga lebih layak untuk diperluas adopsinya di lapangan.
Inovasi Cerdas Hadapi Perubahan Ikilm
Dalam upaya mencapai pertanian yang berkelanjutan dan produktif, inisiatif ini mengadopsi Teknologi PPAI yang dikembangkan oleh Pandawa Agri Indonesia, sebuah perusahaan inovasi pertanian yang berlokasi di Banyuwangi.
Teknologi ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan tanaman dan tanah serta telah terbukti efektif dalam mendorong praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan dan ekonomis.
Selain itu, metode irigasi Alternate Wetting and Drying (AWD) juga diterapkan, yang dapat secara signifikan mengurangi penggunaan air dan meminimalisir dampak terhadap lingkungan. Gabungan antara Teknologi PPAI dan AWD secara keseluruhan mendorong praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan dalam budidaya padi.
Penelitian yang dilakukan oleh IPB University menunjukkan bahwa penerapan Teknologi PPAI dapat menurunkan emisi metana hingga 24 persen. Di sisi lain, kombinasi antara AWD dan Teknologi PPAI membuat budidaya padi menjadi 213 persen lebih efisien dalam penggunaan air jika dibandingkan dengan metode konvensional. Temuan ini memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian target iklim di sektor pertanian Indonesia.
"Riset ini menunjukkan bahwa dengan teknologi dan praktik yang tepat, padi yang selama ini dikenal sebagai tanaman boros air dapat dibudidayakan dengan cara yang hemat air, rendah emisi, dan tetap produktif," ungkap CEO Pandawa Agri Indonesia, Kukuh Roxa.
Ketahanan Pangan dan Pengendalian Inflasi
Program yang mencakup berbagai aspek ini mendapatkan dukungan dari Bank Indonesia, yang menganggap inisiatif ini sebagai langkah strategis untuk memperkuat stabilitas harga pangan dalam jangka menengah hingga panjang. Dengan meningkatkan produktivitas, program ini bertujuan untuk memastikan ketersediaan pasokan pangan.
Dukungan yang diberikan juga sejalan dengan pelaksanaan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP), yang menekankan pentingnya peningkatan produktivitas dan nilai tambah dari komoditas pangan lokal.
Melalui program ini, Bank Indonesia berupaya mendorong kolaborasi di antara seluruh mitra kerja untuk memperkuat kapasitas produksi serta meningkatkan daya saing pangan daerah.
Pengembangan padi biofortifikasi dianggap sejalan dengan strategi pengendalian inflasi, mengingat bahwa beras merupakan komoditas dengan kontribusi terbesar terhadap inflasi di Banyuwangi. Selain berfungsi untuk menjaga stabilitas harga, program ini juga berperan dalam peningkatan gizi masyarakat secara keseluruhan.
Dengan dukungan yang kuat dari Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, ekosistem yang dibangun terus berkembang dan ditargetkan dapat mencakup hingga 500 hektar lahan budidaya pada tahun depan. Hal ini diharapkan dapat berkontribusi langsung terhadap pencapaian tujuan nasional dalam penurunan angka stunting serta mitigasi perubahan iklim.
"Kolaborasi ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah dapat menjadi katalisator kuat untuk perubahan sistemik," ungkap Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani. Dia menambahkan, "Dengan mengintegrasikan varietas bergizi tinggi, praktik budidaya yang adaptif terhadap iklim, dan akses pasar yang andal, kami mendorong desa-desa tumbuh menjadi pusat inovasi," tutupnya.