Bulog Pastikan Penyaluran Beras SPHP 2026 Berlangsung Sepanjang Tahun untuk Jaga Stabilitas Harga

Perum Bulog berkomitmen penuh untuk melaksanakan Penyaluran Beras SPHP 2026 secara konsisten sepanjang tahun, sebuah langkah strategis guna menjaga stabilitas harga pangan dan daya beli masyarakat di seluruh Indonesia.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Bulog Pastikan Penyaluran Beras SPHP 2026 Berlangsung Sepanjang Tahun untuk Jaga Stabilitas Harga
Perum Bulog berkomitmen penuh untuk melaksanakan Penyaluran Beras SPHP 2026 secara konsisten sepanjang tahun, sebuah langkah strategis guna menjaga stabilitas harga pangan dan daya beli masyarakat di seluruh Indonesia. (AntaraNews)

Perum Bulog mengumumkan komitmennya untuk melaksanakan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras sepanjang tahun 2026. Keputusan ini diambil guna memastikan ketersediaan pasokan dan menjaga stabilitas harga beras di pasaran. Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan bahwa langkah ini merupakan strategi penting untuk melindungi daya beli masyarakat dari gejolak harga.

Berbeda dengan tahun sebelumnya yang penyalurannya terputus-putus, program SPHP beras di tahun 2026 ini direncanakan berjalan tanpa henti. Konsistensi penyaluran ini diharapkan dapat memberikan intervensi pasar yang lebih efektif dalam meredam gejolak harga. Rizal menyampaikan hal tersebut dalam sebuah jumpa pers bertajuk Capaian Krusial Bulog 2025 dan Langkah Strategis 2026, di Jakarta.

Intervensi pasar yang berkelanjutan melalui SPHP ini menjadi krusial mengingat pengalaman tahun 2025. Pada tahun tersebut, penyaluran SPHP sempat dihentikan sementara saat panen raya. Penghentian itu bertujuan agar harga gabah petani tetap terjaga sesuai arahan pemerintah, sebelum akhirnya dilanjutkan kembali pada Juli 2025.

Ahmad Rizal Ramdhani menjelaskan bahwa penyaluran beras SPHP pada tahun 2025 hanya berlangsung sekitar delapan bulan, mengikuti kebijakan penugasan pemerintah yang bersifat tidak penuh. Situasi ini menyebabkan intervensi pasar kurang maksimal dalam meredam fluktuasi harga. Oleh karena itu, Bulog bertekad untuk memastikan Penyaluran Beras SPHP 2026 berjalan secara konsisten dari Januari hingga Desember.

Konsistensi penyaluran ini diharapkan dapat menjadi tameng efektif terhadap gejolak harga beras di pasaran. Dengan pasokan yang stabil dan harga yang terkontrol, daya beli masyarakat dapat lebih terlindungi. Hal ini juga menjadi upaya Bulog untuk memberikan kepastian ketersediaan pangan pokok bagi seluruh lapisan masyarakat.

Pada awal tahun 2025, pemerintah sempat menyalurkan SPHP pada Januari-Februari karena penurunan produksi beras, dengan realisasi distribusi mencapai 181 ribu ton. Namun, penyaluran dihentikan saat memasuki panen raya untuk menjaga harga gabah petani. Setelah panen raya, penyaluran SPHP dibuka kembali sejak Juli 2025 dan ditargetkan mencapai 1,3 juta ton hingga Desember 2025, bersamaan dengan bantuan pangan 10 kilogram.

Meskipun berkomitmen menyalurkan SPHP sepanjang tahun, Bulog tetap menerapkan strategi penyesuaian volume distribusi. Penyesuaian ini dilakukan terutama saat puncak panen raya, yaitu pada bulan Maret, April, dan Agustus. Tujuannya adalah agar Penyaluran Beras SPHP tidak menekan harga gabah petani di sentra produksi.

Rizal menjelaskan bahwa di daerah-daerah sentra produksi pangan seperti Jawa, Sumatera, Sulawesi Selatan, dan NTB, volume SPHP akan dikurangi. "Di saat puncak musim panen bulan Maret dan April termasuk Agustus, itu penyaluran SPHP di daerah-daerah sentra produksi, SPHP-nya dikurangin. Dikecilkan volumenya. Tapi tetap dilakukan supaya apa? Tidak tumpah banyak di pasaran," ujarnya.

Strategi ini memastikan bahwa meskipun volume dikurangi, SPHP tetap berjalan untuk menjaga stabilitas. Sementara itu, bagi daerah-daerah di luar sentra produksi pangan, penyaluran SPHP akan tetap berjalan normal sepanjang tahun. Hal ini menjamin ketersediaan beras terjangkau bagi masyarakat yang membutuhkan di seluruh wilayah Indonesia.

Untuk tahun 2026, Bulog menetapkan target Penyaluran Beras SPHP sebanyak 1,5 juta ton. Angka ini sama dengan target yang ditetapkan pada tahun 2025, meskipun realisasi tahun 2025 hanya mencapai 802.939 ton. Target 1,5 juta ton ini diharapkan dapat secara signifikan berkontribusi pada stabilitas harga dan keterjangkauan beras bagi masyarakat luas.

Beras SPHP akan dijual sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah. HET ini bervariasi berdasarkan zona wilayah untuk memastikan harga yang adil dan terjangkau di berbagai daerah. Penetapan HET ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mengendalikan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat.

Berikut adalah rincian Harga Eceran Tertinggi (HET) beras SPHP per kilogram:

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi