Terbaru, Ini Perempuan Paling Kaya di Indonesia, Kalahkan Chairul Tanjung dan Sukanto Tanoto
Namun ada yang menarik dalam daftar Forbes ini. Ada nama perempuan yang bertengger di posisi nomor 8 orang paling kaya di Indonesia. Dia adalah Marina Budiman.
Forbes kembali merilis daftar orang paling kaya di dunia, termasuk di Indonesia. Dalam daftar terbaru ini, sejumlah nama lama masih mendominasi, namun posisi mereka mengalami pergeseran menarik. Seperti Low Tuck Kwong, raja batu bara ini jarang menduduki peringkat pertama sebagai orang terkaya di Indonesia. Namun, pada edisi Mei 2025, pendiri Bayan Resources itu menjadi orang paling kaya di Indonesia.
Namun ada yang menarik dalam daftar Forbes ini. Ada nama perempuan yang bertengger di posisi nomor 8 orang paling kaya di Indonesia. Dia adalah Marina Budiman.
Marina menurut Forbes memiliki kekayaan USD 4,9 miliar atau sekitar Rp80,8 triliun. Marina Budiman adalah salah satu pendiri dan presiden komisaris perusahaan pusat data DCI Indonesia.
Total kekayaan Marina ini mengalahkan Chairul Tanjung yang tercatat hanya memilik kekayaan USD 4,3 miliar. Selain itu, kekayaan Marina Budiman juga mengalahkan Sukanto Tanoto yang kini memiliki kekayaan US3,3 miliar.
Marina yang saat ini berusia 63 tahun mendirikan DCI pada tahun 2011 bersama Otto Toto Sugiri dan Han Arming Hanafia.
Marina yang merupakan lulusan Universitas Toronto ini sempat bekerja dengan Sugiri di Bank Bali pada tahun 1985 dan bergabung dengan perusahaan IT Sigma Cipta Caraka pada tahun 1989.
Dia mendirikan Indonet, penyedia layanan internet pertama di Indonesia, pada tahun 1994. Dia dan para pendiri lainnya menjual saham mereka pada tahun 2023.
Daftar Terbaru Orang Paling Kaya di Indonesia
Berikut daftar lengkap lima konglomerat paling tajir di Indonesia versi Forbes, lengkap dengan latar belakang bisnisnya:
Low Tuck Kwong – Rp454 Triliun
Dinobatkan sebagai orang terkaya di Indonesia, Low Tuck Kwong memiliki kekayaan fantastis sebesar USD 27,7 miliar atau sekitar Rp454 triliun. Dikenal sebagai "raja batu bara", pria kelahiran Singapura ini merupakan pendiri Bayan Resources, salah satu perusahaan tambang batu bara terbesar di Tanah Air.
Selain itu, Low juga aktif di sektor energi terbarukan lewat Metis Energy di Singapura, serta memiliki saham di Samindo Resources dan The Farrer Park Company. Ia juga mendukung pembangunan kabel laut SEAX Global yang menghubungkan Singapura, Indonesia, dan Malaysia untuk konektivitas internet.
R. Budi Hartono – Rp373 Triliun
R. Budi Hartono menempati posisi kedua dengan kekayaan USD 22,6 miliar atau sekitar Rp373 triliun. Bersama sang adik, Michael Hartono, keluarga ini dikenal luas lewat Bank Central Asia (BCA) dan perusahaan rokok Djarum.
Kekayaan keluarga Hartono melonjak setelah membeli saham BCA dari keluarga Salim saat krisis moneter Asia 1997-1998. Kini, mereka menikmati hasil dari dua sektor yang sangat strategis: keuangan dan tembakau.
Michael Hartono – Rp359 Triliun
Michael "Bambang" Hartono berada di peringkat ketiga dengan total kekayaan USD 21,8 miliar (Rp359 triliun). Seperti sang kakak, sebagian besar kekayaan Michael bersumber dari BCA dan Djarum Group.
Meski lahir dari industri kretek, transformasi portofolio bisnis mereka menjadikan keluarga Hartono sebagai simbol kekayaan yang tak hanya bergantung pada industri tradisional.
Prajogo Pangestu – Rp331 Triliun
Pengusaha senior Prajogo Pangestu menempati posisi keempat dengan kekayaan sebesar USD 20,1 miliar (Rp331 triliun). Ia memulai bisnis dari sektor kayu dengan Barito Pacific Timber, yang kemudian berkembang menjadi Barito Pacific, grup usaha yang kini bergerak di petrokimia dan energi.
Setelah sukses melantai dengan perusahaan batu baranya, Petrindo Jaya Kreasi, pada 2023, ia kembali mencetak sejarah dengan mencatatkan Barito Renewables Energy di akhir tahun.
Sri Prakash Lohia – Rp138,6 Triliun
Di peringkat kelima ada Sri Prakash Lohia, pemilik grup Indorama Ventures, dengan total kekayaan USD 8,4 miliar (Rp138,6 triliun). Lohia dikenal sebagai raksasa industri kimia dan tekstil berbahan polyester.
Ia juga berhasil memperluas bisnisnya ke Nigeria lewat Indorama Eleme Petrochemicals dan sempat mengakuisisi perusahaan kimia Inggris, Old World Industries. Meski berdomisili di Inggris, pengaruh bisnisnya tetap besar di Indonesia.