Daftar Terbaru 10 Orang Terkaya Indonesia Versi Forbes, Masih Dipimpin Bos Tambang, Batu Bara
Forbes merilis Daftar 10 Orang Terkaya Indonesia Versi Forbes per Juli 2025.
Dinamika kekayaan para konglomerat di Indonesia terus menjadi sorotan publik. Per Juli 2025, majalah Forbes kembali merilis pembaruan Daftar 10 Orang Terkaya Indonesia Versi Forbes. Data terbaru ini menunjukkan pergeseran signifikan di posisi teratas.
Prajogo Pangestu, pendiri Barito Pacific Group, berhasil merebut kembali takhta orang terkaya di Indonesia. Ia menggeser Low Tuck Kwong yang sebelumnya menduduki posisi puncak. Perubahan ini mencerminkan fluktuasi nilai aset dan kinerja bisnis para taipan di tengah kondisi ekonomi global.
Daftar ini tidak hanya menampilkan nama-nama lama yang sudah dikenal luas. Ada juga beberapa pendatang baru yang menunjukkan potensi besar dalam lanskap bisnis nasional. Informasi ini penting untuk memahami arah investasi dan sektor-sektor yang sedang berkembang pesat di tanah air.
Prajogo Pangestu: Kembali ke Puncak Kekayaan
Prajogo Pangestu kini memimpin daftar orang terkaya di Indonesia. Kekayaannya tercatat mencapai US$33,7 miliar atau sekitar Rp551 triliun per 28 Juli 2025. Sumber kekayaan utama Prajogo berasal dari Barito Pacific Group, yang bergerak di sektor petrokimia, batu bara, dan energi terbarukan. Pria kelahiran Bengkayang, Kalimantan Barat, pada 13 Mei 1944 ini, memulai bisnisnya dari bawah dan berhasil membangun kerajaan bisnis yang masif.
Posisi kedua diduduki oleh Low Tuck Kwong, dengan kekayaan US$24,6 miliar atau sekitar Rp402 triliun per 28 Juli 2025. Pendiri Bayan Resources ini dikenal sebagai raja batu bara. Kekayaannya mengalami sedikit penurunan, menggeser posisinya dari puncak daftar orang terkaya.
Pergeseran posisi ini menunjukkan volatilitas pasar komoditas dan energi. Meskipun demikian, kedua konglomerat ini tetap menjadi kekuatan dominan dalam perekonomian Indonesia. Mereka terus memperluas portofolio bisnisnya di berbagai sektor strategis.
Dinamika Jajaran Elit: Hartono Bersaudara hingga Pendatang Baru
Dua bersaudara Hartono, Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono, tetap menjadi figur penting dalam daftar ini. Robert Budi Hartono berada di posisi ketiga dengan kekayaan US$21,5 miliar atau sekitar Rp351 triliun. Sementara itu, Michael Bambang Hartono menempati posisi keempat dengan US$20,7 miliar atau sekitar Rp338 triliun. Kekayaan mereka berasal dari Djarum Group dan kepemilikan saham di Bank Central Asia (BCA).
Sektor pusat data menunjukkan pertumbuhan signifikan dengan masuknya Otto Toto Sugiri dan Marina Budiman. Otto Toto Sugiri, pendiri PT DCI Indonesia Tbk, menempati posisi kelima dengan kekayaan US$15,3 miliar atau sekitar Rp250 triliun. Marina Budiman, Presiden Komisaris DCI Indonesia, menjadi wanita terkaya di Indonesia dan berada di posisi keenam dengan US$11,2 miliar atau sekitar Rp183 triliun.
Sri Prakash Lohia, pendiri Indorama Corporation, berada di posisi ketujuh dengan US$8,7 miliar atau sekitar Rp142 triliun. Perusahaannya berfokus pada petrokimia dan serat sintetis. Han Arming Hanafia menjadi pendatang baru yang menarik perhatian, menempati posisi kedelapan dengan US$7,2 miliar atau sekitar Rp117 triliun. Ia dikenal sebagai pendiri Indonet dan tokoh kunci di balik DCI Indonesia.
Tahir dan Keluarga, pemilik Mayapada Group, berada di posisi kesembilan dengan kekayaan US$6,2 miliar atau sekitar Rp101 triliun. Bisnis mereka meliputi perbankan, kesehatan, dan properti. Terakhir, Agoes Projosasmito melengkapi daftar 10 besar. Ia adalah Presiden Direktur Amman Mineral International, perusahaan pertambangan tembaga dan emas terbesar kedua di Indonesia, serta memiliki saham minoritas di Medco Energi Internasional dan Bumi Resources.
Daftar Lengkap 10 Orang Terkaya Indonesia Versi Forbes (Juli 2025)
- Prajogo Pangestu: US$33,7 miliar (sekitar Rp551 triliun)
- Low Tuck Kwong: US$24,6 miliar (sekitar Rp402 triliun)
- Robert Budi Hartono: US$21,5 miliar (sekitar Rp351 triliun)
- Michael Bambang Hartono: US$20,7 miliar (sekitar Rp338 triliun)
- Otto Toto Sugiri: US$15,3 miliar (sekitar Rp250 triliun)
- Marina Budiman: US$11,2 miliar (sekitar Rp183 triliun)
- Sri Prakash Lohia: US$8,7 miliar (sekitar Rp142 triliun)
- Han Arming Hanafia: US$7,2 miliar (sekitar Rp117 triliun)
- Tahir dan Keluarga: US$6,2 miliar (sekitar Rp101 triliun)
- Agoes Projosasmito: US$6,7 miliar (data Mei 2024, tetap di 10 besar Juli 2025)