Orang Superkaya Bayar Rp 6 Miliar untuk Kabur dari Timur Tengah dengan Jet Pribadi
Imbas perang Iran vs AS-Israel, sejumlah orang superkaya berupaya melarikan diri dari Timur Tengah.
Orang-orang superkaya dilaporkan membayar hingga £260.000 atau Rp 6 Miliar untuk melarikan diri dari Timur Tengah dengan jet pribadi.
Para elite kaya berbondong-bondong menuju Arab Saudi untuk keluar dari kawasan Teluk, ketika rudal dan drone Iran menghujani Abu Dhabi, Dubai, Qatar, dan Bahrain akhir pekan lalu — wilayah yang dihuni kalangan berada dan sebelumnya dianggap sebagai negara yang aman.
Riyadh kini menjadi jalur keluar utama bagi mereka yang mencari rute aman dari Timur Tengah, karena bandara di ibu kota Arab Saudi tersebut menjadi salah satu dari sedikit yang masih beroperasi.
Arab Saudi Negara Paling Aman
Namun perjalanan itu sangat mahal — perusahaan keamanan swasta dilaporkan memesan armada SUV untuk mengangkut orang-orang dalam perjalanan darat selama 10 jam dari Dubai menuju Riyadh, sebelum kemudian mencarter pesawat pribadi.
Dikutip dari Daily Mail, Selasa (3/3), di antara mereka yang dievakuasi terdapat eksekutif senior di perusahaan keuangan global dan individu dengan kekayaan tinggi (high-net-worth individuals) yang sedang berlibur di kawasan tersebut atau melakukan perjalanan bisnis, menurut Semafor.
Lonjakan tajam permintaan untuk jalur keluar darurat mendorong harga SUV dan jet pribadi melonjak. Dilaporkan bahwa biaya jet pribadi dari Riyadh ke Eropa kini mencapai hingga 350.000 dolar AS (£260.000) atau setara Rp 6 miliar.
Arab Saudi tampaknya menjadi negara paling aman saat ini untuk keluar dari Timur Tengah, setelah jalur keluar dari Oman ditutup menyusul serangan Iran terhadap pelabuhan dan kapal tanker minyak di negara tersebut pada Minggu.
Aturan Visa Dilonggarkan
Riyadh memiliki satu bandara internasional utama — Bandara Internasional King Khalid (RUH) — yang berjarak sekitar 35 kilometer dari pusat kota. Bandara ini memiliki lima terminal penumpang dan biasanya melayani penerbangan ke Eropa, Amerika, Asia, Timur Tengah, dan Afrika.
Aturan visa di Arab Saudi juga dilonggarkan, sehingga banyak warga negara kini bisa mendapatkan visa saat kedatangan, bukan harus mengurusnya terlebih dahulu. Hal ini membuat negara tersebut menarik sebagai jalur keluar darurat bagi banyak orang.
Meskipun sebelumnya Arab Saudi berhasil menghindari dampak utama serangan Iran akhir pekan lalu, pagi ini kilang minyak terbesar di dunia dilaporkan terkena serangan drone Iran.
Arab Saudi terpaksa menutup kilang minyak Ras Tanura, yang disebut sebagai “eskalasi signifikan” dalam perang AS-Israel melawan Iran, menurut seorang pakar.
Torbjorn Soltvedt, analis Timur Tengah di firma intelijen risiko Verisk Maplecroft, mengatakan hal ini menunjukkan bahwa infrastruktur energi Teluk kini “secara langsung berada dalam bidikan Iran.”
“Serangan ini juga kemungkinan akan mendorong Arab Saudi dan negara-negara Teluk tetangganya untuk semakin mendekat dan bergabung dalam operasi militer AS dan Israel melawan Iran,” ujarnya.
Serangan Drone
Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengonfirmasi bahwa dua drone berhasil dicegat dan dihancurkan sebelumnya hari ini.
Dalam pernyataannya, tidak disebutkan bahwa senjata tersebut ditembakkan oleh Iran.
Fasilitas energi Arab Saudi yang dijaga ketat sebelumnya juga pernah menjadi sasaran, terutama pada September 2019 ketika serangan drone dan rudal terhadap fasilitas Abqaiq dan Khurais sempat menghentikan lebih dari setengah produksi minyak mentah kerajaan tersebut.
Ras Tanura juga pernah diserang oleh kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran pada 2021.