Tahukah Anda Tambang GBC Sumbang 60% Produksi? Operasi Tambang Freeport Tertunda Hingga 2026
Operasi Tambang Freeport di area Grasberg Bloc Cave (GBC) Tembagapura tertunda hingga 2026 pasca longsor material basah, menunggu keputusan Inspektur Tambang dan perbaikan area terdampak.
Pengoperasian kembali tambang PT Freeport Indonesia (PTFI) di wilayah Tembagapura, Mimika, Papua Tengah, saat ini masih menanti keputusan resmi dari Inspektur Tambang Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Penundaan ini terjadi setelah insiden longsor material basah yang signifikan. Bupati Mimika, Johannes Rettob, menegaskan bahwa semua pihak harus menunggu hasil investigasi menyeluruh.
Insiden longsor material basah yang terjadi di area tambang bawah tanah Grasberg Bloc Cave (GBC) pada 8 September 2025 lalu menjadi penyebab utama terhentinya aktivitas. Area GBC sendiri merupakan tulang punggung produksi, menyumbang sekitar 60 persen dari total produksi biji tembaga dan emas PTFI. Akibatnya, Operasi Tambang Freeport Tertunda secara signifikan.
Manajemen PTFI melaporkan kepada Bupati Mimika bahwa proses pemulihan area terdampak akan memakan waktu berbulan-bulan. Bahkan, diperkirakan area tambang bawah tanah GBC baru dapat berproduksi kembali pada pertengahan 2026. Situasi ini tentu berdampak besar pada target produksi perusahaan.
Investigasi dan Penundaan Produksi Tambang GBC
Bupati Mimika, Johannes Rettob, menjelaskan bahwa kelanjutan operasi tambang Freeport di Tembagapura sangat bergantung pada hasil investigasi Inspektur Tambang. "Semua tergantung dari hasil investigasi Inspektur Tambang. Ini yang masih kita tunggu," kata John Rettob di Timika. Pernyataan ini menunjukkan pentingnya evaluasi resmi sebelum aktivitas penambangan dilanjutkan.
Longsor material basah di tambang bawah tanah GBC telah menyebabkan kerusakan parah. Volume material yang masuk diperkirakan mencapai sekitar 800 ribu ton dengan panjang hampir satu kilometer. Kondisi ini membuat area tersebut tidak aman untuk beroperasi, sehingga operasi tambang Freeport harus dihentikan sementara.
Menurut laporan manajemen PTFI, perbaikan area terdampak ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Diperkirakan proses pemulihan akan memakan waktu antara enam hingga delapan bulan sebelum tambang dapat kembali berproduksi. Penundaan ini secara langsung mempengaruhi jadwal produksi biji tembaga dan emas PTFI.
Dengan estimasi waktu pemulihan tersebut, produksi dari tambang GBC diperkirakan baru bisa dimulai kembali pada pertengahan tahun 2026. Penundaan ini menjadi tantangan besar bagi PTFI, mengingat kontribusi signifikan GBC terhadap total produksi perusahaan.
Dampak Insiden dan Upaya Pemulihan di Area Tambang
Insiden longsor material basah di GBC tidak hanya menyebabkan penundaan operasi tambang Freeport, tetapi juga menimbulkan kerugian besar. Area GBC, yang merupakan salah satu dari tiga lokasi tambang bawah tanah utama PTFI di Tembagapura, sangat vital bagi perusahaan. Dua lokasi lainnya adalah Deep Mill Level Zone (DMLZ) dan Big Gossan.
Ketiga area tambang ini membentuk jaringan terowongan bawah tanah yang luas, dikenal sebagai salah satu operasi penambangan bawah tanah terbesar di dunia. Dari lokasi-lokasi inilah PTFI menghasilkan mineral berharga seperti tembaga, emas, dan perak. Terhentinya produksi di GBC tentu akan mengurangi volume produksi secara keseluruhan.
PTFI kini mengandalkan produksi dari DMLZ dan Big Gossan untuk menjaga keberlangsungan operasionalnya. Namun, kedua area ini tidak dapat sepenuhnya menggantikan kapasitas produksi GBC yang sangat besar. Upaya pemulihan di GBC menjadi prioritas utama untuk mengembalikan kapasitas produksi PTFI.
Manajemen PTFI terus berkoordinasi dengan pihak berwenang, termasuk Inspektur Tambang, untuk memastikan proses pemulihan berjalan sesuai standar keselamatan dan lingkungan. Komitmen perusahaan terhadap keselamatan kerja dan pemulihan lingkungan tetap menjadi fokus utama di tengah tantangan ini.
Tragedi Kemanusiaan dan Apresiasi Pemerintah Daerah
Di balik penundaan operasi tambang Freeport, terdapat tragedi kemanusiaan yang mendalam. Insiden longsor material basah pada 8 September 2025 tersebut juga menelan korban jiwa. Tujuh pekerja kontraktor PTFI meninggal dunia dalam peristiwa nahas ini, meninggalkan duka bagi keluarga dan rekan kerja.
Bupati Mimika, John Rettob, menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas musibah ini. "Atas nama pemerintah dan seluruh masyarakat Kabupaten Mimika, kami menyampaikan duka cita yang mendalam kepada para korban dan keluarga atas peristiwa duka ini," ucap John Rettob. Pemerintah daerah turut merasakan kehilangan yang dialami.
Pemerintah Kabupaten Mimika juga memberikan apresiasi tinggi terhadap upaya yang dilakukan oleh PTFI dalam penanganan insiden. Tim tanggap darurat PTFI bekerja tanpa henti siang dan malam hingga ketujuh pekerja yang menjadi korban dapat ditemukan. Dedikasi ini menunjukkan komitmen perusahaan terhadap keselamatan karyawannya.
"Apa yang dilakukan oleh PTFI luar biasa, perusahaan betul-betul memperhatikan karyawan dan keluarganya," kata mantan Wakil Bupati Mimika periode 2019-2024 itu. Korban yang meninggal dunia antara lain Wigih Hartono, Irawan, Zaverius Magai, Holong Gembira Silaban, Dadang Hermanto, Balisang Telile (warga Afrika Selatan), dan Victor Bastida Ballesteros (warga Chili).
Jenazah Wigih Hartono dan Irawan ditemukan pada Sabtu, 20 September 2025. Sementara itu, lima pekerja lainnya yang merupakan karyawan PT Redpath Indonesia ditemukan bertahap pada Sabtu, 4 Oktober 2025, dan Minggu, 5 Oktober 2025. Proses evakuasi yang panjang dan sulit ini menunjukkan kompleksitas medan di area tambang.
Sumber: AntaraNews