Bos Freeport: Produksi Emas 26 ton Tahun 2026 Disuplai untuk Antam
Freeport saat ini baru mengoperasikan sekitar 30 persen kapasitas produksi dari zona Deep Mill Level Zone dan Big Gossan.
PT Freeport Indonesia (PTFI) menargetkan produksi emas pada 2026 mencapai sekitar 26 ton dan dipastikan seluruh volume tersebut akan dialokasikan khusus untuk Antam.
"Jadi, rencana produksi emas kita tahun 2026 itu kira-kira 26 ton. Itu seluruhnya direncanakan untuk Antam," kata Presiden Direktur Freeport Indonesia, Tony Wenas, saat ditemui usai menghadiri PLN CEO Forum, di ICE BSD, Tangerang Selatan, Rabu (26/11).
Sebagian besar kapasitas produksi yang akan digunakan untuk memasok Antam berasal dari fase pemulihan operasi tambang yang direncanakan mulai kembali normal pada 2026.
Ia menjelaskan, Freeport saat ini baru mengoperasikan sekitar 30 persen kapasitas produksi dari zona Deep Mill Level Zone dan Big Gossan, sementara 70 persen sisanya baru akan aktif kembali setelah GBC memulai produksi pada Maret 2026.
"Yang sekarang produksi yang berjalan itu adalah deep mill level zone dan juga Big Gossan. Itu hanya 30 persen. Yang 70 persen itu kan belum produksi. Dia baru akan produksi mulainya di bulan Maret 2026 rencananya. Dan ramp up atau akan bertahap, dia meningkat secara bertahap sampai akhir 2026," ujarnya.
Freeport Indonesia memastikan komitmen suplai emas untuk PT Antam Tbk tetap berjalan di tengah tekanan produksi yang menurun akibat penghentian operasional di area Grassroots Block Cave (GBC).
Antam Tetap Jadi Prioritas Freeport
Tony menambahkan bahwa sekalipun gangguan produksi terjadi lebih dari 50 hari, Freeport tetap mengutamakan pemenuhan kebutuhan Antam.
Keputusan ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan menjaga keberlanjutan pasokan bagi industri hilir mineral nasional. Ia menegaskan bahwa isu pasokan belum sepenuhnya selesai, namun prioritas penyaluran tetap berlaku.
"Tetap. Yang emas yang kita produksi itu kita utamakan untuk disuplai ke Antam," ujarnya.
Insiden Longsor
Sebelumnya, Freeport menyebut insiden longsor lumpur bijih yang terjadi pada awal September lalu telah merusak sejumlah infrastruktur pendukung produksi di area GBC.
Akibatnya, PTFI terpaksa menunda kegiatan produksi dalam jangka pendek pada kuartal IV-2025 hingga sepanjang 2026 di area tambang tersebut.
Sebagai informasi, tragedi longsor PT Freeport Indonesia (PTFI) di area tambang bawah tanah, tepatnya di GBC Extraction 2830 Panel menelan sejumlah jiwa. Peristiwa itu terjadi pada Senin malam 8 September 2025.