Fakta Unik: Produksi Freeport Smelter Gresik Terhenti Total Sejak 8 September Akibat Longsor Tambang Papua
Operasional Freeport Smelter Gresik dihentikan total sejak 8 September menyusul longsor di tambang Grasberg Papua, memicu evaluasi mendalam dan pertanyaan tentang dampaknya.
PT Freeport Indonesia (PTFI) mengumumkan penghentian operasional smelter mereka di Gresik, Jawa Timur, menyusul insiden longsor lumpur bijih basah di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) di Papua. Keputusan ini diambil setelah pasokan konsentrat terhenti total sejak 8 September 2023. Insiden tersebut terjadi di area Panel Ekstraksi 28-30 di Tembagapura, Papua Tengah.
Direktur Utama PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, menjelaskan bahwa penghentian aktivitas penambangan di GBC dilakukan untuk memfokuskan upaya evakuasi tujuh pekerja yang terjebak. Proses pencarian dan evakuasi telah rampung pada 6 Oktober, dengan seluruh korban berhasil ditemukan. Namun, kegiatan penambangan belum kembali normal.
Meski evakuasi telah selesai, operasional penambangan di GBC masih ditangguhkan guna memungkinkan investigasi komprehensif. PTFI bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk melakukan evaluasi keselamatan menyeluruh. Smelter Freeport di Gresik kini tidak menerima pasokan konsentrat dari sumber lain, sehingga produksinya terhenti.
Kronologi Penghentian Operasional Smelter Freeport Gresik
Penghentian operasional smelter Freeport Gresik bermula dari insiden longsor lumpur bijih basah pada 8 September 2023. Peristiwa ini terjadi di area Panel Ekstraksi 28-30 tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) di Tembagapura, Papua Tengah. Akibatnya, pasokan konsentrat yang menjadi bahan baku utama smelter terhenti secara total.
Tony Wenas, Direktur Utama PT Freeport Indonesia, menegaskan bahwa prioritas utama perusahaan saat itu adalah keselamatan. “Saat ini, operasi bisa dibilang berhenti karena tidak ada konsentrat,” ujar Wenas di sela-sela Indonesia International Sustainability Forum (IISF) di Jakarta. Pernyataan ini menggarisbawahi dampak langsung insiden terhadap produksi.
Setelah insiden, seluruh sumber daya difokuskan pada upaya evakuasi tujuh pekerja yang terjebak di area tambang. Proses pencarian berlangsung intensif selama hampir satu bulan. Pada 6 Oktober, PTFI mengumumkan bahwa seluruh korban telah berhasil ditemukan, menandai berakhirnya fase evakuasi.
Meskipun demikian, kegiatan penambangan di GBC belum dilanjutkan. PTFI bersama Kementerian ESDM sedang melakukan investigasi mendalam untuk mengidentifikasi penyebab longsor. Evaluasi keselamatan menyeluruh juga menjadi fokus utama sebelum operasional tambang dapat kembali berjalan.
Dampak dan Langkah Selanjutnya bagi Freeport Smelter Gresik
Terhentinya pasokan konsentrat secara otomatis menghentikan operasional smelter Freeport Gresik. Smelter yang berlokasi di Jawa Timur ini tidak dapat menerima bahan baku dari tambang GBC maupun sumber lainnya. Situasi ini tentu berdampak signifikan pada target produksi perusahaan.
PT Freeport Indonesia saat ini tengah menjajaki berbagai opsi untuk dapat melanjutkan produksi. Tony Wenas menyatakan bahwa perusahaan sedang mencari solusi alternatif guna mengatasi ketiadaan pasokan konsentrat. Langkah-langkah strategis sedang dirumuskan untuk meminimalkan kerugian dan memastikan keberlanjutan operasional.
Dampak finansial dan produksi dari penangguhan operasi selama lebih dari satu bulan ini akan segera dievaluasi. Perusahaan akan mengkaji secara komprehensif bagaimana penghentian ini mempengaruhi kinerja produksi secara keseluruhan. Prioritas utama PTFI saat ini adalah restorasi area tambang setelah proses evakuasi selesai.
“Kami tetap fokus pada restorasi, investigasi, dan evaluasi selanjutnya,” kata Wenas. Pernyataan ini menunjukkan komitmen Freeport terhadap pemulihan dan peningkatan standar keselamatan. Kolaborasi dengan pemerintah menjadi kunci dalam memastikan semua prosedur dipenuhi sebelum aktivitas penambangan dapat dilanjutkan kembali.
Sumber: AntaraNews