Serikat Pekerja eFishery Ungkap Ada 100 Karyawan di-PHK, Perusahaan Terancam Tutup
Pemangkasan akan terus berlanjut di bulan Februari dengan jumlah yang lebih banyak dan bahkan mengarah pada penutupan perusahaan.
Serikat Pekerja PT Multidaya Teknologi Nusantara (SPMTN), yang lebih dikenal sebagai eFishery mengungkapkan bahwa sebanyak 100 karyawan eFishery terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK) pada Januari 2025.
Sekretaris Jenderal SPMTN, Icad mengatakan, mayoritas dari jumlah tersebut adalah karyawan kontrak eFishery. Dia bilang pemangkasan akan terus berlanjut di bulan Februari dengan jumlah yang lebih banyak dan bahkan mengarah pada penutupan perusahaan.
"Untuk gelombang pertama ini di Januari ada 100 (orang). Itu karyawan mayoritas kontrak. Dan ya, kita dengar kabar Februari ini akan ada yang lebih besar lagi gelombangnya gitu, yang mengarah ke penutupan perusahaan," kata Icad kepada saat ditemui media, Jakarta, Jumat (31/1).
Meskipun terjadi PHK, Icad menegaskan hak para karyawan yang terdampak tetap dipenuhi. Namun, yang disayangkan adalah sikap manajemen perusahaan yang tidak memberikan alasan yang jelas atas keputusan tersebut, meninggalkan banyak pertanyaan dan kekecewaan di kalangan pekerja.
SPMTN menduga, PHK yang dilakukan perusahaan sengaja dilakukan untuk menghindari pembayan Tunjangan Hari Raya (THR).
"Indikasinya yang kita baca juga, untuk menghindari pembayaran THR, gitu. Mungkin itu sih kurang lebih yang bisa kita sampaikan," ungkapnya.
Ajukan Pengaduan ke Kemenaker
Untuk mendapatkan kejelasan terkait PHK ini, pihaknya telah mengajukan pengaduan ke Kementerian Ketenagakerjaan dan bertemu langsung dengan Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Immanuel Ebenezer, pada Jumat (31/1).
Icad pun berharap pertemuan tersebut membuahkan hasil yang positif, sehingga eFishery tidak melakukan PHK lanjutan, apalagi sampai berujung pada penutupan perusahaan.
"Nah, jadi tadi kita menyatakan keresahan kita lah ya kepada Bapak Wakil Menteri. Bahwa kita berharap eFishery itu tidak ditutup. Bahwa kita berharap PHK Massal itu tidak terjadi. Ya agar, apa namanya, kan pemerintah itu sangat peduli ya terhadap keberlanjutan pekerja ya gitu ya. Jadi dukungan itu yang kita minta sih tadi. Dan itu diberikan oleh Kementerian Ketenagakerjaan," harapnya.
Respons Kemenaker
Merespons hal tersebut, Wamenaker Immanuel meminta kepada pihak perusahaan untuk tidak melakukan PHK terhadap pekerjaanya. Dia menyebut Presiden Prabowo Subianto telah memberikan mandat supaya tidak ada PHK kedua, setelah adanya PHK massal yang terus terjadi belakangan ini.
"Karena kan kita mau ke depan ini kita tetap ikut arahan presiden bahwa gelombang PHK coba ditahan dulu supaya tidak ada kedua. Apalagi kan sebetulnya fraud itu dilakukan oleh manajemen. Yang seharusnya jangan dikorbankan pekerjanya, buruhnya," ucap Immanuel.
Noel sapaan akrabnya berencana akan mendatangi eFishery untuk meminta klarifikasi terkait masalah yang tengah terjadi di dalam perusahaan tersebut.
"Ya mungkin minggu depan. Tergantung undangan kawan-kawan lah. Karena kami juga nggak mau seperti jalangkung ya datang tidak diundang," tambah Noel.
Dugaan Penggelapan Dana
Diberitakan sebelumnya, Startup Indonesia sedang dihebohkan oleh isu dugaan penggelapan dana yang melibatkan manajemen eFishery. Perusahaan yang fokus pada sektor akuakultur ini diduga telah melakukan manipulasi pada laporan keuangannya.
Menurut informasi yang diambil dari The Straits Times, dugaan ini terungkap setelah eFishery melakukan investigasi internal menyusul adanya laporan dari whistleblower. Hasil dari penyelidikan tersebut menunjukkan beberapa temuan signifikan, termasuk dugaan manipulasi laporan keuangan.
eFishery diduga telah melebih-lebihkan pendapatannya hingga hampir mencapai USD 600 juta atau setara dengan Rp9,7 triliun (dengan kurs Rp16.270) dalam periode Januari hingga September 2024. Penggelembungan dana ini diduga telah terjadi sejak tahun 2018.
Selain itu, terdapat juga temuan mengenai jumlah perangkat smart feeder yang tidak sesuai, di mana jumlah yang sebenarnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan angka yang dilaporkan. eFishery mengklaim memiliki lebih dari 400.000 tempat pakan ikan yang beroperasi, namun investigasi awal memperkirakan hanya sekitar 24.000 yang berfungsi.
Lebih jauh, ditemukan juga indikasi bahwa manajemen eFishery telah menyembunyikan kerugian dari para investor. Manajemen melaporkan kepada investor bahwa perusahaan memperoleh laba sebesar USD16 juta dan pendapatan sebesar US$752 juta selama periode yang sama.
Namun, hasil penyelidikan internal menunjukkan bahwa eFishery mengalami kerugian sekitar US$35,4 juta dalam periode tersebut. Pendapatan perusahaan diperkirakan hanya mencapai sekitar USD157 juta.