Sekjen PBB: Investasi Energi Bersih Global Tembus Rp37 Kuadriliun, Dorong Percepatan Transisi Energi
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengungkapkan Investasi Energi Bersih Global diperkirakan mencapai Rp37 kuadriliun pada 2025, menandai percepatan transisi energi signifikan. Namun, tantangan infrastruktur masih membayangi.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengumumkan bahwa Investasi Energi Bersih Global terus menunjukkan peningkatan signifikan. Nilainya diperkirakan menembus 2,2 triliun dolar AS atau sekitar Rp37 kuadriliun pada tahun 2025 mendatang. Angka fantastis ini dua kali lipat dari total belanja energi berbasis bahan bakar fosil secara global.
Pernyataan tersebut disampaikan Guterres dalam Sidang Majelis Umum Ke-16 Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA) yang berlangsung di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada Minggu. Guterres menegaskan lonjakan investasi ini mencerminkan percepatan transisi energi global yang semakin menguat. Hal ini seiring komitmen kuat negara-negara di dunia dalam menekan emisi gas rumah kaca.
Peningkatan Investasi Energi Bersih Global ini menjadi kabar baik di tengah tantangan perubahan iklim. Upaya pemangkasan emisi perlu dilakukan lebih cepat, lebih dalam, dan di semua sektor. Fokus utama meliputi pengurangan penggunaan bahan bakar fosil serta percepatan besar-besaran energi terbarukan.
Tantangan dan Overshoot Suhu Global
Antonio Guterres mengingatkan bahwa konferensi iklim COP30 di Belém telah mengakui dunia akan menghadapi overshoot sementara di atas batas kenaikan suhu 1,5 derajat Celsius. Oleh karena itu, tugas utama adalah membuat overshoot tersebut sekecil dan sesingkat mungkin. Hal ini menuntut pemangkasan emisi lebih cepat, lebih dalam, dan di semua sektor.
Upaya ini mencakup pengurangan penggunaan bahan bakar fosil secara drastis, percepatan besar-besaran energi terbarukan, serta peningkatan efisiensi energi. Guterres optimis, “Kabar baiknya, dunia tidak pernah berada dalam posisi sebaik sekarang untuk mewujudkannya,” ujarnya. Teknologi energi terbarukan, seperti tenaga surya dan angin, terus mencetak rekor baru dalam kapasitas dan efisiensi.
Transisi menuju energi bersih kini bersifat “tak terhentikan dan tidak dapat dibalikkan” menurut Sekjen PBB. Meskipun demikian, percepatan teknologi dan Investasi Energi Bersih Global dalam pembangkit belum sepenuhnya diimbangi kesiapan infrastruktur pendukung. Kesenjangan ini menjadi krusial untuk memastikan keberlanjutan transisi energi.
Kesenjangan Infrastruktur dan Akses Pembiayaan
Meskipun Investasi Energi Bersih Global untuk pembangkit terus meningkat, Guterres menyoroti adanya kesenjangan signifikan dalam investasi infrastruktur pendukung. Pada tahun lalu, dunia mengalokasikan sekitar 1 triliun dolar AS untuk pembangunan pembangkit energi bersih. Namun, investasi untuk jaringan listrik dan infrastruktur penunjang jumlahnya masih kurang dari separuhnya.
Beberapa hambatan utama yang masih dihadapi meliputi lambatnya proses perizinan dan keterbatasan kapasitas jaringan listrik. Tekanan pada rantai pasok global juga turut memperlambat pengembangan infrastruktur. Kondisi ini menghambat laju optimalisasi pemanfaatan energi bersih yang telah diproduksi.
Selain itu, banyak negara berkembang, terutama di kawasan Afrika, masih kesulitan memperoleh akses pembiayaan terjangkau. Padahal, wilayah-wilayah ini memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar. Kesenjangan ini memperparah ketidakseimbangan dalam transisi energi global dan memerlukan perhatian serius dari komunitas internasional.
Rekomendasi untuk Transisi Energi yang Efektif
Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, Guterres mendorong Investasi Energi Bersih Global yang lebih besar pada jaringan listrik modern dan fleksibel. Penguatan interkoneksi regional juga sangat penting untuk memastikan pasokan energi yang stabil dan efisien. Pengembangan sistem penyimpanan energi, seperti baterai, juga krusial guna menjaga keandalan pasokan listrik.
Lebih lanjut, Guterres menekankan pentingnya perluasan infrastruktur pengisian kendaraan listrik. Ini diperlukan untuk mendukung elektrifikasi sektor transportasi yang menjadi bagian integral dari transisi energi. Langkah-langkah ini akan menciptakan ekosistem energi bersih yang lebih terintegrasi dan responsif terhadap kebutuhan.
Sekjen PBB juga menyerukan reformasi kebijakan dan regulasi yang jelas agar pasar energi menjadi lebih efisien dan transparan. Pemerintah harus memberikan kepastian aturan, jadwal yang dapat diprediksi, serta proses perizinan yang lebih cepat. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan investor dan mempercepat laju Investasi Energi Bersih Global.
Sumber: AntaraNews