Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengungkapkan bahwa investasi global dalam energi bersih terus meningkat signifikan pada tahun 2025. Angka ini mencapai rekor USD2,2 triliun, dua kali lipat dari investasi bahan bakar fosil secara global. Hal ini menegaskan transisi global yang tak terhindarkan dari bahan bakar fosil.
Pernyataan tersebut disampaikan Guterres secara virtual dalam Sidang ke-16 Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA) di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Ia menekankan bahwa transisi energi bersih tidak dapat dihentikan dan bersifat ireversibel. Kemajuan pesat dalam teknologi terbarukan serta penurunan biaya di berbagai sektor menjadi pendorong utama.
Meskipun momentum positif ini terus berlanjut, Guterres memperingatkan bahwa pengembangan infrastruktur belum sejalan dengan kemajuan teknologi. Kondisi ini berpotensi memperlambat transisi jika tidak segera ditangani secara serius. Oleh karena itu, langkah-langkah strategis mendesak sangat dibutuhkan untuk mengatasi kesenjangan ini.
Advertisement
Advertisement
Investasi energi bersih global menunjukkan lonjakan luar biasa, mencapai USD2,2 triliun pada tahun 2025, sebuah pencapaian rekor. Angka ini secara signifikan melampaui investasi pada energi bahan bakar fosil di seluruh dunia. Ini menggarisbawahi komitmen global yang kuat terhadap keberlanjutan.
Pada tahun 2024, dunia menginvestasikan sekitar USD1 triliun untuk pembangkit listrik bersih. Namun, pengeluaran untuk jaringan listrik dan infrastruktur terkait masih kurang dari separuh jumlah tersebut. Kesenjangan ini menciptakan hambatan serius bagi percepatan transisi energi.
Guterres menyoroti beberapa kendala persisten yang menghambat kemajuan transisi energi bersih. Kendala tersebut meliputi proses perizinan yang panjang, kapasitas jaringan yang tidak memadai, kemacetan dalam rantai pasokan, dan tekanan yang meningkat pada pasar mineral kritis. Semua faktor ini memerlukan perhatian dan solusi terpadu.
Advertisement
Advertisement
Banyak negara berkembang, terutama di Afrika, masih menghadapi kendala besar dalam mengakses pembiayaan yang terjangkau. Situasi ini terjadi meskipun mereka memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar. Kesenjangan pembiayaan ini menghambat kemampuan mereka untuk memanfaatkan sumber daya bersih.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Guterres menyerukan investasi besar-besaran pada jaringan listrik modern dan fleksibel. Selain itu, diperlukan interkoneksi lintas batas yang lebih kuat serta peningkatan cepat penyimpanan baterai. Langkah-langkah ini penting untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan serta menjaga keandalan sistem.
Sekretaris Jenderal PBB juga menekankan perlunya memperluas jaringan pengisian kendaraan listrik. Hal ini bertujuan untuk mendukung elektrifikasi transportasi dan mengurangi emisi dari salah satu sektor pencemar terbesar di dunia. Investasi pada infrastruktur ini krusial untuk mencapai target lingkungan.
Advertisement
Advertisement
Guterres mendesak pemerintah untuk melakukan reformasi kebijakan dan regulasi yang jelas. Tujuannya adalah membuat pasar energi lebih efisien, transparan, dan menarik bagi investor jangka panjang. Kepastian kebijakan sangat penting untuk membuka modal swasta dalam skala besar.
“Pemerintah harus menyediakan aturan yang jelas, jadwal yang dapat diprediksi, dan perizinan yang lebih cepat,” tegas Guterres. Kepastian ini akan mendorong investasi yang diperlukan untuk transisi energi bersih. Tanpa kerangka kerja yang stabil, kemajuan akan terhambat.
Guterres mengingatkan bahwa konferensi iklim COP30 di Belém mengakui kemungkinan dunia akan sementara melampaui ambang batas pemanasan global 1,5 derajat Celsius. “Tugas kita jelas: membuat overshoot itu sekecil dan sesingkat mungkin,” katanya, memperingatkan bahwa penundaan akan meningkatkan risiko iklim jangka panjang yang serius.
Advertisement
Mencapai tujuan tersebut membutuhkan pengurangan emisi yang lebih cepat, lebih dalam, dan di mana pun. Ini termasuk mempercepat peralihan dari bahan bakar fosil, memperluas energi terbarukan dengan cepat, dan meningkatkan efisiensi energi secara tajam di seluruh dunia.
Sumber: AntaraNews