Realisasi Kontrak Baru WIKA Anjlok 81,4%, Ini Penyebabnya
PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) mengumumkan bahwa mereka berhasil memperoleh proyek pekerjaan umum yang dijadwalkan untuk semester II tahun 2025.
PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) menginformasikan bahwa realisasi kontrak baru mengalami penurunan yang signifikan hingga kuartal III 2025. Penurunan ini mencapai 81,42% dibandingkan dengan tahun 2022, yang disebabkan oleh efisiensi APBN yang diterapkan oleh pemerintah.
Direktur Utama Wika, Agung Budi Waskito, mengakui bahwa sebagai perusahaan BUMN, mereka sangat bergantung pada proyek-proyek pemerintah. Penekanan ini semakin terasa dengan adanya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025.
"Kami harus akui bahwa tahun 2025 adalah tahun yang kami sangat tertekan, khususnya di omzet kontrak. Dengan adanya Inpres Nomor 1 Tahun 2025, di mana efisiensi daripada APBN ini secara otomatis memang proyek di pemerintah berkurang cukup jauh," ujarnya dalam sesi public expose pada Rabu (12/11/2025).
Agung menambahkan, "Beruntung di semester II, khususnya di kuartal ketiga dan kuartal keempat kita di proyek PU ada beberapa penugasan sekolah rakyat, irigasi. Sehingga menambah kontrak-kontrak yang ada di Wika, khususnya di kuartal keempat."
Jika diteliti dari tren yang ada, Wika sempat mengalami peningkatan jumlah kontrak baru antara tahun 2020 hingga 2022. Angka tersebut meningkat dari Rp 23,37 triliun pada tahun 2020 menjadi Rp 26,80 triliun pada tahun 2021, dan melonjak menjadi Rp 33,35 triliun pada tahun 2022. Namun, setelah periode tersebut, perolehan kontrak baru perusahaan mengalami penurunan yang signifikan. Pada tahun 2023, kontrak baru mencapai Rp 29,24 triliun, diikuti dengan Rp 20,65 triliun pada tahun 2024, dan hanya Rp 6,19 triliun pada kuartal III 2025.
Agung juga menjelaskan, "Jadi memang kalau kita lihat, sebenarnya infra boom terjadi sampai tahun 2022. Kemudian 2023 kita mulai turun, 2024 mulai adanya pemilihan presiden dan pilkada, sehingga ada penurunan yang cukup drastis." Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa faktor eksternal seperti politik dapat mempengaruhi kinerja kontrak perusahaan. Dengan kondisi yang ada, Wika harus beradaptasi dan mencari peluang baru untuk meningkatkan jumlah kontrak yang diperoleh di masa mendatang.
Pede diperkirakan akan mengamankan kontrak senilai Rp 17 triliun pada tahun 2025
Meskipun demikian, Agung tetap yakin bahwa Wika dapat meningkatkan perolehan kontrak baru hingga hampir tiga kali lipat pada akhir tahun ini dibandingkan dengan hasil yang diperoleh pada kuartal III 2025. Hal ini disebabkan oleh adanya sejumlah proyek baru yang telah berhasil diperoleh, seperti proyek pembangunan sekolah rakyat, Jakarta Sewerage Development Project (JSDP), serta kontrak untuk sistem saluran air Bendungan Karian-Serpong.
"Puncaknya adalah di tahun 2025, mungkin kita akan sampai di kisaran Rp 17-18 triliun, dimana sampai Q3 kita baru mencapai Rp 6,2 triliun. Tapi Alhamdulillah di bulan Oktober, awal November, kita sudah ada tandatangan beberapa kontrak," imbuhnya.
"Ada penugasan di irigasi, sekolah rakyat, kita juga dapat proyek-proyek sewerage yang ada di DKI. Kemudian sambungan pipa yang ada di (Bendungan) Karian. Insya Allah di kuartal keempat kita akan mencapai di sekitar Rp 17 triliun," ungkapnya dengan penuh keyakinan.
Pilih proyek dengan cermat
Sehubungan dengan penurunan omzet kontrak, manajemen WIKA telah mengambil keputusan untuk lebih selektif dalam memilih proyek yang akan diambil oleh perusahaan.
"Kami menghindari proyek-proyek yang harus ada uang muka. Sehingga Alhamdulillah proyek-proyek yang kita dapatkan dalam 2-3 tahun terakhir hampir semuanya mempunyai profit yang baik, dan mempunyai cashflow operasi yang sangat baik," tuturnya.
Meskipun demikian, ia mengakui bahwa jumlah proyek yang diperoleh masih berkurang. "Namun memang jumlahnya masih berkurang, kami harus akui. Sehingga kontak turun mengurangi pipeline revenue, dan tentu penerimaan cash di perusahaan," pungkas Agung Budi Waskito.