Probolinggo Gelar Tanam Perdana Bongkar Ratoon Tebu 1.000 Hektare, Dukung Produksi Gula Nasional
Program tanam perdana bongkar ratoon tebu di Probolinggo mencapai 1.000 hektare pada tahun 2026, menjadi upaya krusial dalam meremajakan tanaman tebu dan mendukung produksi gula nasional.
Pemerintah Kabupaten Probolinggo siap mengoptimalkan sektor perkebunan tebu melalui program strategis nasional. Program tanam perdana bongkar ratoon tebu seluas 1.000 hektare dan perluasan areal tanam 200 hektare akan dilaksanakan pada tahun 2026. Inisiatif ini bertujuan meningkatkan produktivitas tebu di wilayah tersebut.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya peremajaan tanaman tebu yang produktivitasnya mulai menurun agar hasil panen dapat meningkat secara optimal. Bupati Probolinggo, Mohammad Haris, menyatakan komitmen penuh terhadap program ini. Pelaksanaan tanam perdana berlangsung di Desa Sekarkare, Kecamatan Dringu.
Program bongkar ratoon dan perluasan areal ini menjadi solusi penting untuk menggenjot hasil panen tebu. Dukungan dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta kolaborasi dengan petani diharapkan mampu memperkuat posisi Jawa Timur sebagai sentra produksi gula nasional.
Strategi Peningkatan Produktivitas Tebu di Probolinggo
Program bongkar ratoon merupakan strategi vital untuk meremajakan tanaman tebu yang sudah tua dan kurang produktif. Bupati Haris menekankan bahwa langkah ini akan berkontribusi signifikan pada peningkatan kualitas dan kuantitas tebu. Tujuannya adalah mendukung produksi gula nasional serta meningkatkan kesejahteraan petani tebu lokal.
Pada tahun 2026, Kabupaten Probolinggo menerima alokasi pengembangan kawasan tebu seluas 1.200 hektare. Dari total tersebut, 1.000 hektare dialokasikan untuk program bongkar ratoon. Sementara itu, 200 hektare sisanya diperuntukkan bagi perluasan areal tanam tebu yang baru.
Data tahun 2025 menunjukkan bahwa luas panen tebu di Kabupaten Probolinggo mencapai 2.459 hektare. Total produksi tebu tercatat sebesar 195.743,80 kuintal, dengan rata-rata produksi mencapai 79,6 kuintal per hektare. Potensi besar ini menjadi dasar kuat bagi pengembangan sektor perkebunan.
Kolaborasi Pusat dan Daerah untuk Swasembada Gula
Hingga 22 Mei 2026, progres usulan kegiatan tebu di Kabupaten Probolinggo telah mencapai angka signifikan. Sebanyak 617,81 hektare telah mendapatkan Surat Keputusan (SK) definitif untuk bongkar ratoon. Selain itu, 166,15 hektare lainnya telah disetujui untuk perluasan areal tanam.
Program ini tersebar di berbagai kecamatan di Probolinggo, meliputi Dringu, Tegalsiwalan, Maron, Banyuanyar, Gending, Leces, Pajarakan, Bantaran, Tongas, dan Sumberasih. Sebaran lokasi ini menunjukkan cakupan program yang luas dan merata. Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, petani, dan industri gula sangat diharapkan.
Tenaga Ahli Direktorat Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Kementan, Baginda Siagian, menegaskan bahwa program bongkar ratoon dan perluasan areal tebu adalah prioritas Presiden Prabowo Subianto. Jawa Timur, sebagai sentra utama produksi gula nasional, memiliki peran krusial dalam menyukseskan program ini.
Jawa Timur sebagai Sentra Produksi Gula Nasional
Peningkatan produktivitas tebu di Jawa Timur menjadi fokus utama pemerintah pusat, mengingat 90 persen target nasional berada di provinsi ini. Keberhasilan program ini memerlukan dukungan dari seluruh pihak terkait. Kementan akan terus berkolaborasi untuk menyosialisasikan program tersebut secara intensif.
Program tanam perdana bongkar ratoon tebu dan perluasan areal tebu tahun 2026 dilaksanakan serentak. Kegiatan ini mencakup 15 titik lokasi yang tersebar di 10 kabupaten di seluruh Jawa Timur. Ini menunjukkan skala program yang masif dan terkoordinasi.
Kabupaten Kediri menjadi lokasi utama pelaksanaan secara langsung, tepatnya di lahan tanam kebun Ngletih, Desa Ngletih, Kecamatan Kandat. Lokasi ini berada dalam wilayah kerja Pabrik Gula Ngadirejo. Sinergi antara petani, pemerintah, dan pabrik gula menjadi kunci keberhasilan.
Sumber: AntaraNews