Pertamina Pastikan Ketersediaan BBM Aman, DEN Imbau Masyarakat Tetap Tenang
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) menegaskan **ketersediaan BBM** di Indonesia tetap terjaga di tengah gejolak global, meminta masyarakat tidak panik dan bijak dalam konsumsi energi.
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), M. Kholid Syeirazi, meminta masyarakat untuk tetap tenang menghadapi kondisi energi global saat ini. Ia menekankan bahwa pemerintah bersama Pertamina terus berupaya maksimal menjaga ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di seluruh tanah air. Situasi ini diharapkan tidak memicu kepanikan berlebihan di kalangan publik.
Kholid Syeirazi menjelaskan bahwa kondisi energi Indonesia jauh lebih baik dibandingkan banyak negara lain, termasuk di Asia Tenggara. Sebagai contoh, harga BBM di Vietnam dan Thailand mengalami kenaikan signifikan, menunjukkan ketahanan energi domestik kita. Stok BBM nasional juga berada di atas standar cadangan operasional minimal yang ditetapkan BPH Migas.
Menanggapi dinamika global, Kholid menegaskan pentingnya dukungan masyarakat terhadap upaya pemerintah dan Pertamina. Sikap tenang serta bijak dalam mengonsumsi energi, termasuk BBM, akan sangat membantu menjaga stabilitas pasokan. Krisis energi global akibat konflik geopolitik menuntut kesadaran kolektif.
Ketahanan Stok BBM di Tengah Krisis Global
M. Kholid Syeirazi dari DEN menyoroti bahwa **ketersediaan BBM** di Indonesia saat ini berada pada posisi yang kuat. Cadangan stok BBM nasional tercatat di atas 20 hari, melampaui batas cadangan operasional minimal yang ditetapkan oleh BPH Migas. Angka ini menunjukkan kesiapan Pertamina dalam menghadapi potensi gejolak pasokan.
Perbandingan dengan negara-negara tetangga menunjukkan bahwa Indonesia memiliki ketahanan energi yang lebih baik. Beberapa negara di Asia Tenggara mengalami kenaikan harga BBM yang drastis, seperti Vietnam dari Rp12.700/liter menjadi Rp19.100/liter dan Thailand dari Rp16.500/liter menjadi Rp24.000/liter. Kondisi ini menegaskan bahwa upaya pemerintah dan Pertamina dalam menjaga stabilitas pasokan patut diapresiasi.
Kholid juga mengingatkan bahwa kondisi global saat ini memang sedang tidak kondusif, terutama akibat konflik antara Iran, AS, dan Israel. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan tidak bersikap apatis dan memiliki "sense of crisis" terhadap situasi energi global. Pemahaman ini penting untuk mendukung kebijakan yang diambil pemerintah.
Kebijakan Penyesuaian Harga dan Beban Fiskal
Kholid Syeirazi menjelaskan bahwa penyesuaian harga BBM di tengah krisis energi global merupakan langkah krusial. Kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi beban fiskal negara dalam menanggung subsidi dan kompensasi energi. Tanpa penyesuaian, beban subsidi dapat membengkak secara signifikan.
Ia memberikan contoh konkret mengenai dampak kenaikan harga minyak mentah dunia terhadap anggaran negara. Setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel, berpotensi menambah beban subsidi dan kompensasi sebesar Rp10,3 triliun. Dengan harga minyak yang kini di atas 100 dolar AS per barel, beban fiskal menjadi sangat tinggi.
Oleh karena itu, solusi yang diambil adalah mengalihkan sebagian beban tersebut kepada masyarakat melalui penyesuaian harga BBM. Langkah ini, meskipun tidak populer, dianggap perlu untuk menjaga keberlanjutan fiskal negara. Pemerintah dan Pertamina tidak dapat menanggung beban ini sendirian.
Peran Masyarakat dan Informasi Akurat
Anggota Komisi XII DPR RI, Sartono Hutomo, turut mengapresiasi upaya Pertamina dalam menjaga **ketersediaan BBM** di tengah tekanan global. Namun, ia menekankan pentingnya penyampaian informasi yang terukur dan mudah dipahami oleh masyarakat. Informasi yang jelas akan membantu publik merasa aman dan tidak mudah terprovokasi.
Sartono juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi kenaikan harga BBM yang belum terverifikasi kebenarannya. Ia mengingatkan untuk selalu mencari informasi dari sumber resmi pemerintah atau Pertamina. Hal ini penting untuk menghindari kepanikan yang tidak perlu dan spekulasi pasar.
Selain itu, Sartono secara tegas melarang praktik penimbunan BBM oleh masyarakat. Tindakan penimbunan justru akan memperburuk kondisi distribusi dan merugikan masyarakat luas. Kerjasama dari semua pihak sangat dibutuhkan untuk menjaga stabilitas pasokan dan distribusi BBM.
Sumber: AntaraNews