Nilai tukar Petani pada Februari 2025 Turun
Penurunan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani (IT) turun sebesar 0,59 persen.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Nilai Tukar Petani (NTP) per Februari 2025 tercatat sebesar 123,45 atau turun 0,18 persen secara bulanan (month to month/mtm) dibandingkan Januari 2025.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan penurunan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani (IT) turun sebesar 0,59 persen lebih tinggi dibandingkan penurunan indeks harga yang dibayar petani (IB) yang sebesar 0,32 persen.
"Nilai tukar petani Februari 2025 tercatat sebesar 123,45 atau turun 0,18 persen dibandingkan Januari 2025," kata Amalia dalam konferensi pers, Jakarta, Senin (3/3).
Dia menuturkan komoditas yang dominan mempengaruhi penurunan IT nasional yakni cabai rawit, bawang merah, cabai merah, dan kakao.
Sementara itu, subsektor yang mengalami peningkatan NTP diantaranya adalah tanaman pangan, tanaman perkebunan rakyat, dan perikanan. Sedangkan subsektor peternakan dan hortikultura mengalami penurunan NTP.
Untuk subsektor hortikultura mengalami penurunan NTP yang cukup dalam sebesar 6,84 persen karena penurunan IT yang sebesar 7,08 persen lebih besar dari penurunan IB yang sebesar 0,25 persen.
"Komoditas yang dominan mempengaruhi penurunan IT adalah cabai rawit, bawang merah, cabai merah, tomat, dan kol kubis," jelas dia.
Adapun sebanyak 22 provinsi mengalami kenaikan NTP dengan peningkatan tertinggi di Sulawesi Utara sebesar 4,14 persen. Sementara itu 16 provinsi mengalami penurunan NTP.
Penurunan terdalam terjadi di Sumatera Barat sebesar 2,79 persen. Penurunan ini karena IT mengalami penurunan lebih besar dari penurunan IB.
"Komoditas yang dominan mempengaruhi penurunan IT di provinsi ini adalah kakao atau coklat biji, bawang merah, gabah, kol, dan telur ayam ras," paparnya.
Di sisi lain, Nilai Tukar Nelayan (NTN) mengalami peningkatan sebesar 0,91 persen. Hal ini karena kenaikan IT sebesar 0,89 persen dan penurunan IB yang sebesar 0,01 persen.
"Komoditas yang dominan mempengaruhi kenaikan IT adalah tongkol, layang, cakalang, teri, dan cumi-cumi," ucapnya.
Untuk nilai tukar nelayan, sebanyak 27 provinsi mengalami kenaikan NTN dengan peningkatan tertinggi di Bali sebesar 3,65 persen. Sementara itu ada 10 provinsi mengalami penurunan NTN.
"Penurunan terdalam terjadi di Kalimantan Selatan sebesar 2,03 persen. Sebagai informasi, Provinsi Papua Pegununga tidak memiliki NTN," Amalia mengakhiri.