Harga TBS Sawit Kalsel Capai Rp3.437 per Kg di Akhir Februari 2026, Petani Optimis
Harga TBS Sawit Kalsel terus menguat hingga akhir Februari 2026, mencapai Rp3.437 per Kg. Simak faktor pendorong dan dampaknya pada kesejahteraan petani.
Sektor perkebunan kelapa sawit di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) menunjukkan tren positif yang berkelanjutan. Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit telah mencapai angka Rp3.437 per kilogram hingga akhir Februari 2026. Angka ini mencerminkan penguatan pasar yang diharapkan dapat membawa dampak baik bagi para petani di wilayah tersebut.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kalsel, Suparmi, menyampaikan informasi ini dari Banjarbaru pada Sabtu. Penguatan harga tersebut merupakan kelanjutan dari dinamika positif yang telah terjadi sepanjang tahun 2025. Kondisi ini memberikan harapan baru bagi keberlanjutan industri kelapa sawit di Kalsel.
Peningkatan harga TBS Sawit Kalsel didorong oleh berbagai indikator pasar yang solid dan stabil. Stabilitas ini menjadi modal berharga untuk menjaga margin pendapatan petani tetap terjaga. Sektor kelapa sawit di Kalsel diprediksi akan terus menjadi motor penggerak ekonomi yang stabil sepanjang tahun 2026.
Dinamika Harga TBS Sawit Kalsel Sepanjang Tahun 2025
Berdasarkan rekapitulasi data dari Disbunnak Kalsel, tahun 2025 merupakan periode yang cukup dinamis bagi industri sawit di provinsi tersebut. Fluktuasi harga terjadi seiring dengan perubahan kondisi pasar global dan domestik. Data ini menjadi acuan penting dalam memprediksi pergerakan harga di masa mendatang.
Puncak harga TBS Sawit Kalsel pada tahun 2025 tercatat pada awal tahun, tepatnya di bulan Januari. Pada periode tersebut, harga tertinggi mencapai Rp3.550,69 per kilogram untuk kelompok umur tanaman 10-20 tahun. Angka ini menunjukkan potensi harga yang signifikan di awal tahun.
Namun, industri sawit juga mengalami titik terendah pada Juli 2025, dengan harga menyentuh angka Rp3.062 per kilogram. Penurunan ini sejalan dengan melemahnya indeks K dan harga CPO global. Fluktuasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pelaku usaha perkebunan kelapa sawit.
Faktor Pendorong Kenaikan Harga TBS Sawit di Awal 2026
Memasuki tahun 2026, pasar kelapa sawit di Kalimantan Selatan menunjukkan sinyal penguatan yang lebih jelas. Kenaikan harga terjadi secara merata di semua kategori umur tanaman, memberikan keuntungan bagi seluruh pekebun. Ini menandakan adanya perbaikan kondisi pasar secara menyeluruh.
Kelompok umur tanaman 10-20 tahun tetap konsisten sebagai penghasil harga tertinggi, mencapai Rp3.437,73 per kilogram pada akhir Februari 2026. Kategori ini menjadi tolok ukur utama dalam penetapan harga TBS. Kualitas dan produktivitas tanaman pada usia ini sangat berpengaruh terhadap harga jual.
Kenaikan harga ini didorong oleh beberapa indikator pasar utama yang solid. Harga CPO berada di kisaran Rp14.365,44 pada periode II Februari 2026. Selain itu, harga Inti Sawit mengalami lonjakan signifikan ke titik tertinggi, mencapai Rp12.392,61. Kedua komoditas ini memiliki peran krusial dalam menentukan harga TBS.
Stabilitas Indeks K yang terjaga di level 91,55 persen turut menjadi faktor penting. Penguatan harga komoditas pendukung seperti CPO dan Inti Sawit, bersama dengan Indeks K yang stabil, menjadi pilar utama yang menjaga optimisme pasar sawit di Kalimantan Selatan pada awal tahun 2026 ini.
Dampak Positif Harga TBS Sawit pada Kesejahteraan Petani
Membaiknya harga TBS Kelapa Sawit secara langsung berkontribusi pada naiknya Nilai Tukar Petani (NTP) perkebun. NTP merupakan indikator penting yang menunjukkan tingkat kesejahteraan petani. Kenaikan harga ini diharapkan dapat meningkatkan daya beli dan kualitas hidup petani sawit.
Pada tahun 2025, NTP perkebun di Kalsel mencapai 149,31 persen, yang merupakan indikator kuat peningkatan kesejahteraan pekebun, termasuk pekebun kelapa sawit. Angka ini menunjukkan bahwa pendapatan petani relatif lebih baik dibandingkan biaya produksi yang dikeluarkan.
Menurut Suparmi, stabilitas harga ini menjadi modal berharga untuk menjaga margin pendapatan petani tetap terjaga. Dengan harga yang stabil dan cenderung menguat, petani dapat merencanakan produksi dan investasi dengan lebih baik. Hal ini juga mengurangi risiko kerugian akibat fluktuasi harga yang ekstrem.
Bercermin dari kondisi pasar saat ini, sektor kelapa sawit Kalsel diprediksi akan terus menjadi motor penggerak ekonomi yang stabil di Kalsel sepanjang tahun 2026. Prospek yang cerah ini diharapkan dapat menarik investasi lebih lanjut dan menciptakan lapangan kerja baru di sektor perkebunan.
Sumber: AntaraNews