Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur melaporkan penurunan signifikan pada Nilai Tukar Petani (NTP) di provinsi tersebut pada Januari 2026. Angka NTP Jatim tercatat anjlok sebesar 4,42 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan ini mengindikasikan adanya pelemahan daya beli petani di wilayah pedesaan Jawa Timur.
NTP yang merupakan indikator penting untuk mengukur kemampuan ekonomi petani, kini berada di angka 113,71, turun dari 118,96 pada Desember 2025. Kondisi ini mencerminkan tantangan yang dihadapi sektor pertanian di awal tahun.
Menurut Statistisi Ahli Madya BPS Jatim, Ike Rahayu Sri, penurunan NTP ini disebabkan oleh indeks harga yang diterima petani (It) yang mengalami penurunan lebih dalam dibandingkan dengan indeks harga yang dibayar petani (Ib).
Advertisement
Advertisement
Penurunan NTP Jatim pada Januari 2026 utamanya dipicu oleh ketidakseimbangan antara indeks harga yang diterima petani (It) dan indeks harga yang dibayar petani (Ib). Indeks harga yang diterima petani turun sebesar 5,14 persen, menunjukkan harga jual produk pertanian yang lebih rendah di pasaran.
Di sisi lain, indeks harga yang dibayar petani (Ib) juga mengalami penurunan, namun hanya sebesar 0,76 persen. Selisih penurunan yang cukup jauh antara It dan Ib inilah yang menyebabkan NTP Jatim tergerus.
Hampir seluruh subsektor pertanian di Jawa Timur merasakan dampak penurunan NTP ini, kecuali subsektor Perikanan. Fenomena ini menunjukkan adanya tekanan harga yang meluas di berbagai komoditas pertanian.
Advertisement
Advertisement
Subsektor Hortikultura menjadi yang paling terpukul dengan penurunan NTP terdalam, mencapai 25,08 persen, dari 178,43 menjadi 133,69. Penurunan ini sangat signifikan dan berpotensi memengaruhi kesejahteraan petani hortikultura.
Selain Hortikultura, subsektor Peternakan juga mengalami penurunan NTP sebesar 1,55 persen, dari 105,17 menjadi 103,54. Sementara itu, subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat turun 0,41 persen dan Tanaman Pangan turun 0,04 persen.
Di tengah kondisi yang kurang menguntungkan bagi sebagian besar subsektor, Perikanan menjadi satu-satunya yang menunjukkan peningkatan NTP. Subsektor ini naik sebesar 3,32 persen, dari 99,35 menjadi 102,65, menunjukkan ketahanan dan potensi pertumbuhan di sektor tersebut.
Advertisement
Advertisement
Ike Rahayu Sri merinci, sepuluh komoditas utama yang memiliki andil terbesar terhadap penurunan indeks harga yang diterima petani (It) pada Januari 2026 meliputi:
Sementara itu, komoditas yang berkontribusi pada kenaikan indeks harga yang diterima petani (It) antara lain kacang tanah, ketela pohon, kacang hijau, mangga, layang (malalugis/momar), tongkol, bandeng payau, kembung (kombong/sumbo), teri, dan cakalang.
Untuk indeks harga yang dibayar petani (Ib), penurunan terbesar dipengaruhi oleh komoditas seperti bawang merah, cabai rawit, cabai merah, tomat sayur, daging ayam ras, telur ayam ras, bensin, kelapa tua, sawi hijau, dan kacang panjang.
Advertisement
Adapun komoditas yang menyebabkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib) meliputi bawang putih, sigaret kretek mesin (SKM), emas perhiasan, benih padi, beras, serta berbagai upah seperti upah pemanenan, upah membajak, upah penanaman, upah mencangkul, dan tongkol.
Advertisement
Tidak hanya NTP, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) di Jawa Timur juga mengalami penurunan pada Januari 2026, yakni sebesar 5,4 persen. Penurunan ini terjadi karena indeks harga yang diterima petani (It) turun 5,14 persen, sementara Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) justru naik 0,28 persen.
Empat subsektor mengalami penurunan NTUP, dengan Hortikultura mencatat penurunan terdalam sebesar 25,58 persen. Disusul oleh subsektor Peternakan yang turun 2,06 persen, serta Tanaman Pangan dan Tanaman Perkebunan Rakyat yang keduanya turun 1,35 persen.
Sama seperti NTP, subsektor Perikanan menjadi satu-satunya yang mencatat peningkatan NTUP, naik sebesar 2,84 persen. Secara konseptual, NTUP mengukur perbandingan perubahan harga komoditas yang dijual petani dengan perubahan harga barang yang digunakan untuk produksi dan penambahan modal.
Advertisement
Sumber: AntaraNews