Mulai 2026, Bunga KUR Flat 6% Tanpa Batasan Pengajuan
Pemerintah akan menerapkan kebijakan bunga pinjaman KUR sebesar 6 persen secara flat untuk beberapa pengajuan.
Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman, mengumumkan bahwa mulai tahun depan, pengajuan kredit usaha rakyat (KUR) tidak akan dibatasi. Ia menjelaskan bahwa bunga yang dikenakan akan tetap flat sebesar 6 persen. Selama ini, pengajuan KUR dibatasi hingga empat kali untuk debitur sektor produksi dan maksimal dua kali untuk sektor perdagangan.
"Sekarang sudah dibuka. Jadi bisa beberapa kali, repetisinya bisa beberapa kali sampai UMKM-nya betul-betul kuat dan siap untuk lepas," ujar Maman setelah mengikuti rapat di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, pada Senin (17/11/2025).
Selain menghapus batasan pengajuan, pemerintah juga akan menerapkan bunga pinjaman flat sebesar 6 persen untuk setiap pengambilan. Sebelumnya, bunga untuk pengajuan pertama adalah 6 persen, kemudian naik menjadi 7 persen pada pengajuan kedua, 8 persen pada pengajuan ketiga, dan mencapai 9 persen pada pengajuan keempat.
"Jadi nanti mau yang pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima, semua flat 6 persen," tegas Maman.
Kebijakan ini diambil berdasarkan arahan Presiden Prabowo Subianto kepada Komite Pembiayaan melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. "Kami yang ada duduk di anggota Komite Pembiayaan UMKM, kita ingin memberikan afirmatif dan stimulus pergerakan ekonomi. Mulai awal Januari 2026," kata Maman.
Realisasi KUR untuk UMKM mencapai Rp 238 triliun
Pada kesempatan yang sama, Menteri UMKM Maman Abdurrahman melaporkan bahwa hingga pertengahan November 2025, penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) untuk pelaku UMKM telah mencapai Rp 238 triliun. Laporan yang disampaikan oleh Kementerian UMKM kepada Liputan6.com menunjukkan bahwa angka tersebut merupakan data terbaru per 15 November 2025, yang mengalami peningkatan sekitar Rp 10 triliun dari capaian awal bulan ini yang berada di angka Rp 228 triliun.
"Dari target yang sudah ditentukan Rp 286 triliun, Alhamdulillah sudah tersalurkan sebesar Rp 238 triliun. Jadi sekitar 83 persen dari target yang ditugaskan kepada saya," ungkap Maman.
Ia juga menambahkan bahwa untuk pencapaian debitur baru, realisasinya telah mencapai 96 persen, yang setara dengan sekitar 2,25 juta debitur baru, dibandingkan dengan target yang ditetapkan sebanyak 2,34 juta debitur baru.
Sementara itu, untuk debitur graduasi atau mereka yang naik tingkat, seperti dari skala usaha mikro menjadi kecil, jumlahnya bahkan telah melebihi target yang ditentukan. Maman menyatakan bahwa realisasi untuk kategori ini mencapai 112 persen, atau sekitar 1,3 juta debitur, dari target yang ditetapkan sebanyak 1,2 juta debitur. Ini menunjukkan keberhasilan signifikan dalam program KUR untuk mendukung pertumbuhan UMKM di Indonesia.
Sebanyak 60% dari total anggaran dialokasikan untuk sektor produksi
Kementerian UMKM menetapkan target untuk tahun 2025, di mana sekitar 60 persen dari total penyaluran KUR yang ditargetkan sebesar Rp 286 triliun akan dialokasikan untuk sektor produksi. Maman Abdurrahman mengungkapkan bahwa pencapaian ini merupakan sebuah tonggak sejarah yang baru.
"Nah ini yang pertama kali sepanjang sejarah program KUR berdiri, baru sekarang kita terrealisasi, yaitu di angka 60,7 persen. Ini kan dari tahun 2020-2024 enggak pernah sampai di 60 persen," bebernya.
Ia juga menambahkan, "Alhamdulillah di 2025 kita 60,7 persen. Insya Allah di Desember akhir kita akan naik lagi di 61 persen," pungkas Maman Abdurrahman.