Menko Airlangga Beberkan Indikator Kuatnya Ekonomi Indonesia, dari Inflasi Hingga Cadangan Devisa
Pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga tercatat sebesar 5,04 persen dan diperkirakan akan meningkat.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini berada dalam keadaan yang kuat dan stabil. Ia juga menyatakan bahwa pemerintah sedang mendorong percepatan reformasi serta penguatan pasar modal nasional agar menjadi lebih transparan dan berintegritas, sesuai dengan arahan yang diberikan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Airlangga menjelaskan bahwa indikator makroekonomi Indonesia masih menunjukkan hasil yang positif. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga tercatat sebesar 5,04 persen dan diperkirakan akan meningkat pada rilis data pertumbuhan yang akan datang.
"Kondisi makroekonomi kita kuat. Pertumbuhan ekonomi masih terjaga dan diperkirakan akan lebih besar dibanding kuartal ketiga," ungkap Airlangga di Wisma Danantara pada Sabtu (31/1).
Dari sisi inflasi, ia menyatakan bahwa laju kenaikan harga masih terkendali. Inflasi pada bulan Desember tercatat sebesar 2,92 persen dan tetap berada dalam kisaran target APBN, yaitu 2,5 persen plus minus 1 persen. "Tingkat inflasi kita masih sesuai dengan rentang yang ditetapkan dalam APBN," ujarnya.
Cadangan devisa Indonesia hingga Desember 2025 tercatat sebesar USD 156,5 miliar, yang setara dengan pembiayaan untuk 6,2 bulan impor. Selain itu, defisit fiskal juga dijaga tetap di bawah batas maksimal 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sektor perbankan juga dinilai berada dalam kondisi yang solid, dengan pertumbuhan kredit mencapai 9,6 persen dan dana pihak ketiga tumbuh dua digit sebesar 13,83 persen. Rasio permodalan perbankan atau Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat di level 25,87 persen.
Airlangga menambahkan bahwa rasio utang pemerintah terhadap PDB masih dalam batas aman, yaitu sekitar 40 persen, jauh di bawah ambang batas 60 persen. Posisi ini diperkuat dengan peringkat utang Indonesia yang tetap berada di level investment grade dari lembaga pemeringkat internasional seperti Moody's (Baa2), Fitch (BBB), dan S&P.
Pesan Prabowo untuk Investor
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas dan keberlanjutan pasar modal Indonesia di tengah dinamika kekosongan kepemimpinan di sektor keuangan. Pesan ini disampaikan melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto.
Dalam pernyataannya, Presiden menekankan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan tangguh meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan global.
"Pesan Bapak Presiden untuk pasar modal, saya kutip: kepada para investor domestik, mitra internasional, dan seluruh rakyat Indonesia, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan tangguh," kata Airlangga di Wisma Danantara pada Sabtu (31/1).
Presiden Prabowo juga menegaskan bahwa pemerintah sepenuhnya mendukung pasar keuangan nasional. Airlangga melanjutkan bahwa pemerintah berkomitmen untuk menjaga iklim investasi yang transparan, adil, dan berkelas dunia demi mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
"Pemerintah berdiri teguh di belakang pasar keuangan kita dan berkomitmen pada iklim investasi yang transparan, adil, dan berkelas dunia," ucap Airlangga. Dengan demikian, pemerintah menunjukkan keseriusannya dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi para investor dan pelaku pasar.
Pertahankan Kepercayaan Investor
Airlangga menyampaikan bahwa Presiden Prabowo telah memberikan instruksi kepada Kementerian Keuangan serta seluruh jajaran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk memastikan bahwa semua kegiatan operasional bursa tetap berjalan dengan normal, meskipun dalam masa transisi kepemimpinan.
Ia menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen untuk menghindari adanya kekosongan dalam kepemimpinan maupun pengawasan di sektor pasar modal.
"Bapak Presiden menginstruksikan agar tidak ada kekosongan kepemimpinan. Pejabat pelaksana tugas (Pjs) akan memastikan seluruh fungsi regulasi, aktivitas perdagangan, dan tugas pengawasan berjalan tanpa gangguan," ungkap Airlangga.
Ia juga menambahkan bahwa kekuatan institusi keuangan nasional sangat bergantung pada sistem yang dikelola dengan konsisten, berdasarkan prinsip tata kelola yang baik serta praktik terbaik internasional. Hal ini menjadi fondasi yang sangat penting untuk menjaga kepercayaan investor dan stabilitas dalam sistem keuangan.