Di Forum BESF, Menko Airlangga Pede Ekonomi Digital RI Bisa Tembus USD 600 Miliar pada 2030
Airlangga mengatakan Indonesia saat ini menjadi pemain utama dalam ekonomi digital ASEAN dengan kontribusi sekitar 40% dari total nilai ekonomi digital kawasan.
Pemerintah optimistis nilai ekonomi digital Indonesia akan tumbuh pesat dalam beberapa tahun ke depan seiring percepatan transformasi digital dan semakin kuatnya integrasi ekonomi digital di kawasan ASEAN. Bahkan, nilai ekonomi digital nasional diproyeksikan meningkat hingga mencapai USD 600 miliar pada 2030.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Indonesia saat ini menjadi pemain utama dalam ekonomi digital ASEAN dengan kontribusi sekitar 40% dari total nilai ekonomi digital kawasan.
Dalam forum Brussels Economic Security Forum (BESF), Airlangga mengungkapkan nilai ekonomi digital Indonesia saat ini mencapai sekitar USD 150 miliar dan terus menunjukkan pertumbuhan yang kuat didukung oleh jumlah penduduk yang besar, penetrasi internet yang meningkat, serta perkembangan ekosistem teknologi yang semakin matang.
"Saat ini kita telah menangkap 40% dari nilai tersebut. Jadi, saat ini ekonomi digital di Indonesia sekitar USD 150 miliar. Angka ini akan meningkat menjadi USD 400 hingga USD 600 miliar pada tahun 2030 mendatang," kata Airlangga dalam acara Brussels Economc Security Forum (BESF), di Brussel, Belgia, Sabtu (6/6/2026).
Menurutnya, dominasi tersebut mencerminkan besarnya pasar digital domestik yang didukung aktivitas e-commerce, layanan keuangan digital, teknologi finansial, hingga ekonomi berbasis platform.
Dengan berbagai potensi yang dimiliki, Indonesia diperkirakan akan menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi digital ASEAN dalam dekade mendatang.
DEFA Bisa Gandakan Potensi Ekonomi Digital ASEAN
Airlangga menjelaskan bahwa ASEAN saat ini tengah menyelesaikan ASEAN Digital Economy Framework Agreement atau DEFA yang bertujuan memperkuat integrasi ekonomi digital di kawasan.
Ia menyebut perjanjian tersebut menjadi salah satu inisiatif strategis yang pertama kali diluncurkan saat Indonesia memegang keketuaan ASEAN.
Menurut Airlangga, tanpa adanya kerangka ekonomi digital bersama, nilai ekonomi digital ASEAN diperkirakan mencapai sekitar USD 1 triliun pada 2030. Namun, apabila DEFA berhasil diterapkan oleh seluruh negara anggota ASEAN, nilainya berpotensi melonjak hingga USD 2 triliun.
"Tanpa kerangka ekonomi digital di ASEAN, pasar ekonomi digital sekitar USD 1 triliun pada tahun 2030. Tetapi dengan perjanjian kerangka ekonomi digital yang diimplementasikan di 10 negara ASEAN, peluangnya akan meningkat menjadi USD 2 triliun. Jadi, akan berlipat ganda. Dan Indonesia adalah salah satu negara terbesar di ASEAN.
Infrastruktur Digital Terus Diperkuat
Selain itu, Indonesia juga terus mendorong digitalisasi sistem pembayaran melalui implementasi QR lintas negara di kawasan ASEAN.
Airlangga menyebut sistem pembayaran berbasis QR yang dipelopori Indonesia kini telah dapat digunakan di sejumlah negara seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, Jepang hingga tengah dijajaki dengan Arab Saudi.
"Di dalam ASEAN kita telah menerapkan sistem pembayaran. Dengan QR, semua negara ASEAN yang diprakarsai oleh Indonesia dapat membayar dengan mata uang mereka sendiri. Dalam lima hal, kode QR Indonesia dapat digunakan di Singapura, Malaysia, Thailand, dan bahkan lebih jauh lagi seperti Korea, Jepang, dan kita berbicara tentang Arab Saudi," ujarnya.
Menurut Airlangga, dengan dukungan infrastruktur digital, konektivitas internet yang semakin luas, serta integrasi ekonomi digital ASEAN, pemerintah optimistis nilai ekonomi digital Indonesia dapat meningkat dari sekitar USD 150 miliar saat ini menjadi USD 400 miliar hingga USD 600 miliar pada 2030.