Lombok Destinasi Kapal Pesiar Unggulan, Kunjungan Diproyeksi Naik 10% di 2026
Lombok semakin memantapkan posisinya sebagai destinasi kapal pesiar favorit, dengan proyeksi peningkatan kunjungan hingga 10% di tahun 2026, menjadikannya yang kedua terbanyak di Indonesia setelah Bali.
Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, terus menunjukkan daya tariknya sebagai magnet bagi wisatawan internasional, khususnya melalui jalur laut. Pelabuhan Gili Mas di Lembar, Kabupaten Lombok Barat, diproyeksikan akan mengalami peningkatan signifikan dalam jumlah kunjungan kapal pesiar. Kenaikan sebesar 10 persen pada tahun 2026 ini akan menempatkan Lombok sebagai destinasi nomor dua di Indonesia yang paling banyak disinggahi oleh kapal pesiar.
General Manager Pelabuhan Gili Mas, Kunto Wibisono, menegaskan bahwa Provinsi NTB, khususnya Lombok, telah menjadi destinasi wisata bahari yang sangat diminati. Daya tarik alam dan budaya Lombok berhasil menarik perhatian wisatawan dari berbagai penjuru dunia. Hal ini menjadikan Lombok sebagai pilihan utama setelah Bali bagi para operator kapal pesiar internasional.
Peningkatan ini bukan hanya sekadar angka, melainkan cerminan dari potensi besar Lombok dalam industri pariwisata. Dengan infrastruktur yang memadai dan keindahan alam yang memukau, Lombok siap menyambut lebih banyak lagi wisatawan kapal pesiar. Peran Pelabuhan Gili Mas sangat sentral dalam mendukung pertumbuhan sektor pariwisata bahari di wilayah ini.
Lonjakan Kunjungan Kapal Pesiar di Pelabuhan Gili Mas
Pelabuhan Gili Mas di Lombok Barat menunjukkan tren peningkatan kunjungan kapal pesiar yang konsisten setiap tahunnya. Kunto Wibisono menjelaskan bahwa pada tahun 2024, Pelabuhan Gili Mas telah disinggahi oleh 22 kapal pesiar dengan total 70.000 penumpang. Angka ini diprediksi akan terus naik pada tahun 2025 menjadi 24 kapal dengan 85.000 wisatawan.
Untuk tahun 2026, proyeksi menunjukkan adanya 25 kapal pesiar yang akan bersandar, menandai peningkatan sekitar 10 persen dari tahun sebelumnya. Meskipun demikian, Lombok masih berada di posisi kedua setelah Bali, yang setiap tahunnya bisa menerima hingga 75 kapal pesiar. Kunto menambahkan bahwa jumlah kunjungan di Lombok saat ini masih sekitar sepertiga dari total kunjungan di Bali.
Peningkatan ini menunjukkan kepercayaan operator kapal pesiar terhadap Lombok sebagai destinasi yang aman dan menarik. Dengan kapasitas pelabuhan yang mampu menampung kapal berukuran besar, Gili Mas siap mendukung pertumbuhan pariwisata bahari. Fokus utama adalah terus meningkatkan fasilitas dan pelayanan untuk kenyamanan wisatawan.
Kedatangan Kapal Pesiar Raksasa Ovation Of The Seas
Awal tahun ini, Pelabuhan Gili Mas telah menyambut kedatangan kapal pesiar raksasa Ovation Of The Seas milik Royal Caribbean. Kapal dengan panjang 348 meter ini membawa 4.684 wisatawan dan 1.200 kru, menjadikannya salah satu kapal terbesar yang pernah singgah. Ovation Of The Seas tiba di Gili Mas setelah sebelumnya bersandar di Celukan Bawang dan Benoa, Bali, sebelum melanjutkan perjalanan ke Singapura.
Kapal ini berlabuh di Pelabuhan Gili Mas mulai pukul 07.00 Wita hingga 23.00 Wita, memberikan waktu sekitar 13 jam bagi para wisatawan untuk menjelajahi keindahan Lombok. Sebagian besar wisatawan berasal dari Eropa, Australia, India, dan Asia, dengan dominasi dari Eropa. Selama di Lombok, mereka mengunjungi berbagai destinasi populer seperti Senggigi, Tiga Gili, Museum di Kota Mataram, Sekotong, dan Mandalika.
Kunjungan Ovation Of The Seas ini merupakan yang pertama kali bagi kapal tersebut ke Lombok dan menjadi salah satu singgah terlama. Pada bulan Januari saja, empat kapal pesiar telah dikonfirmasi akan bersandar di Gili Mas, bagian dari total 25 kapal yang dijadwalkan untuk tahun ini. Ini menunjukkan bahwa Lombok semakin dikenal di kancah pariwisata kapal pesiar global.
Dampak Ekonomi dan Potensi Pengembangan Wisata Bahari Lombok
Kunjungan kapal pesiar memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat Lombok. Kunto Wibisono menjelaskan bahwa untuk melayani wisatawan Ovation Of The Seas, sebanyak 250 kendaraan travel disiapkan dan semuanya laris digunakan. Hal ini secara langsung menggerakkan roda perekonomian lokal, mulai dari penyedia transportasi, pemandu wisata, hingga pelaku usaha kecil di destinasi wisata.
Pengaturan tur bagi wisatawan dibagi menjadi dua kategori: paket dan non-paket. Wisatawan paket dilayani oleh biro perjalanan dengan kendaraan yang sudah disediakan, seperti bus. Sementara itu, wisatawan non-paket memiliki fleksibilitas untuk mencari kendaraan sendiri sesuai dengan destinasi yang ingin mereka tuju. Sistem ini memberikan pilihan bagi wisatawan dan sekaligus membuka peluang bagi pengusaha lokal.
Meskipun Pelabuhan Gili Mas sudah mampu menampung kapal pesiar berukuran besar, Kunto berharap durasi singgah kapal bisa diperpanjang seperti di Bali, yang memungkinkan kapal menginap satu atau dua hari. Durasi singgah yang lebih lama akan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi Lombok. Pada tahun 2025, dua kapal pesiar dijadwalkan menginap, namun untuk tahun 2026, belum ada konfirmasi mengenai kapal yang akan tinggal lebih lama. Pengembangan ini menjadi fokus untuk memaksimalkan potensi wisata bahari Lombok.
Sumber: AntaraNews