Juru Parkir Dadakan Raup Rezeki Melimpah saat Lebaran di Lombok Tengah
Momen Hari Raya Idul Fitri membawa berkah tak terduga bagi juru parkir dadakan di Lombok Tengah. Simak bagaimana mereka meraup rezeki juru parkir Lebaran di tengah tradisi ziarah kubur yang ramai.
Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah membawa berkah tersendiri bagi banyak pihak, termasuk para juru parkir dadakan di berbagai Tempat Pemakaman Umum (TPU). Di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), fenomena ini menjadi pemandangan umum setiap tahunnya. Mereka memanfaatkan momen ziarah kubur yang ramai untuk mendapatkan penghasilan tambahan.
Tradisi ziarah kubur yang dilakukan umat Islam menjelang dan sesudah Salat Idul Fitri menciptakan lonjakan pengunjung di TPU. Kondisi ini secara langsung membuka peluang ekonomi bagi warga sekitar. Para juru parkir dadakan ini bekerja sementara waktu, berbeda dengan pekerjaan rutin mereka sehari-hari.
Pendapatan yang diperoleh dari jasa parkir ini cukup menjanjikan, bahkan bisa melebihi penghasilan harian mereka. Keberadaan mereka sangat membantu mengatur lalu lintas kendaraan di area pemakaman yang kerap padat. Hal ini memastikan kenyamanan bagi para peziarah yang datang.
Berkah Ziarah Kubur bagi Juru Parkir Dadakan
Andi Rahman, salah satu juru parkir dadakan di TPU Kecamatan Praya, Lombok Tengah, mengungkapkan pengalamannya. Ia menjelaskan bahwa momentum Lebaran menjadi kesempatan emas untuk mencari rezeki tambahan. "Momentum hari lebaran ini banyak warga yang berkunjung ke TPU atau makam orang tua dan keluarga untuk melakukan ziarah kubur," kata Andi Rahman.
Andi biasanya bekerja sebagai juru parkir di ritel modern di Kota Praya. Namun, selama periode Lebaran, ia beralih sementara ke TPU. "Selama lebaran ini saja bekerja jadi juru parkir di TPU. Kalau setiap hari di ritel modern Kota Praya," tambahnya.
Omzet yang didapatkan dari menjadi juru parkir di TPU selama Lebaran cukup signifikan untuk menambah penghasilan keluarga. Tarif parkir yang dikenakan tetap sama dengan tarif di pertokoan Praya, yaitu Rp2 ribu untuk sepeda motor dan Rp5 ribu untuk mobil. "Hasilnya cukup untuk kebutuhan keluarga. Bisa di atas Rp100 ribu per hari, kalau ramai, tergantung yang datang," jelas Andi.
Tradisi Ziarah Kubur dan Maknanya
Tradisi ziarah kubur pada Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah masih sangat kental di kalangan umat Islam, termasuk di Lombok Tengah. Warga biasanya berdatangan ke TPU sebelum dan sesudah Salat Idul Fitri hingga menjelang Lebaran Ketupat. Ini merupakan momen penting untuk mendoakan keluarga yang telah berpulang.
Eny Yusrianti, seorang peziarah kubur, menyatakan bahwa tradisi ini selalu ia lakukan setiap tahun. "Kami setiap tahun pada momentum Idul Fitri berziarah ke makam orang tua dan keluarga untuk mendoakan almarhum," ujar Eny Yusrianti. Ia menambahkan bahwa ziarah kubur juga menjadi pengingat akan kehidupan fana.
Tradisi ini mengajarkan pentingnya menjaga ketakwaan kepada Allah SWT, karena hidup di dunia ini hanya sementara. "Ini membuat kami untuk tetap menjaga ketakwaan dengan menjalankan perintah Allah SWT, karena hidup di dunia ini hanya sementara dan ajal bisa datang kapan saja," kata Eny. Selain juru parkir, penjual kembang tabur kuburan juga merasakan berkah Lebaran. Komang, salah satu penjual kembang di jalan protokol Praya, menyebutkan harga satu bungkus kembang adalah Rp5 ribu.
Penetapan Idul Fitri 1447 H oleh Kemenag
Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) RI secara resmi telah menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Penetapan ini dilakukan setelah melalui proses sidang isbat yang cermat dan transparan. Sidang isbat merupakan forum penting untuk menentukan awal bulan Hijriah.
Menteri Agama (Menag) RI, Nasaruddin Umar, dalam Konferensi Pers Sidang Isbat 1 Syawal 1447 Hijriah di Kantor Kemenag, Jakarta, menjelaskan keputusan tersebut. "Berdasarkan hisab dan tidak adanya hilal terlihat, disepakati bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu 21 Maret 2026," kata Menag Nasaruddin Umar.
Keputusan ini diambil setelah Tim Hisab Rukyat Kemenag RI melakukan rukyatul hilal di berbagai wilayah. Hasilnya menunjukkan bahwa tinggi hilal di seluruh Indonesia belum memenuhi kriteria Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS). Ketinggian hilal berada antara 0° 54' 27" hingga 3° 07' 52", dengan sudut elongasi antara 4° 32' 40" sampai 6° 06' 11".
Sumber: AntaraNews