Pedagang Bunga Rampai Mataram Panen Rezeki Melimpah Saat Lebaran Idul Fitri 2026
Pedagang bunga rampai di Mataram meraup keuntungan besar selama Lebaran Idul Fitri 2026. Simak bagaimana tradisi ziarah kubur membawa berkah melimpah bagi mereka.
Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, menjadi saksi bisu berkah melimpah bagi para pedagang bunga rampai di sejumlah tempat pemakaman umum (TPU) selama momen Lebaran Idul Fitri 1447 Hijriah atau tahun 2026. Tradisi ziarah kubur yang dilakukan masyarakat usai menunaikan shalat Id menjadi pemicu utama peningkatan pendapatan mereka. Fenomena ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai budaya dan spiritual turut menggerakkan roda perekonomian lokal, khususnya bagi usaha mikro.
Para pedagang, yang sebagian besar merupakan pelaku usaha kecil, telah menantikan momen istimewa ini setiap tahunnya. Kadek (45), salah satu pedagang di TPU Karang Kelok, Mataram, mengungkapkan bahwa Lebaran adalah waktu yang sangat dinanti untuk menjajakan bunga rampai. Meskipun baru saja merayakan Hari Raya Nyepi, Kadek tetap bersemangat berjualan, bergabung dengan pedagang lainnya yang juga merasakan dampak positif dari keramaian peziarah.
Peningkatan penjualan yang signifikan ini menjadi bukti nyata bahwa tradisi keagamaan memiliki efek domino pada sektor ekonomi. Dengan harga jual Rp2.500 per bungkus, bunga rampai yang sudah dikemas rapi ini sangat diminati oleh para peziarah. Kondisi ini tidak hanya terjadi di TPU Karang Kelok, tetapi juga di berbagai TPU lain di Kota Mataram, menciptakan suasana semarak dan penuh berkah.
Berkah Lebaran dan Peningkatan Pendapatan Pedagang Bunga Rampai Mataram
Momen Lebaran Idul Fitri 2026 membawa berkah luar biasa bagi pedagang bunga rampai di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Kadek, seorang pedagang di TPU Karang Kelok, melaporkan peningkatan pendapatan yang drastis. "Dalam setengah hari, saya bisa menjual bunga rampai Rp300 ribu hingga Rp400 ribu," ujarnya, jauh melebihi penjualan harian biasa yang hanya mencapai Rp100 ribu.
Peningkatan omzet ini didorong oleh tingginya animo masyarakat untuk berziarah kubur setelah shalat Id. Tradisi ini menjadi kesempatan emas bagi para pedagang untuk meraup keuntungan. Meskipun bertepatan dengan Hari Raya Nyepi, semangat para pedagang seperti Kadek tetap tinggi untuk menjajakan dagangannya di area pemakaman.
Setiap bungkus bunga rampai dijual seharga Rp2.500, dan pedagang sengaja mengemasnya agar mudah dipilih oleh peziarah. Persiapan matang dilakukan dengan memesan bunga rampai jauh-jauh hari dari pengepul di wilayah Kediri, Kabupaten Lombok Barat. Hal ini menunjukkan antisipasi pedagang terhadap lonjakan permintaan yang selalu terjadi setiap Lebaran.
Tantangan Pasokan dan Strategi Pedagang Bunga Rampai Mataram
Meski panen rezeki, pedagang bunga rampai di Mataram juga menghadapi tantangan, terutama terkait pasokan dan harga. Kadek menyebutkan bahwa stok bunga yang dibawanya sedikit berkurang dan kurang variatif. Hal ini disebabkan oleh curah hujan yang tinggi, yang memengaruhi ketersediaan bunga dari petani.
Fatma, pedagang bunga rampai yang telah belasan tahun berjualan, mengamini adanya kenaikan harga bunga. Ia mencontohkan, bunga jenis pacar air yang biasanya Rp20.000 per kilogram kini mencapai Rp25.000-Rp30.000 per kilogram. Kenaikan ini diperparah dengan bertepatannya Idul Fitri dan Hari Raya Nyepi, yang keduanya membutuhkan banyak bunga.
Untuk menyiasati kenaikan harga dan menjaga agar harga jual bunga rampai tetap terjangkau, pedagang melakukan penyesuaian. "Kami mengurangi isi dari setiap kantong bunga rampai yang dijual sehingga bisa dijual Rp2.500 per bungkus," jelas Fatma. Strategi ini memungkinkan mereka untuk tetap melayani peziarah tanpa harus menaikkan harga secara signifikan.
Berkah Ganda: Bunga Rampai dan Air Bersih untuk Peziarah
Selain bunga rampai, Fatma juga berinisiatif menjual air bersih dalam botol bekas air mineral ukuran 1,5 liter seharga Rp2.500 per botol. Inisiatif ini sangat membantu peziarah yang tidak perlu lagi repot membawa air dari rumah. Penjualan air bersih ini menjadi tambahan pendapatan yang signifikan bagi pedagang.
Ketersediaan air bersih di lokasi pemakaman menjadi fasilitas yang sangat dihargai oleh para peziarah. Ini menunjukkan bagaimana pedagang lokal mampu beradaptasi dan menyediakan kebutuhan tambahan bagi konsumen mereka. Kreativitas semacam ini turut berkontribusi pada kenyamanan peziarah dan peningkatan transaksi.
Fatma mengungkapkan rasa syukurnya atas berkah yang didapat. "Alhamdulillah, tradisi ziarah kubur setelah Idul Fitri memberikan berkah untuk kami pedagang rampai dan air bersih," katanya. Momen Lebaran tidak hanya menjadi perayaan spiritual, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi bagi banyak keluarga pedagang kecil di Mataram.
Sumber: AntaraNews