Jokowi Bicara soal Ekonomi Cerdas di Bloomberg New Economy Forum, Singgung Coding dan AI
Jokowi mengatakan, ekonomi cerdas dibangun di atas seberapa baik negara atau pemerintah menggunakan data dan informasi.
Presiden ke-7 Joko Widodo atau Jokowi menyampaikan materi pidato di Bloomberg New Economy Forum, di New Capella Hotel, Singapura, Jumat (21/11). Selain pengalaman awal berkuasa dan infrastruktur digital, Jokowi juga menyinggung soal ekonomi cerdas.
"Ketika pemerintah membangun hal yang tepat, semua elemen itu bersama-sama membentuk ekosistem dan fondasi ekonomi baru Indonesia. Dengan basis yang kuat ini, kami siap untuk tahap selanjutnya, yaitu ekonomi cerdas," kata Jokowi.
Lanjut Jokowi, ekonomi cerdas dibangun di atas seberapa baik negara atau pemerintah menggunakan data dan informasi, karena data dan informasi bukan sekadar kekuatan, melainkan modal (capital).
"Ini adalah dunia baru yang menentukan daya saing dan kekuatan nasional. Kita tahu ini adalah proses untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menilai data serta informasi guna mengambil keputusan terbaik dan membuat kebijakan yang tepat," ungkapnya.
Ayah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menambahkan, bagi generasi muda menjadi tanggung jawab orang tua untuk memastikan mereka memahami dan mempelajari AI (Artificial Intelligence),
"Itu tanggungjawab kita. Karena masa depan ada di sana. Ini juga saatnya bagi kita untuk mendesain ulang bagaimana manusia dan mesin membangun masa depan bersama melalui data dan machine learning. Ekonomi cerdas bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang mempersiapkan manusianya," katanya lagi.
Menurut dia, ada pertanyaan besar lain mungkin muncul di era ekonomi cerdas. Yakni soal peluang kerja hilang dan yang kemungkinan akan hilang. "Jawabannya adalah tidak. Saya sangat tidak setuju jika dikatakan peluang kerja akan hilang," tegas Jokowi.
Optimis Banyak Pekerjaan dan Peluang Baru
Jokowi optimistis akan ada lebih banyak pekerjaan dan peluang yang datang jika kita memastikan masyarakat siap menghadapinya..
"Kita harus memastikan mereka tahu dan mempelajari AI, coding, algoritma, dan juga tentang machine learning. Ini adalah sesuatu yang fundamental. Kita harus memperkenalkan, mempersiapkan, dan melatih mereka untuk memiliki literasi dan keterampilan digital yang baik," beber Jokowi.
Jokowi menyampaikan cerita tersebut bukan hanya tentang Asia Tenggara. Ada jutaan anak muda sedang membangun startup dan jutaan usaha kecil beralih ke online.
"Unicorn baru bermunculan. Asia Tenggara bukan lagi sekadar pasar, tetapi sedang menjadi kekuatan global. Unicorn berikutnya mungkin tidak datang dari Silicon Valley atau Shenzhen, tetapi bisa datang dari Jakarta, Singapura, Bangkok, Kuala Lumpur, Manila, atau Hanoi," terangnya.
Di sisi lain, lanjut mantan Wali Kota Solo ini, dengan menerapkan ekonomi cerdas, sistem juga harus kembali didefinisikan.
Harus ada definisi ulang proses dan strategi untuk mendapatkan pendapatan yang lebih baik, pertumbuhan ekonomi yang lebih baik, dan kehidupan yang lebih baik bagi rakyat.
"Bagi saya, ini bukan hanya tanggung jawab nasional. Ini juga merupakan panggilan bagi lembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia. Mereka harus mendefinisikan ulang instrumen keuangan, sistem keuangan, dan infrastruktur digital mereka. Begitu pula dengan WTO, mereka harus mendefinisikan ulang sistem perdagangan dan tarif mereka," tegasnya.
Fokus Pendidikan dan Kesehatan
Menurut Jokowi, hampir semua sektor harus didefinisikan ulang. Namun bisa dimulai dari pendidikan dan kesehatan terlebih dahulu.
"Kita harus mendefinisikan ulang proses, sistem, dan strategi agar kita bisa tumbuh lebih baik dan lebih cepat," jelasnya.
Lanjut Jokowi, perjalanan Indonesia menunjukkan bahwa transformasi membutuhkan keberanian, kegigihan, dan keyakinan. "Kita belum selesai. Kita masih terus membangun dengan pondasi yang kuat, inovasi, dan kolaborasi global. Indonesia dan Asia Tenggara akan terus tumbuh di era baru ini. Dalam era ekonomi baru ini, kerja sama dan kolaborasi adalah kunci untuk menjalankan ekonomi cerdas," ungkap dia.
Jokowi yakin bahwa dalam ekonomi baru ini, intelligence economy, bangsa, perusahaan, dan masyarakat yang dapat mengintegrasikan kecerdasan ke dalam pemerintahan, industri, dan sistem sosial akan tumbuh lebih baik dan lebih cepat.
"Saya juga percaya bahwa dalam 5 hingga 10 atau 15 tahun ke depan, akan ada revolusi robot humanoid besar-besaran, dan akan ada revolusi AI yang besar. Jadi, bersiaplah dan waspadalah akan hal ini," pungkas dia.