Hotel Mewah Didorong Terapkan Kebijakan Penggunaan Telur Bebas Sangkar
Dalam sistem penangkaran sempit, ibu ayam dipaksa hidup dalam kandang yang ukurannya tidak lebih besar dari selembar kertas A4 sepanjang hidup mereka.
Act for Farmed Animals, sebuah koalisi yang berfokus pada perlindungan hewan yang terdiri dari Sinerga Animal dan Animal Friends Jogja mengadakan aksi damai untuk mendorong para pelaku industri perhotelan mewah agar menerapkan kebijakan penggunaan 100 persen telur bebas sangkar.
"Kami tidak meminta perubahan total, tetapi langkah-langkah sederhana yang sangat penting, yang tentunya juga sejalan dengan nilai-nilai yang mereka junjung," kata Elfha Shavira, Pimpinan Kampanye di Act for Farmed Animals, saat melakukan aksi damai di depan salah satu cabang Plataran Group di Menteng, Jakarta.
Dalam aksi tersebut, belasan relawan membawa spanduk dan mengenakan kostum pengantin, serta topeng ayam dan kandang di kepala mereka, melambangkan pasangan yang menolak merayakan pernikahan dengan mengorbankan ayam yang menderita.
"Sudah banyak perusahaan perhotelan dan restoran di Indonesia yang telah menunjukkan bahwa transisi ini sangat mungkin dilakukan," tambah Elfha.
Dalam sistem penangkaran sempit, ibu ayam dipaksa hidup dalam kandang yang ukurannya tidak lebih besar dari selembar kertas A4 sepanjang hidup mereka. Hal ini menghalangi ayam untuk melakukan perilaku alami seperti merentangkan sayap sepenuhnya, bersarang, mandi debu, dan bertengger.
"Bukti ilmiah telah berulang kali menunjukkan bahwa kondisi ini menyebabkan tekanan fisik dan psikologis yang parah, termasuk patah tulang, kerontokan bulu, dan stres kronis," ujarnya. Dia berharap semakin banyak perusahaan perhotelan di Indonesia yang lebih peka terhadap kesejahteraan hewan, salah satunya dengan beralih ke telur bebas sangkar.
"Dengan dukungan publik, sejak tahun 2020, sebanyak 51 perusahaan lokal dan global telah menerapkan kebijakan bebas sangkar," pungkasnya.