Gejolak Selat Hormuz Tak Goyahkan Harga Pupuk Subsidi
Pupuk Indonesia menjamin bahwa harga pupuk subsidi tetap stabil dan stok yang tersedia di dalam negeri cukup untuk memenuhi kebutuhan.
Pemerintah berkomitmen untuk menjaga stabilitas harga pupuk subsidi meskipun ada gejolak di pasar global, termasuk ketegangan yang terjadi di Selat Hormuz. Langkah ini diambil untuk memastikan ketersediaan pupuk dan mendukung produktivitas sektor pertanian di tanah air.
Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad Pribadi, menegaskan bahwa harga eceran tertinggi (HET) pupuk subsidi tidak akan mengalami kenaikan.
"HET (pupuk subsidi sebelumnya) sudah turun 20 persen, tidak ada rencana untuk kembali meningkatkan, artinya HET akan tetap," ujarnya seperti yang dikutip dari Antara pada Jumat (3/4).
Rahmad menambahkan bahwa meskipun Selat Hormuz merupakan jalur penting yang dilewati sekitar 30 persen perdagangan pupuk dunia, kondisi tersebut tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap pasokan pupuk di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh kapasitas produksi dalam negeri yang cukup besar, terutama untuk pupuk urea.
Pupuk Indonesia memiliki kapasitas produksi urea operasional sekitar 8,8 juta ton dari total kapasitas terpasang 9,4 juta ton. Dengan kapasitas ini, Indonesia dianggap mampu memenuhi kebutuhan pupuk nasional, baik yang bersubsidi maupun non-subsidi. Dengan demikian, Indonesia tidak bergantung pada pasokan luar negeri untuk komoditas utama pupuk.
Kenaikan harga urea disebabkan oleh penutupan Selat Hormuz
Rahmad bahkan menyatakan bahwa Indonesia memiliki potensi untuk menjadi stabilisator dalam ekosistem pangan global, terutama di tengah ketidakpastian yang melanda pasar internasional. Kenaikan harga urea global yang melonjak dari sekitar USD 400 menjadi USD 800 per ton akibat penutupan Selat Hormuz tidak langsung mempengaruhi pasar domestik.
Selain itu, bahan baku lain seperti fosfat dan potas juga dipastikan aman karena produksi di negara pemasok utama tidak terganggu. Meskipun ada potensi dampak pada biaya logistik atau pengiriman, hal ini tidak akan mengganggu ketersediaan pupuk secara keseluruhan. Dengan demikian, Indonesia tetap dapat menjaga kestabilan pasokan pangan meskipun ada tantangan di pasar global.
Harga pupuk saat ini mengalami fluktuasi yang signifikan
Pemerintah sebelumnya telah mengurangi harga pupuk subsidi sebanyak 20 persen sejak Oktober 2025 sebagai bagian dari kebijakan yang diterapkan oleh Presiden Prabowo Subianto. Untuk pupuk urea, harga yang sebelumnya Rp 2.250 per kilogram kini menjadi Rp 1.800 per kilogram, sedangkan pupuk NPK mengalami penurunan dari Rp 2.300 menjadi Rp 1.840 per kilogram. Penurunan harga ini berkontribusi pada peningkatan penyerapan pupuk oleh para petani.
"Atas dampak dari penurunan HET 20 persen ini, kelihatan nyata sekali penebusan pupuk pada tahun 2025 dan 2026 ini meningkatnya cukup signifikan. Di tahun 2026 ini meningkat 31 persen," kata Rahmad.
Kebijakan yang diambil ini diyakini dapat meningkatkan Nilai Tukar Petani (NTP), mengurangi biaya produksi, dan mendorong kesejahteraan petani. Dengan harga pupuk yang lebih terjangkau, petani diharapkan dapat lebih mudah mengakses kebutuhan mereka, sehingga hasil pertanian dapat meningkat. Hal ini tentunya akan memberikan dampak positif bagi perekonomian petani dan sektor pertanian secara keseluruhan.
Melalui langkah-langkah ini, pemerintah berkomitmen untuk mendukung para petani dalam menghadapi tantangan di lapangan dan meningkatkan produktivitas mereka.