Ekonomi RI Kian Rapuh, Momentum Ramadan dan Lebaran Gagal Dongkrak Pertumbuhan
Rapuhnya ekonomi Indonesia tercermin dari pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2025 yang hanya 4,87 persen.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2025 tercatat hanya sebesar 4,87 persen, menandai angka terendah sejak pandemi mereda. Bagi Yose Rizal Damuri, Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS), ini lebih dari sekadar angka, ini adalah sinyal bahaya bagi daya tahan ekonomi nasional.
Berbicara dalam forum Innovation Summit Southeast Asia 2025 di Jakarta, Yose menyampaikan keprihatinannya secara lugas. Ia menilai bahwa angka pertumbuhan di bawah 5 persen mencerminkan lemahnya fundamental ekonomi Indonesia, apalagi jika momentum penting seperti Ramadan dan Idulfitri pun gagal memberikan dorongan signifikan.
"Sebelum terjadi gejolak global, kita sudah punya momen Ramadan dan Lebaran. Tapi ternyata tetap lemah. Ini sinyal yang tidak baik," kata Yose, Selasa (6/5).
Ketahanan Ekonomi yang Kian Rapuh
Pernyataan Yose membawa ingatan kembali pada masa kejayaan ekonomi Indonesia saat mampu bertahan di tengah krisis global, seperti pada 2008 dan 2012. Saat itu, Indonesia dijuluki sebagai "Komodo Dragon" simbol ekonomi yang tangguh, tahan banting, dan berkulit tebal. Namun kini, julukan itu terasa makin jauh.
"Ekonomi kita sekarang tidak seperti dulu lagi. Daya tahannya menurun. 'Komodo ekonomi' kita kehilangan taringnya," ujarnya.
Yose menyoroti pelemahan daya beli masyarakat sebagai salah satu masalah utama. Bahkan saat konsumsi biasanya meningkat, seperti di bulan puasa dan masa mudik, pertumbuhan ekonomi justru melambat. Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi domestik, yang selama ini menjadi andalan pertumbuhan, tak lagi sekuat sebelumnya.
Tantangan Global dan Tekanan Domestik
Tekanan terhadap ekonomi Indonesia tak hanya datang dari dalam negeri. Yose menyebut kebijakan tarif impor tinggi yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump sebagai salah satu faktor eksternal yang memperburuk keadaan. Kebijakan ini ikut menyeret harga komoditas ekspor andalan Indonesia seperti batu bara dan kelapa sawit, yang pada akhirnya berdampak pada penerimaan negara.
"Kita masih sangat bergantung pada komoditas. Kalau harga jatuh, ekspor melemah, maka pertumbuhan ikut terkoreksi," tambahnya.
Tak hanya itu, dari sisi moneter, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga mengalami pelemahan. Kondisi ini memperbesar risiko pada neraca perdagangan dan mempersempit ruang fiskal untuk menjaga stabilitas harga serta menjaga konsumsi masyarakat.
Pertumbuhan Ekonomi Terkini: Terendah Sejak Pandemi
Sementara itu, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi kekhawatiran tersebut. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyatakan bahwa pertumbuhan 4,87 persen merupakan yang terendah sejak kuartal I 2021, saat ekonomi Indonesia terkontraksi 0,69 persen akibat pandemi Covid-19.
Amalia juga menambahkan bahwa tingginya pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2024 sempat terdongkrak oleh gelaran Pemilu, yang memicu lonjakan belanja domestik. Namun efek itu bersifat sementara dan tak berulang tahun ini.