Ekonom Dorong Pemerintah Tingkatkan Penerbitan Global Bond Demi Stabilkan Rupiah
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia mendesak pemerintah untuk memperbanyak penerbitan global bond guna membantu Bank Indonesia menstabilkan nilai tukar rupiah dan menjaga likuiditas dolar di dalam negeri, menciptakan ketahanan ekonomi.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, mendorong pemerintah untuk menerbitkan global bond dalam jumlah lebih besar. Langkah ini diharapkan dapat membantu Bank Indonesia (BI) menstabilkan nilai tukar rupiah. Ini juga bertujuan menjaga likuiditas dolar di dalam negeri.
Penerbitan global bond dinilai penting untuk melindungi ekonomi dari volatilitas jangka pendek yang perlu diantisipasi saat ini. Ini akan menambah suplai dolar dalam negeri dan menjaga likuiditas rupiah.
Fakhrul Fulvian menyampaikan pandangannya ini saat ditemui di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta, pada hari Rabu. Dorongan ini muncul di tengah kondisi pasar risk-off dan ketidakpastian global.
Pentingnya Penerbitan Global Bond untuk Stabilitas Ekonomi
Fakhrul Fulvian sangat berharap Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dapat menambah issuance global bond hingga 20 persen dari total funding pemerintah tahun ini. Peningkatan ini krusial untuk dukungan fiskal dan penambahan suplai dolar di dalam negeri.
Penerbitan global bond dalam jumlah besar akan menjaga likuiditas rupiah di dalam negeri sekaligus menambah likuiditas dolar dari pasar global. Strategi ini secara tidak langsung dapat membantu Bank Indonesia menstabilkan nilai tukar rupiah.
Ekonom tersebut menyarankan pemerintah untuk menerbitkan global bond lebih banyak, baik dalam dolar maupun renminbi, karena permintaannya masih tinggi. Langkah ini dipandang akan berdampak positif terhadap cadangan devisa Indonesia.
Strategi Menjaga Likuiditas Dolar Domestik
Fakhrul juga menyarankan agar penerbitan global bond dolar sebaiknya dilakukan di dalam negeri. Ini merujuk pada kasus obligasi korporasi di mana permintaan obligasi dolar AS dalam negeri tercatat tinggi.
Strategi ini dipandang dapat membantu menjaga dolar tetap berada di Indonesia dan tidak mengalir ke luar negeri. Pengelolaan neraca perdagangan yang menghasilkan masuknya banyak dolar harus dilakukan dengan baik.
Pemerintah perlu mengantisipasi potensi keluarnya dolar dari sistem keuangan domestik jika tidak dikelola dengan tepat. Hal ini menjadi perhatian utama untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Respons Bank Indonesia dan Proyeksi Rupiah
Bank Indonesia (BI) melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20-21 Januari 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75 persen. Keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan BI untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dari ketidakpastian global.
Fakhrul memandang langkah BI sudah tepat mengingat pelemahan rupiah yang terjadi belakangan ini hingga menyentuh level Rp16.900 per dolar AS. Pelemahan ini biasanya terjadi saat kondisi pasar risk-off, terutama ketika ketidakpastian di Amerika Serikat belum jelas.
Meskipun demikian, neraca perdagangan Indonesia cenderung surplus, yang menjadi penopang bagi rupiah. Fakhrul memperkirakan nilai tukar rupiah rata-rata pada tahun ini akan berada di kisaran Rp16.500 per dolar AS.
Rupiah kemungkinan bisa saja menembus level Rp17.000 per dolar AS, namun ia memandang hal ini hanya akan terjadi dalam jangka pendek dan tidak akan bertahan lama. BI juga tetap mencermati ruang penurunan suku bunga BI-Rate lebih lanjut.
Sumber: AntaraNews