DPR Pertanyakan Potensi Karier dan Kesehatan Mental PNS
Zulfikar menilai, baru soal fleksibilitas kerja yang kini mulai diterapkan di lingkup ASN.
Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Zulfikar Arse Sadikin mempertanyakan antusiasme generasi muda kelahiran 1997-2012 (Gen Z) yang masih besar untuk menjadi aparatur sipil negara (ASN) atau PNS.
Meskipun secara aturan, dia menyebut negara sudah menyesuaikan struktur kerja PNS dengan karakteristik Gen Z, yang kerap menuntut fleksibilitas kerja, pengembangan karier, digitalisasi skill, rekrutmen yang transparan dan fair, lingkungan kerja inklusif dan berintegritas, work-life balance, mental health, reformasi 4.0, hingga reformasi digital.
Tapi kenyataannya, Zulfikar menilai, baru soal fleksibilitas kerja yang kini mulai diterapkan di lingkup ASN. Dia pun menyebut PNS sebagai sebuah profesi yang kariernya bakal mentok.
"Tidak ada undang-undang yang tidak beri ruang bagi keinginan gen Z dan hadirnya hal-hal yang tadi saya sebutkan, ndak ada. Tapi yang jadi soal, kenyataannya ndak demikian. Yang benar-benar bisa dirasakan baru fleksibilitas kerja," ungkapnya, Sabtu (21/6).
"Kalau soal pengembangan karier, aduh, kita ini kerja tidak atas dasar karier. Masih belum lah," tegas Zulfikar.
Pasalnya, dia mencurigai aksi main belakang masih kental terjadi di lingkup pemerintahan. "Rekrutmen yang transparan dan fair, ini juga aduh. Sampai sekarang saya masih dengar, untuk jadi ASN bayar piro wani piro. Untuk jadi pejabat juga begitu, eselon IV-1," bebernya.
Lingkungan Kerja Inklusif dan Kesehatan Mental
Hal-hal lain yang juga dia anggap belum memenuhi standar, mulai dari lingkungan kerja inklusif dan berintegritas, hingga banyaknya ASN yang kesehatan mentalnya bermasalah.
"Lingkungan kerja inklusif dan berintegritas. Walaupun sudah ada zona integritas dari Kemenpan RB, itu belum lah," seru Zulfikar.
"Work-life balance dan mental health, banyak aparat negara terutama aparat pemerintah yang di birokrasi, ASN itu sakit, stres. Jadi dipertanyakan tuh kejiwaannya," imbuh dia.
Reformasi Birokrasi
Di sisi lain, dia juga menyinggung program reformasi birokrasi yang tengah dijalankan pemerintah. Alih-alin membuat cara kerja ASN lebih modern, itu justru menimbulkan persaingan lebih sengit antar instansi.
"Reformasi birokrasi, kita sudah banyak menggunakan teknologi, tapi terlalu banyak. Bahkan kelihatan berlomba-lomba. Masing-masing unit kerja punya aplikasi yang belum terintegrasi dengan baik," urainya.
Oleh karenanya, ia turut mempertanyakan Gen Z yang masih berambisi untuk jadi PNS. "Sehingga kalau Gen Z itu masih ingin dan peminatnya banyak di birokrasi, saya jadi bertanya," pungkas Zulfikar.