Distan Maluku Gencarkan Pengembangan Hotong Maluku, Pangan Alternatif Bernutrisi Tinggi
Dinas Pertanian Provinsi Maluku serius menggarap Hotong Maluku sebagai pangan alternatif lokal bernutrisi tinggi. Langkah ini bertujuan memperkuat kemandirian dan ketahanan pangan daerah serta mengurangi ketergantungan beras.
Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Maluku kini tengah gencar mengembangkan hotong sebagai pangan alternatif lokal yang kaya nutrisi. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya strategis untuk memperkuat kemandirian pangan serta ketahanan pangan di wilayah Maluku. Pengembangan hotong diharapkan dapat menjadi solusi berkelanjutan bagi kebutuhan pangan masyarakat setempat.
Kepala Dinas Pertanian Maluku, Ilham Tauda, di Ambon, pada Sabtu (28/2), menjelaskan bahwa pengembangan hotong merupakan tindak lanjut dari arahan Gubernur Maluku. Arahan tersebut berfokus pada maksimalisasi potensi pangan lokal asal Pulau Buru ini agar dapat dibudidayakan secara lebih luas di berbagai wilayah di Maluku. Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam mengoptimalkan sumber daya alam yang ada.
Pengembangan hotong seluas satu hektare ini menjadi salah satu strategi utama Pemerintah Provinsi Maluku dalam mendorong diversifikasi pangan berbasis potensi lokal. Selain itu, upaya ini juga bertujuan untuk secara bertahap mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap beras sebagai makanan pokok. Ilham Tauda menyampaikan hal ini saat panen hotong di Balai Benih Induk (BBI) Hortikultura Dusun Telaga Kodok, Desa Hitu.
Potensi Hotong Maluku sebagai Pangan Lokal Unggulan
Hotong Buru, yang secara ilmiah dikenal sebagai Setaria italica l beauv atau foxtail millet di kancah internasional, merupakan tanaman pangan lokal yang memiliki sejarah panjang di Maluku. Varietas ini telah resmi terdaftar di Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian sejak tahun 2011 dengan Nomor 37/pvl/2011, atas usulan Pemerintah Kabupaten Buru dengan nama Varietas Buru Hotong. Keberadaan Hotong Maluku ini menunjukkan kekayaan biodiversitas pangan lokal yang perlu dilestarikan dan dikembangkan.
Secara agronomis, Hotong Maluku menawarkan sejumlah keunggulan signifikan jika dibandingkan dengan komoditas pangan utama seperti beras dan gandum. Tanaman ini dikenal membutuhkan air yang relatif rendah, menjadikannya sangat tahan terhadap kondisi kekeringan. Kemampuannya untuk tumbuh di lahan marginal, bahkan tanah salin, serta kebutuhan pupuk yang lebih sedikit, menjadikannya pilihan yang efisien dan ramah lingkungan.
Keunggulan-keunggulan ini menjadikan Hotong Maluku sangat potensial untuk dikembangkan secara luas di Maluku. Wilayah ini memiliki karakteristik lahan yang beragam dan sebagian besar wilayahnya sering menghadapi keterbatasan air. Dengan demikian, hotong dapat menjadi jawaban atas tantangan pertanian di daerah tersebut, sekaligus mendukung ketahanan pangan lokal.
Strategi Diversifikasi Pangan dan Dukungan Pemerintah
Pengembangan Hotong Maluku dilakukan secara terintegrasi melalui beberapa tahapan kunci. Distan Maluku memastikan penyediaan benih unggul untuk petani, diikuti dengan pendampingan teknis budidaya yang komprehensif. Selain itu, pemanfaatan sarana prasarana pendukung, seperti pompa tenaga surya di lahan BBI Telaga Kodok, turut mendukung efisiensi pengairan, menunjukkan pendekatan modern dalam pertanian.
Langkah pengembangan Hotong Maluku ini juga menjadi bagian integral dari program besar diversifikasi komoditas yang digulirkan oleh Pemerintah Provinsi Maluku melalui Distan. Program ini sejalan dengan upaya peningkatan produksi hortikultura dan tanaman pangan lainnya di seluruh wilayah. Diversifikasi ini penting untuk mengurangi risiko kegagalan panen dan meningkatkan variasi sumber pangan masyarakat.
Komitmen Pemerintah Provinsi Maluku dalam mengoptimalkan lahan percontohan sebagai pusat inovasi dan edukasi pertanian bagi masyarakat sangat terlihat. Melalui pengembangan Hotong Maluku dan komoditas lainnya, pemerintah berupaya menciptakan model pertanian yang berkelanjutan dan adaptif terhadap kondisi lokal. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan pangan Maluku.
Inovasi Pertanian dan Harapan Masa Depan
Selain Hotong Maluku, sejumlah komoditas pertanian lainnya juga telah berhasil dikembangkan dan memasuki masa panen di lokasi yang sama. Contohnya adalah cabai yang dikembangkan melalui program digital farming, serta jagung pulut yang dibudidayakan pada kebun percontohan PKK Provinsi Maluku. Keberhasilan ini menunjukkan potensi besar inovasi dalam sektor pertanian daerah.
Pengembangan berbagai komoditas ini secara jelas menunjukkan komitmen Pemerintah Provinsi Maluku dalam memaksimalkan lahan percontohan. Lahan ini berfungsi sebagai pusat inovasi dan edukasi pertanian yang vital bagi masyarakat. Ini adalah upaya nyata untuk mentransfer pengetahuan dan teknologi kepada petani lokal, sehingga mereka dapat mengadopsi praktik pertanian yang lebih baik.
Ilham Tauda berharap Hotong Maluku dapat diterima lebih luas oleh masyarakat sebagai sumber karbohidrat alternatif yang sehat dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Penerimaan ini tidak hanya akan memperkuat ketahanan pangan berbasis potensi lokal di Maluku, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi petani. Hotong Maluku diharapkan menjadi bagian penting dari diet masyarakat dan ekonomi daerah.
Sumber: AntaraNews