Cuma 6 Bulan! BTN Optimis Dana Rp25 Triliun Pemerintah Terserap Penuh Akhir Tahun Ini
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) yakin Dana Rp25 Triliun dari pemerintah akan terserap habis akhir tahun ini. Bagaimana strategi BTN untuk mempercepat penyaluran kredit?
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) memproyeksikan penyerapan penuh tambahan likuiditas sebesar Rp25 triliun dari pemerintah pada akhir tahun ini. Dana segar tersebut diharapkan dapat terserap habis seiring dengan tingginya permintaan kredit di sektor perumahan.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menyatakan bahwa perseroan telah menyiapkan berbagai langkah strategis untuk mengoptimalkan penyerapan dana ini. Injeksi likuiditas ini juga diharapkan dapat mengatasi ketatnya persaingan antar bank dalam memperoleh pendanaan berbiaya murah.
Pemerintah melalui Kementerian Keuangan sebelumnya telah menyalurkan total Rp200 triliun ke lima bank milik negara, dengan alokasi Rp25 triliun untuk BTN. Dana ini bertujuan untuk menggairahkan perekonomian melalui penyaluran kredit ke sektor riil.
Strategi Penyerapan Dana Cepat
Nixon LP Napitupulu menjelaskan bahwa langkah pemerintah ini telah mengubah fokus persaingan di industri perbankan. "Langkah pemerintah ini telah memindahkan persaingan di likuiditas menjadi persaingan di kredit, karena dengan adanya tambahan dana Rp25 triliun, likuiditas tidak menjadi masalah lagi bagi BTN, setidaknya dalam waktu 6 bulan. Saya perkirakan Desember (tahun ini) sudah habis terserap,” kata Nixon.
Perkiraan penyerapan dana yang cepat ini didasarkan pada rata-rata penyaluran kredit bulanan BTN yang mencapai sekitar Rp6-7 triliun. Angka ini mencakup layanan ekosistem perumahan yang luas serta kredit non-perumahan yang juga menjadi motor realisasi pembiayaan BTN.
BTN memiliki pipeline kredit yang signifikan, bahkan mencapai lebih dari Rp30 triliun. Dengan adanya tambahan likuiditas ini, masalah pendanaan untuk merealisasikan pipeline tersebut dapat teratasi dengan cepat, mencegah nasabah beralih ke bank lain.
Dampak Positif Injeksi Likuiditas
Injeksi likuiditas sebesar Rp25 triliun ini memiliki kemiripan dengan Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) saat pandemi COVID-19. Kala itu, dana pemerintah ditempatkan di bank-bank BUMN untuk mempercepat pemulihan ekonomi.
Nixon mengingat, pada Program PEN, BTN mendapatkan penempatan dana pemerintah sebesar Rp10 triliun yang berhasil dikembalikan setelah dua tahun seiring pulihnya ekonomi. Dalam konteks saat ini, tambahan likuiditas Rp25 triliun sangat membantu BTN mempercepat realisasi pipeline kredit yang belum diakadkan.
“Demand-nya justru sangat ada di BTN, pipeline (kredit) di kami sebenarnya Rp30 triliun lebih. Dengan adanya tambahan likuiditas ini, masalahnya sudah selesai dan yang sudah ada di pipeline jadinya cepat diberi keputusan agar tidak pindah ke bank lain,” ujarnya.
Menurunkan Biaya Dana dan Profitabilitas
Tambahan likuiditas Rp25 triliun juga memberikan dorongan bagi BTN untuk terus menurunkan biaya dana (cost of fund). Hal ini menjadi semakin relevan setelah Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan sejak tahun lalu.
Sebagai langkah konkret, BTN telah merespons cepat dengan menurunkan bunga deposito special rate. "Waktu Jumat (12/9) diputuskan oleh pemerintah, Senin (15/9) kami memutuskan untuk menurunkan bunga special rate deposito 50 bps. Dana Rp25 triliun membantu BTN menurunkan suku bunga dana mahal dan kami akan memastikan special rate akan terus turun hingga akhir tahun,” jelas Nixon.
Langkah penurunan biaya dana ini diharapkan berdampak positif pada profitabilitas BTN, yang akan tercermin pada peningkatan margin bunga bersih (NIM) perseroan. Tren penurunan biaya dana BTN sebelumnya telah berkontribusi pada peningkatan NIM sebesar 139 bps, mencapai 4,4 persen hingga semester I 2025.
Sumber: AntaraNews