BPH Migas Intensifkan Pemulihan Distribusi BBM di Daerah Terdampak Bencana Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat
BPH Migas terus memulihkan distribusi BBM di daerah terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, memastikan ketersediaan energi vital untuk penanganan darurat.
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) secara aktif melakukan pemulihan distribusi bahan bakar minyak (BBM) di wilayah-wilayah yang terdampak bencana. Upaya ini difokuskan di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, menyusul berbagai kejadian alam yang mengganggu akses dan pasokan energi. Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, menegaskan bahwa ketersediaan dan kelancaran distribusi BBM menjadi prioritas utama pemerintah dalam penanganan pascabencana.
Pemerintah juga telah memberikan keringanan khusus untuk pembelian Jenis BBM Tertentu (JBT) minyak solar dan Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) Pertalite. Kebijakan ini diterapkan di daerah-daerah yang dilanda bencana, bertujuan untuk mempercepat respons darurat dan pemulihan infrastruktur. Keringanan ini krusial untuk mendukung berbagai aktivitas penanganan bencana, mulai dari pembukaan akses jalan, proses evakuasi korban, hingga distribusi logistik penting kepada masyarakat.
Menurut Wahyudi Anas, prioritas penanganan di wilayah bencana mencakup pemulihan ketersediaan energi seperti BBM. Hingga Kamis (4/12), stok BBM di wilayah Marketing Operation Region (MOR I) yang meliputi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Riau dilaporkan dalam kondisi cukup. Data per 5 Desember 2025 menunjukkan bahwa dari 75 SPBU yang terdampak di Aceh dan Sumatera Utara, 48 SPBU telah berangsur mulai beroperasi, sementara 27 SPBU lainnya masih dalam proses pemulihan.
Upaya Pemulihan Distribusi BBM di Aceh dan Sumatera Utara
Untuk memastikan kelancaran distribusi BBM di wilayah Aceh, BPH Migas menerapkan skema alternative and emergency (AE) supply. Wilayah seperti Pidie Jaya, Pidie, dan Bireun yang sebelumnya disuplai dari Fuel Terminal (FT) Lhokseumawe, kini dialihkan ke FT Krueng Raya. Pengalihan ini dilakukan karena jalur distribusi utama terputus akibat banjir, sehingga pasokan tetap dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
Selain itu, BPH Migas bersama PT Pertamina Patra Niaga juga aktif memetakan SPBU prioritas untuk memastikan pasokan BBM tidak terputus secara bersamaan di wilayah yang berdekatan. Koordinasi erat dengan aparat penegak hukum (APH) juga dilakukan untuk mengamankan antrean di SPBU, mencegah penimbunan, dan menjaga ketertiban. "Dilakukan penyiapan modular di wilayah yang masih terisolir, juga menyiapkan mobil tangki yang siaga di SPBU terdekat yang tidak terdampak untuk terus melayani kebutuhan BBM di lokasi," ujar Wahyudi.
Di Provinsi Sumatera Utara, mitigasi dan tindak lanjut yang dilakukan mencakup skema AE supply untuk FT Medan dari berbagai sumber, termasuk FT Lhokseumawe, Integrated Terminal (IT) Dumai, FT Siantar, dan FT Kisaran. Penambahan mobil tangki dari Dumai juga dilakukan untuk melayani wilayah selatan dan utara Sibolga, seperti Tapanuli Selatan, Kota Padangsidempuan, Mandailing Natal, Kabupaten Padang Lawas Utara, Padang Lawas, Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, dan Tapanuli Utara.
Untuk wilayah Sibolga dan Tapanuli Tengah yang masih terisolir, BPH Migas melakukan emergency supply ke Sitoli dari Teluk Kabung menggunakan kapal. Langkah ini juga melibatkan pemberian BBM kepada pemerintah daerah dan aparat penegak hukum untuk kendaraan alat berat serta transportasi penanggulangan bencana. Penambahan mobil tangki dan awak mobil tangki juga menjadi bagian dari strategi untuk mempercepat pemulihan distribusi BBM di wilayah ini.
Langkah Strategis di Sumatera Barat dan Peningkatan Kapasitas
Provinsi Sumatera Barat tidak mengalami dampak langsung pada SPBU-nya, namun langkah-langkah proaktif tetap dilakukan untuk mendukung distribusi BBM. Skema regular, alternative, and emergency (RAE) supply diterapkan dari FT Siak ke lima SPBU di wilayah Lima Puluh Kota, serta dari IT Teluk Kabung. Ini memastikan pasokan BBM tetap stabil dan siap menghadapi potensi gangguan di masa mendatang.
BPH Migas juga terus melakukan pemetaan SPBU prioritas dan meningkatkan koordinasi dengan Pertamina Patra Niaga serta aparat penegak hukum untuk pengamanan di SPBU. Hal ini penting untuk menjaga stabilitas pasokan dan mencegah kepanikan di tengah masyarakat. Upaya ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga ketersediaan energi di seluruh wilayah, terutama saat kondisi darurat.
Dalam rangka peningkatan kapasitas, Wahyudi menambahkan bahwa telah dilakukan penambahan mobil tangki dan awak mobil tangki sebanyak 17 unit, masing-masing berkapasitas 16 kiloliter (kl). Selain itu, optimalisasi mobil tangki berkapasitas 8 kl juga dilakukan di wilayah Kabupaten Pasaman. Langkah-langkah ini bertujuan untuk memperkuat armada distribusi dan memastikan BBM dapat menjangkau daerah-daerah terpencil dengan lebih efisien.
Sumber: AntaraNews