BPH Migas: Pemanfaatan Gas Bumi Jawa Timur Optimal untuk Industri dan Transisi Energi
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menyatakan pasokan gas bumi di Jawa Timur dan Jawa Tengah termanfaatkan secara optimal, menjamin kebutuhan energi bagi sektor industri dan masyarakat serta mendukung transisi energi nasional.
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) baru-baru ini menyatakan bahwa pasokan gas bumi di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah telah dimanfaatkan secara optimal. Pernyataan ini disampaikan untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan energi bagi sektor industri dan masyarakat. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong pemanfaatan gas bumi sebagai tulang punggung transisi energi nasional.
Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, menjelaskan bahwa kestabilan produksi gas bumi dan keandalan penyalurannya menjadi kunci utama. Integrasi sektor hulu dan hilir industri minyak dan gas bumi dinilai penting dalam penyediaan serta distribusi energi nasional. Keterangan ini disampaikan dalam kunjungan kerja spesifik Komisi XII DPR yang membahas keberlanjutan pasokan migas di Surabaya, Jawa Timur, Jumat lalu.
Wahyudi menekankan pentingnya integrasi antara produksi gas bumi dari hulu dan pemanfaatannya di sektor hilir. Laporan terkini dari BPH Migas menunjukkan pemanfaatan gas bumi dalam negeri, khususnya di Jawa Timur, berada pada tingkat yang sangat baik. Realisasi penyaluran gas bumi di wilayah ini bahkan tercatat mencapai 440,33 BBTUD pada akhir tahun 2025.
Sumber Pasokan dan Optimalisasi Pemanfaatan Gas Bumi Jawa Timur
Pasokan gas bumi di Jawa Timur berasal dari beberapa sumber utama yang vital bagi ketahanan energi regional. Lapangan Jambaran Tiung Biru (JTB) dan Banyu Urip, yang dioperasikan oleh PT Pertamina EP Cepu, serta Blok Cepu yang dikelola ExxonMobil Cepu Limited, merupakan kontributor utama. Total suplai dari sumber-sumber ini mencapai 172 billion British thermal unit per day (BBTUD), menunjukkan kapasitas produksi yang signifikan.
Wahyudi Anas menegaskan bahwa keandalan gas bumi di Jawa Timur mencakup seluruh rantai proses, mulai dari produksi hingga distribusi. Gas bumi ini disalurkan ke berbagai sektor pengguna, termasuk rumah tangga, pelanggan kecil, UMKM, komersial, hingga industri. Tingginya tingkat pemanfaatan gas bumi di wilayah tersebut tercermin dari realisasi penyaluran yang mencapai 440,33 BBTUD pada akhir tahun 2025.
BPH Migas secara aktif mengedepankan integrasi untuk menjaga kestabilan produksi gas di Jawa Timur. Hal ini memastikan utilitas dan keandalan pasokan sangat terjamin, sehingga tidak terjadi gangguan pada konsumen pengguna. Terutama bagi mereka yang saat ini memanfaatkan sumber tunggal dari gas bumi, jaminan pasokan menjadi krusial.
Peran Infrastruktur Pipa Transmisi dalam Distribusi Gas Nasional
Integrasi produksi gas bumi sektor hulu dan pemanfaatan di sisi hilir telah didukung oleh pembangunan infrastruktur pipa transmisi yang memadai. Kapasitas utilisasi pipa ini masih dapat terus dioptimalkan, membuka peluang untuk mendorong peningkatan produksi gas bumi di masa mendatang. Optimalisasi ini menjadi kunci dalam efisiensi distribusi energi.
Pipa transmisi gas bumi di Pulau Jawa telah terintegrasi dengan baik, menghubungkan berbagai wilayah penting. Optimalisasi dari utilisasi produk gas, baik yang saat ini diproduksi di Jawa Timur maupun Jawa Tengah, dapat dikembangkan melalui jaringan pipa transmisi dan distribusi ini. Hal ini memastikan konsumen, baik di Jawa Timur maupun daerah lain, siap menyerap pasokan gas.
Pemanfaatan gas bumi untuk jaringan gas bumi perlu diperluas, terutama di sepanjang ruas pipa transmisi yang terintegrasi. Jalur seperti Pagerungan, Gresik, Semarang, Batang, dan pasca-mengalirnya gas bumi dari proyek Cirebon-Semarang (Cisem) tahap II dari Batang menuju Cirebon, memiliki potensi besar. Perluasan ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada LPG yang masih didominasi impor.
Dukungan Parlemen dan SKK Migas untuk Ketahanan Energi Nasional
Wakil Ketua Komisi XII DPR, Sugeng Suparwoto, menggarisbawahi peran penting pasokan dari Lapangan Banyu Urip dan JTB terhadap suplai energi nasional. Ia menekankan perlunya memastikan sektor hulu terus berproduksi dengan baik untuk menjaga ketahanan energi. Untuk JTB, target produksi gas pada tahun 2026 ke atas diperkirakan mencapai sekitar 192 million standard cubic feet per day (MMSCFD).
Sugeng juga menambahkan bahwa inovasi teknologi seperti Enhanced Oil Recovery (EOR) memiliki potensi besar untuk meningkatkan produksi migas nasional. Peningkatan produksi ini sangat penting untuk mendukung target swasembada energi Indonesia di masa depan. Upaya ini menunjukkan komitmen parlemen dalam mendukung sektor energi.
Sekretaris Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu (SKK) Migas, Luky Yusgiantoro, menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor. Kolaborasi ini esensial untuk menjaga ketahanan energi dan mencapai target swasembada energi pada tahun 2030. Kunjungan kerja Komisi XII DPR ini menjadi ruang dialog penting antara parlemen dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) untuk meningkatkan lifting migas di Indonesia.
Sumber: AntaraNews