Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) terus menggalakkan pemanfaatan gas bumi di Indonesia. Hal ini dilakukan dalam upaya memperkuat ketahanan energi nasional. Gas bumi dinilai sebagai sumber energi yang bersih dan efisien.
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas menyampaikan bahwa penggunaan gas bumi dapat menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Pemanfaatan energi ini juga ramah lingkungan.
Perluasan jaringan gas (jargas) dan penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) diharapkan mampu menekan ketergantungan pada Liquified Petroleum Gas (LPG). Langkah ini krusial untuk kemandirian energi.
Advertisement
Advertisement
BPH Migas memiliki rekam jejak yang kuat dalam pengaturan dan pengawasan pengangkutan gas bumi melalui pipa. Lembaga ini memastikan operasional berjalan sesuai regulasi. Penguatan tata kelola niaga gas bumi terus dioptimalkan.
Hal ini dilakukan agar distribusi dan pelayanan gas bumi semakin transparan, akuntabel, serta tepat sasaran. Wahyudi Anas menegaskan komitmen tersebut saat mengunjungi pelanggan jargas di Medan.
Kunjungan tersebut merupakan langkah nyata BPH Migas dalam mitigasi proses bisnis PGN, khususnya di wilayah Sales and Operation Region (SOR) 1. Tujuannya untuk menjamin keberlanjutan pasokan energi nasional.
Advertisement
Area layanan PGN SOR 1 mencakup beberapa kota besar seperti Dumai, Pekanbaru, Medan, Batam, Palembang, dan Lampung. Hingga Januari 2026, penyaluran gas bumi di wilayah ini mencapai 140,46 BBTUD.
Advertisement
Di area Medan 1, pasokan gas bumi berasal dari berbagai sumber, termasuk PT Pertamina Hulu Energi, PT Pema Global Energi, dan PT Pertamina Perta Arun Gas. Penyaluran dilakukan melalui pipa dan moda CNG.
Sektor masyarakat telah merasakan manfaat signifikan dari penggunaan gas bumi. Pelanggan jaringan gas bumi (jargas) di wilayah SOR 1 telah mencapai 134.198 pelanggan.
Penggunaan moda CNG juga menjadi penopang keberlangsungan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pemanfaatan CNG terbukti jauh lebih efisien, dengan penghematan mencapai 30 hingga 35 persen.
Advertisement
Sebagai contoh, sebuah UMKM Nasi Kebuli di Medan mampu menekan biaya operasional gasnya hingga Rp9 juta per bulan. Dari sebelumnya menghabiskan Rp35-Rp36 juta dengan LPG nonsubsidi, kini hanya Rp26 juta setelah beralih ke CNG.
Advertisement
Wahyudi Anas menjelaskan bahwa pengembangan jaringan gas bumi secara masif merupakan bagian dari strategi pemerintah. Ini bertujuan untuk mengurangi beban subsidi dan impor LPG.
Peningkatan pemanfaatan gas bumi nasional harus terus didorong untuk mewujudkan swasembada energi. Ini adalah langkah penting menuju kemandirian energi dalam negeri yang berkelanjutan.
Manfaat jargas juga dirasakan langsung oleh pelanggan rumah tangga. Barorah Syahbilal Siregar (59) di Medan Sunggal mengaku pengeluarannya lebih hemat sekitar Rp100 ribu per bulan dibandingkan memakai gas tabung.
Advertisement
Pelanggan lain, Herdi Fahrizal Lubis (50), yang telah menggunakan jargas sejak 2016, merasakan keamanan dan harga yang lebih murah dibandingkan LPG nonsubsidi. Direktur Komersial PGN Aldiansyah Idham menegaskan performa positif infrastruktur dan layanan pelanggan SOR I.
Sumber: AntaraNews