Kuota Minyak Tanah Papua Barat 2026 Bertambah, Pertamina Jamin Pasokan Energi
Pertamina Patra Niaga menambah kuota minyak tanah bersubsidi untuk Papua Barat di tahun 2026, menjamin ketersediaan energi rumah tangga di tengah tingginya konsumsi Kuota Minyak Tanah Papua Barat.
PT Pertamina Patra Niaga mengumumkan penambahan kuota minyak tanah bersubsidi untuk tujuh kabupaten di Provinsi Papua Barat pada tahun 2026. Penambahan ini bertujuan menjaga stabilitas pasokan energi rumah tangga di wilayah tersebut.
Total alokasi komoditas energi ini kini mencapai 27.182 kiloliter (Kl), meningkat signifikan dari alokasi sebelumnya. Keputusan ini diambil mengingat tingginya tingkat konsumsi minyak tanah di Papua Barat.
Sales Branch Manager Pertamina Patra Niaga Papua Barat, Ahmad Sofyan Halim, menjelaskan bahwa konsumsi minyak tanah mencapai 95 persen. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan liquified petroleum gas (LPG) yang hanya sekitar 5 persen.
Peningkatan Alokasi dan Alasan Pertamina
Penambahan kuota minyak tanah bersubsidi sebanyak 2.066 kiloliter ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan energi. Hal ini menyusul tingginya kebutuhan masyarakat akan bahan bakar tersebut.
Menurut Ahmad Sofyan Halim, tingkat konsumsi minyak tanah di Papua Barat mencapai 95 persen dari total kebutuhan energi rumah tangga. Ini menunjukkan dominasi minyak tanah sebagai sumber energi utama.
Sementara itu, penggunaan LPG masih sangat minim, hanya sekitar 5 persen dari total konsumsi. Kondisi ini menjadi dasar Pertamina untuk menambah alokasi Kuota Minyak Tanah Papua Barat.
Rincian Distribusi Kuota Minyak Tanah di Tujuh Kabupaten
Distribusi kuota minyak tanah bersubsidi ini tersebar di tujuh kabupaten di Papua Barat. Manokwari menerima alokasi terbesar, yakni 11.469 kiloliter.
Disusul oleh Fakfak dengan 5.908 kiloliter dan Teluk Bintuni sebanyak 3.626 kiloliter. Kaimana mendapatkan 2.800 kiloliter untuk kebutuhan masyarakatnya.
Kabupaten Manokwari Selatan dialokasikan 1.429 kiloliter, sementara Teluk Wondama memperoleh 1.274 kiloliter. Pegunungan Arfak mendapatkan 676 kiloliter dari total Kuota Minyak Tanah Papua Barat.
Prognosa Realisasi dan Mitigasi Kelangkaan Energi
Realisasi penyaluran minyak tanah bersubsidi dari Januari hingga April 2026 telah mencapai 7.898 kiloliter. Angka ini setara dengan 29 persen dari total kuota yang dialokasikan oleh Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas).
Sofyan menyatakan bahwa jika tingkat konsumsi tetap stabil, prognosa realisasi sepanjang tahun 2026 akan mencapai 92 persen. Ini menunjukkan bahwa stok minyak tanah di Papua Barat diperkirakan masih surplus.
Pertamina juga telah menyiapkan skenario mitigasi untuk mengantisipasi kelangkaan LPG. Hal ini terkait dengan ketegangan geopolitik global yang mungkin mempengaruhi pasokan energi.
Skenario ini mencakup peralihan sementara konsumsi energi rumah tangga ke minyak tanah. Fokus utama mitigasi berada di wilayah dengan konsumsi tertinggi seperti Manokwari, Fakfak, dan Teluk Bintuni.
Prognosa mitigasi peralihan untuk tiga bulan ke depan diperkirakan mencapai 421 kiloliter. Langkah ini diambil untuk menjamin ketersediaan energi dalam kondisi darurat.
Sumber: AntaraNews