BI Malang Ingatkan Pemkot Intensif Pantau Stok Cabai Rawit Jelang Lebaran 2026
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang (KPwBI Malang) mendesak Pemerintah Kota Malang untuk mengintensifkan pemantauan stok cabai rawit guna mengantisipasi lonjakan harga menjelang Lebaran 2026.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang (KPwBI Malang) mengingatkan Pemerintah Kota (Pemkot) Malang agar mengintensifkan pemantauan stok cabai rawit di pasar. Langkah ini diambil guna mengantisipasi potensi lonjakan harga komoditas tersebut menjelang perayaan Lebaran 2026.
Deputi Kepala Perwakilan BI Malang, Dedy Prasetyo, menjelaskan bahwa pemantauan menjadi strategi kunci. Hal ini untuk memitigasi risiko berkurangnya stok cabai rawit yang dapat memicu peningkatan harga secara signifikan.
Dedy menekankan pentingnya melakukan inspeksi mendadak (sidak) pasar. Tujuannya adalah memastikan ketersediaan barang, khususnya cabai rawit, tidak mengalami kelangkaan dan pasokan tetap lancar.
Inflasi dan Kenaikan Harga Cabai Rawit di Malang
Upaya pengetatan pemantauan stok cabai rawit ini sejalan dengan rilis data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang. Data tersebut menunjukkan inflasi di wilayah setempat mencapai 0,74 persen (month to month/mtm) pada Februari 2026.
Salah satu penyebab utama inflasi tersebut adalah kenaikan harga cabai rawit yang cukup drastis. Catatan BPS Kota Malang menunjukkan harga cabai rawit melonjak sebesar 84,32 persen.
Kenaikan harga cabai rawit ini memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,20 persen. Lonjakan harga ini disebabkan oleh tingginya permintaan masyarakat saat awal Ramadhan.
Tren peningkatan harga ini perlu menjadi perhatian serius bagi Pemkot Malang. Tujuannya agar kondisi serupa tidak terulang atau dapat diminimalkan menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah/2026 Masehi.
Strategi Stabilisasi Harga dan Operasi Pasar
Dedy Prasetyo menegaskan bahwa suplai cabai rawit harus segera ditambah untuk menstabilkan harga. Penambahan pasokan merupakan langkah fundamental dalam mengatasi kelangkaan.
Jika ke depan harga cabai rawit kembali ditemukan meningkat, Dedy meminta Pemkot Malang untuk segera menerapkan skema operasi pasar. Tindakan ini tidak boleh ditunda-tunda demi menjaga daya beli masyarakat.
Operasi pasar yang dilakukan harus tepat sasaran, baik dari segi lokasi maupun komoditasnya. Hal ini penting agar solusi yang diberikan benar-benar menjawab persoalan kenaikan harga cabai rawit.
Selain itu, Dedy juga mendukung rencana Wali Kota Malang Wahyu Hidayat untuk kembali mengaktifkan warung tekan inflasi (WTI) di pasar. WTI ini secara spesifik akan menyasar komoditas cabai rawit.
Gerakan Pangan Murah (GPM) untuk Komoditas Lain
Untuk komoditas lain yang mungkin mengalami kenaikan harga, Dedy menyebutkan bahwa Gerakan Pangan Murah (GPM) bisa menjadi solusi. GPM telah diagendakan sebanyak 34 kali selama Ramadhan.
Langkah-langkah komprehensif ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam mengendalikan inflasi. Kolaborasi antara BI Malang, Pemkot Malang, dan BPS Kota Malang menjadi kunci.
Sinergi antar lembaga diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi daerah. Khususnya dalam menghadapi fluktuasi harga komoditas pangan menjelang hari besar keagamaan.
Sumber: AntaraNews